Penemuan lima pasang belenggu besi di situs Celtic kuno di Allonnes, Lembah Loire, Perancis, membuka petunjuk baru tentang praktik perbudakan di masa Galia pra-Romawi. Benda langka yang berusia sekitar 2.300 tahun itu menunjukkan bahwa tempat tersebut kemungkinan pernah menjadi pusat perdagangan budak pada akhir Zaman Besi.
Temuan ini pertama kali muncul pada 2019, tetapi hasil penggalian selama dua tahun baru diumumkan ke publik pada 9 Juli oleh French National Institute for Preventive Archaeological Research atau INRAP. Di lokasi yang sama, arkeolog juga menemukan kompleks keagamaan, bengkel kecil, dan banyak artefak logam berkualitas tinggi.
Belenggu yang Sangat Jarang Ditemukan
Tim arkeolog menemukan satu pasang belenggu pergelangan tangan, satu belenggu pergelangan kaki, dan tiga bagian belenggu logam lainnya. Menurut Thierry Lejars, spesialis logam Celtic yang dikutip Live Science, identifikasi belenggu dan senjata di situs itu menunjukkan adanya struktur sosial hierarkis dengan kelompok dominan dan kelompok subordinat, yakni tahanan atau budak.
Diameter belenggu pergelangan tangan itu hanya 6 sentimeter, sehingga diduga dipakai perempuan atau anak-anak. Sementara itu, belenggu pergelangan kaki memiliki berat lebih dari 1 kilogram dan memperlihatkan beban fisik yang harus ditanggung para budak.
| Temuan | Jumlah | Detail Penting |
|---|---|---|
| Belenggu pergelangan tangan | 1 pasang | Diameter 6 sentimeter, diduga untuk perempuan atau anak-anak |
| Belenggu pergelangan kaki | 1 | Berat lebih dari 1 kilogram |
| Bagian belenggu logam lain | 3 | Menambah bukti keberadaan alat pengikat di situs tersebut |
Bangsa Gaul, gabungan longgar suku-suku Celtic, diketahui memperbudak tawanan perang, narapidana, dan orang yang berutang. Mereka kerap dipaksa bekerja di ladang, lalu kehilangan hak-hak dan bisa diperjualbelikan oleh pemiliknya.
Karena bangsa Celtic tidak banyak meninggalkan catatan tertulis, praktik perbudakan pada masa Galia pra-Romawi masih minim dipahami. Itulah sebabnya belenggu dari Allonnes menjadi temuan yang penting untuk membaca ulang hubungan sosial pada masa itu.
Kompleks Keagamaan dan Persembahan yang Dirusak
Selain belenggu, arkeolog menemukan kompleks keagamaan di Allonnes yang berisi persembahan berupa pakaian dan perhiasan, termasuk cincin dan jimat. Banyak di antaranya sengaja dirusak atau dicacatkan, kemungkinan untuk mengubah benda sehari-hari menjadi persembahan bagi para dewa.
Ratusan koin juga ditemukan di situs tersebut, dengan masa pencetakan yang membentang lebih dari lima abad. Menurut Isabelle Bollard-Raineau, ahli koin kuno dari kementerian kebudayaan Perancis, sekitar sepertiga koin yang ditemukan di Allonnes telah dikikir, dipotong, atau diukir dengan pahat.
Kerusakan pada koin itu disebut menunjukkan niat ritual, yakni menghilangkan fungsi komersialnya agar benda tersebut dapat dipersembahkan untuk hal yang sakral. Di lokasi yang sama, para pengrajin khusus seperti pandai besi, pengrajin tembaga, perunggu, dan pelat logam juga bekerja di bengkel-bengkel kecil.
Allonnes berada di persimpangan beberapa jalan besar pada masanya, sehingga posisinya sangat strategis bagi kegiatan ekonomi dan keagamaan. Dari rangkaian temuan logam, senjata, koin, hingga belenggu, situs ini kini memberi gambaran baru tentang kelompok masyarakat Galia yang paling tidak berdaya.
