Gagak Tak Sekadar Ingat Wajah, Mereka Bisa Menyimpan Dendam Bertahun-Tahun

Burung gagak sering dipandang sebagai simbol misteri dalam budaya populer, tetapi sains menunjukkan sesuatu yang jauh lebih menarik. Hewan berbulu hitam ini punya kemampuan kognitif tinggi, termasuk mengenali wajah manusia secara spesifik.

Kemampuan itu bukan sekadar cerita tentang gagak yang mengejar orang yang pernah mengusirnya. Sejumlah penelitian menunjukkan gagak dapat membedakan manusia yang mengancam dari manusia yang tidak berbahaya, lalu menyimpan informasi itu dalam ingatan jangka panjang.

Eksperimen topeng yang membuka fakta baru

Salah satu bukti paling terkenal datang dari eksperimen yang dipimpin Dr. John Marzluff di University of Washington. Melansir AAAS, para peneliti memakai dua topeng manusia berbeda, yaitu topeng “gua” yang berperan sebagai ancaman dan topeng “mantan presiden” yang netral.

Hasilnya jelas. Saat para peneliti berjalan di kampus dengan topeng ancaman, gagak langsung berteriak waspada dan menukik untuk menyerang, sementara topeng netral diabaikan.

Temuan itu menunjukkan gagak mengenali manusia lewat fitur wajah secara visual. Mereka tidak bergantung pada ukuran tubuh atau pakaian untuk membaca identitas seseorang.

Otak kecil, kemampuan besar

Banyak orang mengira ukuran tubuh burung yang kecil membatasi kecerdasannya. Namun anatomi otak keluarga Corvidae, kelompok burung gagak, justru menunjukkan hal sebaliknya.

Dilansir ScienceDaily, secara proporsional rasio ukuran otak terhadap tubuh gagak mirip dengan simpanse. Saat gagak melihat wajah manusia yang pernah mengancam mereka, pemindaian otak menunjukkan aktivitas tinggi pada area nidopallium.

Bagian ini memiliki fungsi yang serupa dengan korteks prefrontal pada manusia. Wilayah tersebut berperan dalam ingatan tingkat tinggi, pengambilan keputusan, dan emosi.

Ingatan yang bertahan bertahun-tahun

Daya ingat gagak juga menonjol karena durasinya sangat panjang. Mereka bukan hanya mengingat wajah manusia selama beberapa hari atau minggu, tetapi bisa menyimpannya hingga bertahun-tahun.

Masih dalam eksperimen yang sama di University of Washington, gagak tetap mengenali dan menyerang orang dengan topeng ancaman yang sama setelah lebih dari 5-9 tahun berlalu. Ketahanan ingatan ini membantu mereka bertahan hidup di alam liar.

Bagi gagak, kemampuan itu menjadi mekanisme pertahanan diri. Mereka bisa menghindari predator atau manusia berbahaya yang pernah ditemui sebelumnya.

Ancaman yang dibagikan ke seluruh kelompok

Kecerdasan gagak tidak berhenti pada memori individu. Mereka juga hidup dalam kelompok sosial dengan komunikasi yang kompleks dan taktis.

Menurut Forbes, saat seekor gagak mengenali wajah manusia yang berbahaya, ia akan mengeluarkan suara kepakan dan pekikan khusus untuk memberi tahu kawanan. Gagak lain yang belum pernah bertemu orang tersebut kemudian ikut terbang dan menyerang target yang sama.

Fenomena ini menunjukkan adanya penyebaran informasi tentang ancaman antarsesama gagak. Pengetahuan itu bahkan dapat diteruskan ke anak-anak mereka yang baru lahir.

Mereka juga mengingat kebaikan

Kemampuan gagak tidak selalu berkaitan dengan ancaman. Hewan ini juga bisa mengingat manusia yang berbuat baik kepada mereka.

Forbes melaporkan bahwa jika seseorang rutin memberi makanan seperti kacang atau biji-bijian kepada gagak liar, burung itu dapat mengenali wajah pemberinya. Beberapa kawanan bahkan dilaporkan meninggalkan hadiah kecil seperti kancing berkilau, tutup botol, atau batu kecil di tempat makan mereka.

Di berbagai ekosistem dunia, gagak memang menjadi salah satu tetangga satwa yang paling cerdas. Dengan otak yang padat dan kemampuan ingatan visual yang kuat, mereka menyimpan dua hal penting sekaligus: siapa yang mengancam dan siapa yang membantu.

Source: www.idntimes.com
Terkait