Kenaikan harga elektronik mulai menjadi tekanan baru bagi konsumen dan produsen pada paruh kedua 2026. Di tengah daya beli yang melemah, Polytron dan Sharp memilih mengencangkan efisiensi serta menata ulang rantai pasok untuk menjaga harga tetap terjangkau dan menghindari pemutusan hubungan kerja.
Rupiah yang melemah, mahalnya komponen impor, serta kenaikan harga bahan baku plastik dan logam membuat biaya produksi terus menanjak. Konsumen pun semakin selektif, terutama ketika membeli barang elektronik tahan lama yang pembeliannya dapat ditunda.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Komoditi Elektronik (Apkonik) Deny Irawan menyebut permintaan domestik belum turun secara drastis. Namun, perubahan perilaku belanja masyarakat sudah membatasi ruang pertumbuhan bagi produsen elektronik.
Utilisasi pabrik anggota Apkonik rata-rata masih berada di kisaran 65% hingga 70%, belum kembali ke tingkat optimal. Kondisi itu mendorong sejumlah perusahaan mengurangi jam lembur, menyesuaikan jadwal produksi, menunda ekspansi, dan menahan perekrutan tenaga kerja baru.
Tekanan terhadap tenaga kerja juga mulai muncul di sebagian perusahaan, meski belum merata di seluruh sektor. Bentuk penyesuaiannya mencakup pengurangan jam kerja, tidak memperpanjang kontrak karyawan, hingga PHK.
Biaya Produksi Naik, Margin Tergerus
Commercial Director Polytron Tekno Wibowo menilai prospek industri elektronik pada semester II/2026 akan melemah karena kombinasi depresiasi rupiah, kelangkaan cip semikonduktor, dan kenaikan harga bahan baku. Produsen belum dapat sepenuhnya meneruskan kenaikan biaya tersebut kepada konsumen karena risiko pembelian makin tertunda.
Menurut Tekno, harga komponen cip untuk smart TV telah melonjak hingga tiga kali lipat sejak awal tahun. Indonesia juga belum memiliki industri cip, sehingga produsen masih bergantung pada pemasok dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan komponen tersebut.
| Perusahaan | Tekanan Utama | Langkah yang Ditempuh |
|---|---|---|
| Polytron | Harga cip smart TV naik hingga tiga kali lipat, rupiah melemah, dan bahan baku naik | Efisiensi proses produksi serta penataan ulang rantai pasok |
| Sharp Indonesia | Biaya bahan baku dan impor komponen meningkat akibat depresiasi rupiah | Penyesuaian harga bertahap sekitar 10%, efisiensi logistik, dan diversifikasi pemasok |
Tekno mengatakan kenaikan biaya yang belum seluruhnya dibebankan ke harga jual telah menekan margin perusahaan. “Menekan margin sudah pasti karena belum semua kenaikan bisa dibebankan secara penuh ke konsumen. Dibutuhkan efisiensi proses dan rebalancing supply chain untuk mencegah terjadinya PHK,” tuturnya kepada teknologi.bisnis.com.
Penataan ulang rantai pasok menjadi langkah penting bagi Polytron untuk menjaga ketersediaan komponen sekaligus mengendalikan biaya. Stabilitas nilai tukar dan konsistensi kebijakan pemerintah juga dinilai penting untuk menarik investasi industri hulu, termasuk pengembangan industri cip domestik.
Konsumen Beralih ke Produk Hemat Energi
Di sisi lain, National Sales Senior General Manager Sharp Indonesia Andry Adi Utomo mengakui pelemahan daya beli telah memengaruhi penjualan elektronik rumah tangga. Meski demikian, kebutuhan terhadap perangkat elektronik dinilai lebih banyak tertunda daripada hilang sepenuhnya.
Konsumen kini disebut lebih memperhitungkan efisiensi energi sebelum memilih produk. Perangkat berteknologi inverter dan fitur hemat listrik menjadi pertimbangan utama karena dapat membantu menekan penggunaan daya dalam jangka panjang.
“Saya lihat konsumen saat membeli produk elektronik mereka akan mencari produk elektronik yang hemat energi,” kata Andry. Pergeseran preferensi ini membuat produsen perlu menjaga keseimbangan antara harga jual, fitur, dan biaya operasional produk bagi pengguna.
Sharp telah menyesuaikan harga jual sekitar 10% secara bertahap untuk merespons kenaikan biaya. Perseroan juga mengoptimalkan sumber daya yang tersedia dalam rantai logistik, menerapkan efisiensi operasional, serta melakukan diversifikasi pemasok di tengah ketidakpastian global.
Strategi lain yang ditempuh adalah memperluas jaringan penjualan hingga ke kota-kota kecil untuk mempertahankan pangsa pasar. Langkah tersebut dilakukan ketika penjualan di pasar utama menghadapi konsumen yang lebih berhati-hati dalam membelanjakan uangnya.
Risiko bagi Tenaga Kerja Masih Terbuka
Deny Irawan mengingatkan, tekanan ketenagakerjaan dapat membesar apabila utilisasi rendah berlangsung lama tanpa pemulihan permintaan. Karena itu, Apkonik mengharapkan kebijakan yang memperkuat permintaan domestik, menciptakan iklim usaha kompetitif, dan menjaga persaingan tetap sehat.
Di tengah tantangan tersebut, Sharp masih memproyeksikan pasar elektronik Indonesia pada semester II/2026 hingga 2027 tumbuh lebih baik dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Permintaan diperkirakan tetap ditopang oleh LED TV, AC, lemari es, mesin cuci, serta peralatan rumah tangga kecil.
