Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) kini dipandang bukan lagi sekadar teknologi pendukung, melainkan fondasi baru pertumbuhan ekonomi. Laporan How the Economic Development Model Is Being Rewritten by AI menyebut keunggulan lama seperti tenaga kerja murah dan bonus demografi mulai kehilangan daya tariknya.
Perubahan itu menandai pergeseran besar dalam cara negara bersaing. Negara yang mampu membangun kapabilitas AI, infrastruktur, dan ekosistem dalam skala besar diperkirakan akan lebih unggul dibanding negara yang hanya mengandalkan biaya produksi rendah.
Ekonomi AI mengubah ukuran daya saing
Penulis laporan, Tomoo Sato, mengatakan peta persaingan ekonomi sedang ditulis ulang oleh AI. Menurut dia, negara unggul bukan lagi yang menawarkan jumlah tenaga kerja terbesar atau biaya produksi terendah.
“AI tidak sekadar memperkenalkan gelombang inovasi teknologi terbaru. AI juga mengubah banyak asumsi yang selama dua dekade terakhir menjadi panduan pembangunan ekonomi,” kata Tomoo dalam keterangannya, dikutip Selasa (14/7/2026).
Laporan itu menempatkan daya komputasi sebagai aset strategis nasional. Akses terhadap semikonduktor, infrastruktur komputasi awan, pasokan energi, dan talenta AI menjadi faktor penentu kemampuan suatu negara berpartisipasi dalam ekonomi berbasis AI.
| Faktor Kunci | Peran dalam Ekonomi AI | Dampak |
|---|---|---|
| Semikonduktor | Fondasi perangkat dan komputasi | Menentukan kapasitas ekonomi AI |
| Komputasi awan | Infrastruktur pemrosesan skala besar | Mendukung pengembangan dan layanan AI |
| Pasokan energi | Penopang operasi pusat data dan komputasi | Menguatkan daya saing nasional |
| Talenta AI | Kemampuan membangun dan mengintegrasikan teknologi | Menentukan partisipasi dalam rantai nilai AI |
Potensi triliunan dolar dan pergeseran arus investasi
Laporan tersebut memperkirakan ekonomi AI generatif dapat menyumbang antara US$2,6 triliun hingga US$4,4 triliun per tahun terhadap perekonomian global. Di saat yang sama, investasi global pada infrastruktur AI terus meningkat karena teknologi ini makin dianggap sebagai aset strategis.
Arus investasi itu juga disebut ikut mengubah peta perdagangan global. Negara yang menguasai infrastruktur data, pasokan listrik, semikonduktor, dan talenta digital diperkirakan memperoleh porsi nilai ekonomi lebih besar dibanding negara yang hanya mengandalkan keunggulan biaya produksi.
Perkembangan AI juga meluas dari aplikasi berbasis teks ke penglihatan komputer, robotika, dan dunia fisik. Perluasan ini meningkatkan kebutuhan atas perangkat keras, energi, data, dan kemampuan integrasi teknologi di banyak sektor.
Indonesia menghadapi peluang sekaligus tekanan baru
Bagi Indonesia, perubahan ini membawa tantangan besar. Model pembangunan yang selama ini bertumpu pada bonus demografi dan tenaga kerja berlimpah dinilai tidak lagi cukup ketika AI dan otomatisasi mulai mengurangi kebutuhan tenaga kerja di berbagai sektor.
Presiden Direktur Kearney Indonesia, Shirley Santoso, menilai Indonesia tetap memiliki peluang besar untuk masuk ke ekonomi AI. Syaratnya adalah penguatan kualitas sumber daya manusia, ekosistem inovasi, dan infrastruktur digital.
“Kolaborasi antara pemerintah, akademisi, penyedia teknologi, investor, dan dunia usaha menjadi faktor penting untuk memperkuat posisi Indonesia dalam rantai nilai AI,” ujarnya.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa daya saing ekonomi kini tidak lagi ditentukan oleh murahnya tenaga kerja semata. Negara yang paling siap membangun fondasi AI berpotensi merebut nilai tambah yang lebih besar dalam pertumbuhan ekonomi berikutnya.
Source: teknologi.bisnis.com






