Halibut Atlantik jarang menjadi ikan laut yang pertama kali terlintas di benak banyak orang, padahal spesies ini menyimpan kombinasi yang sulit dicari pada ikan lain. Ia berukuran raksasa, hidup di dasar laut, dan justru menghadapi tekanan besar dari aktivitas penangkapan yang terus berlangsung.
Sebagai ikan sebelah terbesar di dunia, halibut Atlantik atau Hippoglossus hippoglossus punya tubuh datar yang khas. Bentuk itu membuat sebagian besar tubuhnya tampak dari satu sisi saja, sementara sisi lainnya menyatu dengan pola hidupnya di dasar perairan.
Raksasa dari keluarga ikan sebelah
Data dari Fishbase menyebut panjang maksimal halibut Atlantik bisa mencapai 4,7 meter dengan bobot maksimal 320 kilogram. Namun, ukuran sebesar itu jarang ditemukan karena panjang rata-ratanya sekitar 1 meter dengan bobot 10–45 kilogram.
Warna tubuhnya juga mendukung cara hidupnya. Bagian atas tubuhnya cenderung gelap, mulai dari abu-abu, kecokelatan, hingga hitam, sedangkan bagian bawahnya putih, dan warna gelap itu membantu ikan ini berkamuflase.
Hidup lambat, tumbuh pelan
Halibut Atlantik dikenal memiliki pertumbuhan dan perkembangan yang lambat. Ikan ini juga butuh waktu lama untuk mencapai kematangan seksual, sehingga proses menjadi dewasa berjalan lebih pelan dibanding banyak ikan lain.
Kondisi itu membuat reproduksinya ikut terhambat, tetapi di sisi lain usianya bisa panjang. NOAA Fisheries menyebut halibut Atlantik dapat hidup hingga 50 tahun, meski individu setua itu jarang dijumpai dan usia rata-ratanya hanya sekitar 10–20 tahun.
Saat bertelur, betina meletakkan telur di dasar perairan. Sekali bertelur, jumlahnya bisa mencapai dua juta butir, dengan suhu optimal reproduksi berada di kisaran 5–7°C.
Penghuni dasar laut yang tersebar luas
Sebagai bottom dweller, halibut Atlantik menghabiskan hidup di dasar perairan. Reeflex mencatat ikan ini bisa dijumpai pada kedalaman sekitar 50 hingga 2.000 meter, terutama di dasar laut berpasir, berlumpur, atau di sela karang dan bebatuan.
Kebiasaan itu membuatnya sering terlihat bersantai, berenang, mencari makan, atau berkamuflase di area dasar laut. Penyebarannya berada di Samudra Atlantik utara, meliputi wilayah Eropa, Greenland, dan Amerika Utara.
Predator yang juga rapuh
Dari sisi makanan, halibut Atlantik tergolong karnivor. Animalia menjelaskan bahwa mangsanya mencakup ikan, cephalopoda, dan krustasea yang hidup di dasar laut.
Menariknya, pola makan ikan ini berubah seiring usia. Individu muda dan anakan lebih sering memakan mikroorganisme seperti plankton, lalu saat berusia satu tahun mulai beralih ke ikan dan hewan laut yang lebih besar.
Meski termasuk kategori least concern atau risiko rendah, populasinya terus menurun. iNaturalist menyebut perburuan dan pemancingan yang berlebihan membuat ikan ini sulit bereproduksi secara optimal karena kerap tertangkap sebelum dewasa.
Penangkapan yang tidak hati-hati juga bisa berujung fatal bagi ikan ini. Halibut Atlantik sulit menahan perbedaan tekanan antara dasar laut dan permukaan, sehingga sebagian individu bisa mati setelah dibawa naik, dan kondisi itu ikut mempertegas perlunya penanganan yang hati-hati saat penangkapan dilakukan.
Source: www.idntimes.com






