Analis Waspada, Valuasi Saham British American Tobacco Terlalu Mahal, Berisiko Koreksi 20%

Analis dari Seeking Alpha, Kenio Fontes, memberikan peringatan keras terkait valuasi saham British American Tobacco (BTI) yang saat ini dinilai terlalu mahal. Fontes menilai harga saham BTI sudah mengalami lonjakan signifikan, sehingga potensi koreksi hingga 20% perlu diwaspadai oleh investor.

Rasio harga terhadap laba (P/E) BTI untuk tahun 2026 kini mencapai 11,9 kali. Angka ini jauh di atas rata-rata historis lima tahun yang hanya sebesar 8,6 kali. Kenaikan P/E tersebut menunjukkan pasar terlalu optimis terhadap prospek pertumbuhan BTI meskipun ada beberapa perkembangan produk baru.

Walaupun BTI mulai mengembangkan produk bebas asap rokok, kontribusinya terhadap pendapatan perusahaan masih relatif kecil, yakni sekitar 13%. Pendapatan dan laba per saham (EPS) dari produk baru tersebut belum mampu mendorong pertumbuhan yang signifikan bagi perusahaan.

Pengembangan produk bebas asap rokok memang menjadi fokus BTI untuk menghadapi tren global yang mulai meninggalkan rokok konvensional. Namun, transisi bisnis ini masih menghadapi ketidakpastian dan tidak cukup untuk menjaga valuasi saham tetap stabil pada level saat ini.

Fontes juga menyoroti dampak rerating valuasi pada kompresi yield dividen BTI. Dengan valuasi saat ini yang terlalu tinggi, imbal hasil dividen berpotensi menurun jika harga saham kembali ke level historisnya. Hal ini bisa menyebabkan koreksi harga saham hingga 20 persen.

Dalam analisanya, Fontes menyatakan mempertahankan rekomendasi jual untuk saham BTI. Faktor utamanya adalah harga saham yang sudah terlalu mahal, ketidakpastian masa depan bisnis rokok, serta pertumbuhan pendapatan yang masih terbatas. Ia juga menegaskan bahwa tidak memiliki posisi saham atau derivatif BTI dan tidak berencana membuka posisi dalam waktu dekat.

Faktor-faktor Risiko yang Dihadirkan Saham BTI:

  1. Ekspansi valuasi yang melebihi rata-rata historis.
  2. Pertumbuhan pendapatan dan laba yang moderat.
  3. Kontribusi produk bebas asap rokok yang masih terbatas.
  4. Potensi kompresi yield dividen akibat valuasi tinggi.
  5. Ketidakpastian regulasi dan tren penurunan konsumsi rokok konvensional.

Pasar saham memang menilai potensi jangka panjang BTI secara optimis, terutama dari segi diversifikasi produk. Namun, data menunjukkan bahwa harapan tersebut belum diimbangi oleh kinerja fundamental perusahaan. Investor disarankan untuk berhati-hati mempertimbangkan risiko koreksi.

Ke depan, perkembangan bisnis BTI dalam meluncurkan produk alternatif bebas asap rokok akan menjadi faktor kunci penentu keberlanjutan pertumbuhan pendapatan. Namun, proses adaptasi ini masih memerlukan waktu dan tidak otomatis memperbaiki valuasi saham secara signifikan.

Investor disarankan melakukan evaluasi lebih mendalam mengenai valuasi dan fundamental BTI. Pertimbangan arah tren global terhadap konsumsi tembakau serta dampak regulasi juga penting dalam menyusun strategi investasi. Valuasi saham yang saat ini dianggap terlalu mahal bisa menjadi sinyal agar menunda pembelian atau menjual untuk memitigasi risiko penurunan harga.

Terkait