NASA Menangkap Dua Wajah Laut yang Tak Biasa, Putih Bercahaya dan Pirus Terang

Author: Qoo Media

Permukaan laut yang tampak putih menyala pada malam hari dan perairan pirus terang dari orbit ternyata bukan fenomena yang sama. Dua kejadian langka ini sama-sama tertangkap instrumen pengamatan, tetapi dipicu oleh organisme mikroskopis dengan proses yang berbeda.

NASA merekam perubahan warna Laut Hitam menjadi pirus terang melalui satelit PACE pada 22 Juni 2026. Sementara itu, pengamatan satelit juga membuka jalan bagi ilmuwan untuk melacak milky seas, lautan luas yang tampak bercahaya putih kebiruan dalam gelap.

Dua Fenomena, Dua Penyebab

Fenomena Penyebab utama Tampilan Waktu terlihat
Milky seas Koloni bakteri bioluminesensi, termasuk Vibrio harveyi Putih kebiruan seperti susu bercahaya Malam hari
Warna pirus Laut Hitam Mekarnya fitoplankton coccolithophores Biru kehijauan hingga putih susu Akhir musim semi hingga awal musim panas

Milky seas telah menjadi cerita para pelaut selama ratusan tahun, dengan sekitar 400 penampakan tercatat dalam lebih dari 400 tahun. Lautan dapat terlihat menyala sangat luas, seolah permukaannya tertutup hamparan salju atau memantulkan cahaya seperti air raksa.

Menurut catatan yang dikutip Beritasatu.com, fenomena ini pernah digambarkan Angkatan Laut pada 1980 seperti langit-langit kamar anak yang dipenuhi bintang fosfor. Kapten kapal Moozuffer juga melaporkan pemandangan serupa saat berlayar di Laut Arab pada musim dingin 1849.

Misteri tersebut sempat masuk ke novel 20.000 Leagues Under the Sea karya Jules Verne pada 1870. Verne menduga cahaya berasal dari organisme kecil di laut, dan penelitian modern kemudian menunjukkan bahwa dugaan tentang keterlibatan organisme mikroskopis memang memiliki dasar.

Bakteri yang Menerangi Hamparan Laut

Terobosan penting terjadi pada 1985 ketika kapal penelitian berhasil menemukan milky seas dan mengambil sampel air secara langsung. Sampel itu dipenuhi bakteri bercahaya bernama Vibrio harveyi, yang diyakini menjadi sumber cahaya pada permukaan laut.

Namun, keberadaan bakteri belum menjawab seluruh pertanyaan ilmiah. Peneliti masih berusaha memahami mengapa mikroorganisme tersebut bisa berkumpul dalam jumlah sangat besar hingga menerangi wilayah laut yang luas.

Studi di jurnal Earth and Space Science pada April 2025 menganalisis laporan kemunculan fenomena itu. Justin Hudson dari Colorado State University dan profesor Steven Miller menemukan bahwa kejadian paling sering dilaporkan di Laut Arab serta Asia Tenggara.

Tim peneliti menduga kemunculannya berkaitan dengan Indian Ocean Dipole dan El Niño Southern Oscillation atau ENSO. Jika kaitan itu dapat dipastikan, lokasi dan waktu kemunculan milky seas berpeluang lebih mudah diprediksi untuk diteliti.

Instrumen visible infrared imaging radiometer suite atau VIIRS pada satelit NOAA dan NASA telah membantu pemantauan dari antariksa. Dalam penelitian di Scientific Reports pada 2021, Miller dan tim mengidentifikasi 12 kejadian milky seas sepanjang 2012 hingga 2021.

Salah satu peristiwa terbesar terjadi pada 2019 dengan area yang diperkirakan hampir seluas Islandia. Pengamatan ini penting bukan hanya bagi oseanografi, melainkan juga untuk memahami peran organisme bercahaya dalam sistem Bumi.

Laut Hitam Memantulkan Cahaya Matahari

Perubahan warna Laut Hitam yang direkam PACE memiliki mekanisme berbeda karena tidak berasal dari cahaya bakteri. Instrumen Ocean Color Instrument atau OCI mendeteksi perairan yang berubah dari gelap menjadi pirus terang akibat ledakan populasi coccolithophores.

Fitoplankton mikroskopis ini mempunyai lapisan kalsium karbonat yang memantulkan sinar Matahari. Pantulan tersebut membuat air terlihat biru muda, pirus, atau putih susu ketika diamati dari luar angkasa.

Pada musim lain, Laut Hitam kembali tampak lebih gelap karena didominasi diatom. Fitoplankton ini memiliki cangkang silika dan tidak memantulkan cahaya dengan cara yang sama seperti coccolithophores.

Warna pirus juga terlihat meluas menuju Selat Bosphorus yang menghubungkan Laut Hitam dan Laut Marmara. Pada 27 Mei 2026, astronaut di Stasiun Luar Angkasa Internasional memotret pola arus pirus yang mengikuti pusaran air di kedua sisi selat.

Mekarnya coccolithophores menjadi perhatian karena organisme ini berperan dalam siklus karbon Bumi. Saat tumbuh, fitoplankton menyerap karbon dari atmosfer dan air laut, sementara sebagian karbon dapat tenggelam ke dasar laut setelah organisme itu mati.

Terbaru