SpaceX kembali menjadi sorotan bukan hanya karena pencapaiannya, tetapi juga karena ambisi yang terdengar seperti fiksi ilmiah. Perusahaan milik Elon Musk itu berbicara tentang koloni di Mars, pusat data AI di orbit, dan roket yang bisa digunakan berulang dengan cepat, namun sejumlah pakar menilai target-target itu terlalu jauh dari kenyataan, terutama jika melihat jadwal yang dipasang.
Keraguan itu muncul justru ketika SpaceX disebut sedang memasuki debut pasar publik yang memecahkan rekor. Di satu sisi, perusahaan ini memang telah mencatat lompatan besar sejak berdiri lebih dari dua dekade lalu, tetapi di sisi lain para skeptis menilai keberhasilan teknis tidak otomatis berarti semua visi besar Musk bisa dicapai sesuai rencana.
Prestasi nyata, tetapi target berikutnya jauh lebih berat
Salah satu pencapaian paling penting SpaceX adalah pengembangan roket yang sebagian dapat digunakan kembali. Teknologi itu sempat dianggap mustahil, tetapi kini memungkinkan SpaceX melakukan lebih banyak peluncuran daripada semua penyedia lain digabungkan.
Robert Zubrin, insinyur sekaligus presiden Mars Society, mengakui pencapaian tersebut bukan ilusi. Ia mengatakan SpaceX telah meraih banyak hal yang benar-benar nyata, namun ia juga menilai Musk kerap membuat klaim yang tidak realistis dan terus menggeser tenggat waktu.
Skeptisisme paling tajam datang saat pembicaraan beralih ke Mars. Banyak ahli percaya manusia pada akhirnya akan tiba di Mars dalam hidup mereka, tetapi gagasan membangun koloni berpenghuni massal dinilai akan memerlukan waktu jauh lebih lama, bahkan mungkin tidak terwujud sama sekali.
Christian Bach, kepala divisi transportasi antariksa di Technical University of Dresden, menyebut gagasan itu sama sekali tidak realistis. Ia menilai bahkan menetapkan beberapa orang saja di Planet Merah masih kecil kemungkinannya terjadi pada abad ini karena tantangan teknologi dan biologis yang belum terpecahkan.
Starship belum cukup untuk menembus semua hambatan
Musk dan SpaceX mengandalkan roket baru mereka, Starship, untuk menempuh perjalanan pulang pergi ke Mars yang memakan waktu sekitar tiga tahun. Namun Scott Hubbard, mantan pejabat senior NASA, menegaskan bahwa keberhasilan peluncuran Starship saja tidak cukup untuk membuka jalan ke Mars.
Menurut Hubbard, astronot juga membutuhkan sistem penunjang kehidupan baru, termasuk daur ulang oksigen dan air. Ia menilai SpaceX tidak bisa melakukannya sendirian dan NASA pada akhirnya harus ikut terlibat jika proyek itu ingin benar-benar menjadi kenyataan.
Hubbard juga menyoroti rencana pengisian bahan bakar di orbit sebagai hambatan besar lain. Skema itu mengharuskan beberapa roket diluncurkan sekaligus, satu membawa kru atau kargo dan yang lain membawa tangki oksigen cair dan metana cair untuk dipindahkan lewat sambungan khusus.
Kemampuan itu, kata Hubbard, sangat penting bagi rencana SpaceX dan belum pernah dilakukan sebelumnya. Ia menambahkan bahwa SpaceX memang memiliki insinyur yang sangat baik, sehingga persoalan teknis mungkin bisa dipecahkan, tetapi masalah utamanya tetap ada pada jadwal.
Ambisi orbit dan ekonomi yang belum masuk hitungan
Selain Mars, SpaceX juga menggarap proyek besar lain, termasuk Starship yang dimodifikasi untuk menjadi pendarat bulan bagi program Artemis NASA. Perusahaan itu juga sedang mengembangkan konstelasi satelit baru untuk pusat data AI orbital.
Ide memindahkan pusat data AI yang boros energi ke luar angkasa terdengar menarik bagi sebagian orang, tetapi banyak pakar tetap ragu. Kathleen Curlee, analis antariksa di Georgetown University, mengatakan bahwa meski semua tantangan teknis bisa diatasi, aspek ekonominya masih belum masuk akal saat ini.
Zubrin bahkan lebih keras. Ia menyebut gagasan pusat data AI di ruang angkasa sebagai fiksi, lalu menyindir bahwa jika sebuah perusahaan unggul membangun kapal laut, bukan berarti tempat terbaik untuk AI adalah di tengah laut.
Di tengah semua keraguan itu, SpaceX tetap memiliki modal besar untuk melanjutkan proyek-proyeknya berkat masuknya dana yang belum pernah terjadi sebelumnya dari IPO perusahaan. Namun uang besar tidak otomatis menghapus risiko operasional, apalagi setelah pesaing seperti Blue Origin mengalami ledakan besar di landasan peluncuran yang menunjukkan industri ini masih rawan kejutan.
Zubrin mengaitkan potensi kegagalan Musk dengan kampanye Napoleon Bonaparte yang gagal di Rusia. Menurutnya, jika Musk suatu saat jatuh, itu bisa terjadi karena terlalu sering berhasil di masa lalu hingga tidak ada yang bisa meyakinkannya bahwa ia keliru.







