OnePlus Dikabarkan Tutup, Peluncuran Produk Baru Batal dan Pegawai Alami PHK Besar-besaran

Author: Qoo Media

OnePlus dikabarkan akan segera menghentikan operasionalnya secara total. Berita ini muncul setelah sejumlah sumber dari dalam perusahaan mengungkapkan bahwa Oppo, selaku pemilik merek, telah memulai proses penutupan divisi OnePlus.

Menurut laporan Android Headline, saat ini OnePlus hanya menjalankan aktivitas yang berkaitan dengan pemenuhan komitmen yang sudah ada. Perusahaan tidak lagi merencanakan pengembangan maupun peluncuran produk baru ke pasar. Informasi ini diperoleh dari karyawan dan mantan karyawan OnePlus di China dan negara lain.

Penurunan Drastis Penjualan dan Pengiriman

Data dari lembaga riset Omdia menunjukkan bahwa volume pengiriman ponsel OnePlus menurun drastis lebih dari 20 persen pada tahun ini. Dari sebelumnya, pengiriman hanya mencapai sekitar 14 juta unit. Di pasar kunci seperti India, lebih dari 4.500 toko dilaporkan menghentikan penjualan perangkat OnePlus karena margin keuntungan yang dianggap sangat rendah.

IDC juga mencatat penurunan pangsa pasar OnePlus di India, dari 6,1 persen pada tahun lalu menjadi hanya 3,9 persen saat ini. Kondisi ini menunjukkan bahwa brand asal China tersebut mengalami kesulitan mempertahankan posisi kompetitif di beberapa pasar penting.

Restrukturisasi Besar-besaran dari Oppo

Langkah penutupan OnePlus diduga terkait dengan kebijakan restrukturisasi Oppo terhadap beberapa lini produknya. Sebelumnya, Oppo telah mengumumkan langkah strategis atas divisi Realme yang melibatkan penggabungan entitas, pengurangan jumlah pegawai, serta penutupan divisi riset dan pengembangan (R&D) sebagai upaya konsolidasi.

Restrukturisasi ini terlihat sebagai langkah Oppo untuk mengefisienkan operasional dan fokus pada merek yang dianggap lebih strategis di pasar. Keputusan ini turut berdampak pada penghentian sejumlah divisi dan proyek di bawah naungan OnePlus.

Dampak Internal dan Pembatalan Produk

Sumber dari dalam perusahaan mengungkapkan bahwa kantor OnePlus di berbagai negara mulai ditutup tanpa pengumuman resmi. Banyak kemitraan bisnis dihentikan, dan tim operasional di wilayah barat kini hanya tersisa sedikit. Rencana peluncuran produk terbaru, termasuk ponsel dengan desain lipat dan model flagship, dibatalkan sepenuhnya.

“Kekuatan premium runtuh hanya dalam semalam,” terang Android Headline, mengilustrasikan penurunan mendadak yang dialami brand ini. Semua keputusan strategis atas nasib OnePlus kini diambil langsung oleh kantor pusat di China.

Masalah Hukum CEO OnePlus

Selain aspek bisnis, kabar kurang baik juga datang dari CEO OnePlus, Pete Lau. Ia tengah menghadapi permasalahan hukum serius di Taiwan. Reuters melaporkan bahwa Lau sudah ditetapkan sebagai buron oleh Kantor Kejaksaan Distrik Shilin di Taiwan.

Dua warga Taiwan juga dijadikan tersangka atas tuduhan membantu aktivitas Lau. Kasus ini berkaitan dengan undang-undang yang mengatur hubungan Taiwan dan China. Jaksa setempat menyebut bahwa Lau merekrut sekitar 70 karyawan di Taiwan untuk mendukung pengembangan, riset, verifikasi, dan pengujian aplikasi ponsel OnePlus.

Isu geopolitik ini turut menambah tekanan bagi OnePlus dan Oppo, mengingat posisi Taiwan yang secara resmi diakui oleh pemerintah China sebagai bagian wilayahnya, meskipun Taiwan mempertahankan pemerintahan dan pemilihan pemimpin secara mandiri.

Dampak untuk Konsumen dan Pasar

Penutupan OnePlus dan pembatalan produk baru diperkirakan akan memengaruhi pilihan konsumen di segmen ponsel premium dan flagship. Saat ini pasar ponsel pintar global sangat kompetitif, dan keputusan Oppo untuk menghentikan operasional OnePlus dapat membuka ruang bagi kompetitor lain untuk mengambil alih pangsa pasar yang tersisa.

Konsumen yang sebelumnya loyal terhadap OnePlus perlu memperhatikan perubahan ini, khususnya terkait ketersediaan layanan purna jual dan dukungan teknis dari produk lama.

Ringkasan Perkembangan Status OnePlus:

  1. Oppo melakukan penghentian operasional OnePlus secara bertahap.
  2. OnePlus tidak merilis produk baru dan hanya memenuhi komitmen yang ada.
  3. Pengiriman perangkat OnePlus turun drastis hingga 20 persen.
  4. Jaringan penjualan di India menyusut dengan banyak toko berhenti memasok produk.
  5. Restrukturisasi Oppo berimbas pada OnePlus, termasuk penutupan divisi R&D.
  6. Peluncuran produk flagship dan ponsel lipat OnePlus batal.
  7. CEO OnePlus menghadapi masalah hukum di Taiwan terkait aktivitas rekrutmen.

Berita terkini ini menunjukkan dinamika signifikan dalam industri smartphone, khususnya di segmen merek asal China. Keputusan Oppo menutup OnePlus memperlihatkan pergeseran strategi yang mungkin mengarah pada fokus pada merek-merek inti dan efisiensi operasional dalam menghadapi persaingan global.

Terbaru