Coati Hidung Putih Ternyata Aktif Di Siang Hari, Ini Alasan Yang Bikin Mereka Unik

Coati hidung putih mungkin belum seterkenal rakun, tetapi hewan ini menyimpan sejumlah fakta unik yang membuatnya menonjol di keluarga Procyonidae. Spesies bernama ilmiah Nasua narica ini hidup di wilayah yang sangat luas dan punya peran penting di alam sebagai penyerbuk.

Keunikan coati hidung putih tidak hanya terletak pada bentuk hidungnya yang khas. Hewan arboreal ini juga menunjukkan perilaku aktif di siang hari, pola hidup sosial yang menarik, dan kemampuan beradaptasi yang tinggi di berbagai habitat.

Sebaran luas dari utara hingga selatan Amerika

Coati hidung putih menghuni Amerika utara, tengah, hingga selatan. Wilayah sebarannya membentang dari Negara Bagian New Meksiko di Amerika Serikat sampai Kolombia utara di Amerika Selatan.

Kemampuan hidupnya juga tergolong fleksibel. Hewan ini dapat bertahan di gurun, area kering, hutan, hingga dataran tinggi.

Adaptasi itu membuat coati hidung putih dikenal lincah, gesit, dan ahli memanjat. Hewan ini juga kerap terlihat berkelana sendirian saat mencari makan.

Bentuk tubuhnya mudah dikenali

Ciri paling menonjol coati hidung putih ada pada bagian kepala. Moncongnya panjang, hidungnya mengotak, dan berwarna putih, sesuai dengan namanya.

Kepalanya ramping dengan telinga kecil membulat dan mata kecil berwarna hitam. Panjang tubuhnya berkisar 43-66 centimeter, sementara ekornya bisa mencapai 68 centimeter.

Bobotnya bervariasi, tetapi individu berukuran besar dapat mencapai 7 kilogram. Bulu tubuhnya pun tidak seragam karena memadukan warna putih, cokelat, abu-abu, dan hitam.

Aktif di siang hari, berbeda dari banyak kerabatnya

Coati hidung putih termasuk hewan diurnal, artinya aktif pada siang hari. Ini berbeda dari banyak anggota Procyonidae lain yang cenderung nokturnal dan aktif pada malam hari.

Di siang hari, coati hidung putih bisa berjalan di daratan, memanjat pohon, atau beristirahat di semak-semak. Saat beraktivitas, ia mencari makanan berupa ular, telur, serangga, hingga bangkai hewan.

Dalam sehari, hewan ini dapat berkelana hingga jarak 2000 meter. Pola jelajah itu menunjukkan bahwa coati hidung putih punya mobilitas tinggi dalam mencari sumber makanannya.

Punya peran penting sebagai penyerbuk

Salah satu fakta paling menarik dari coati hidung putih adalah perannya sebagai penyerbuk alami pohon balsa. Peran ini terutama terlihat pada populasi yang hidup di wilayah Kosta Rika.

Prosesnya terjadi saat coati hidung putih memasukkan moncongnya ke bunga untuk mengambil nektar. Serbuk sari kemudian menempel di moncongnya dan berpindah ke bunga lain ketika ia kembali mencari nektar.

Interaksi itu membantu pertumbuhan pohon balsa. Hubungan tersebut juga menunjukkan adanya simbiosis mutualisme antara coati hidung putih dan tanaman yang diserbukinya.

Hidup sosial, terutama pada betina

Pola sosial coati hidung putih juga menarik untuk diamati. Individu jantan cenderung hidup soliter, sementara betina dan anak-anaknya hidup berkelompok.

Satu kelompok bisa berisi 4-20 individu. Di dalam kelompok itu, coati hidung putih dikenal vokal dan sering bersuara untuk berkomunikasi.

Perilakunya tidak berhenti di sana. Hewan ini juga suka bermain, menjaga sesamanya, dan sangat peduli pada anak-anaknya.

Meski tidak ditemukan di Asia, coati hidung putih tetap menjadi salah satu hewan liar Amerika yang menonjol karena adaptasi, perilaku sosial, dan kontribusinya bagi ekosistem. Keberadaannya memperlihatkan bahwa setiap wilayah memiliki satwa khas dengan peran yang tidak tergantikan.

Source: www.idntimes.com

Terkait