Bitcoin Menguat, Tapi 3 Indikator Ini Tentukan Apakah Bull Market Akan Kembali atau Tidak

Bitcoin menunjukkan tanda pemulihan dengan harga yang kembali menguat ke kisaran tinggi $80.000 hingga mendekati $90.000 setelah sempat turun ke pertengahan $80.000. Meskipun demikian, kenaikan ini belum cukup kuat untuk menandakan dimulainya siklus pasar bullish baru.

Para analis menilai bahwa keberlanjutan pasar bullish sangat bergantung pada pergerakan tiga indikator utama yang lebih dalam dan bernuansa risiko. Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di sekitar harga $89.500, menguat sekitar 1,4% dalam 24 jam terakhir.

1. Tren Jangka Panjang: Posisi di Atas 200-Day EMA
Data dari Glassnode menunjukkan Bitcoin masih berada di atas rata-rata eksponensial bergerak 200 hari (200-day EMA). Posisi ini penting karena secara historis menunjukkan tren pasar bull jika harga di atas level tersebut. Jika harga turun di bawahnya, biasanya menandai fase bear market. Saat ini, 200-day EMA juga menunjukkan tren naik yang mengindikasikan permintaan jangka panjang tetap kuat dan koreksi yang terjadi bersifat sementara.

2. Permintaan Institusional melalui ETF Bitcoin Spot AS
Permintaan dari investor institusional dapat dilihat dari kepemilikan ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Data menunjukkan sejak Oktober terjadi penurunan nilai kepemilikan ETF lebih dari $6 miliar atau sekitar 8% dari puncak tertinggi. Ini menandakan adanya tekanan jual dari kelompok investor ini. Harga Bitcoin saat ini diperdagangkan mendekati rata-rata harga realisasi ETF di sekitar $86.600, yang menjadi titik psikologis penting. Bertahan di atas harga ini dapat memperkuat keyakinan investor dan menstabilkan aliran dana. Namun, aliran masuk dana yang berkelanjutan ke ETF belum terlihat, sehingga permintaan institusional masih berhati-hati.

3. Basis Biaya Pemegang Jangka Pendek
Indikator terakhir adalah biaya rata-rata pembelian Bitcoin oleh pemegang jangka pendek (Short-Term Holders). Berdasarkan data Bitbo, harga Bitcoin masih lebih tinggi dari biaya realisasi pemegang jangka pendek yang berkisar antara high-$60.000 hingga low-$70.000. Ini berarti mayoritas pemegang jangka pendek belum mengalami kerugian, sehingga risiko penjualan panik rendah dan pembelian pada saat penurunan menjadi lebih memungkinkan. Namun, minggu ini Bitcoin tidak mampu bertahan di dekat biaya realisasi pemegang jangka pendek sekitar $96.500 dan mengalami penurunan ringan, yang mirip dengan pola awal bear market di tahun 2018 dan 2022.

Persentase pasokan Bitcoin yang saat ini mengalami kerugian bagi pemegang jangka pendek sekitar 19,5%, jauh di bawah ambang batas yang biasanya memicu penjualan besar-besaran. Namun, ada kekhawatiran karena tren pasokan yang mengalami kerugian menunjukkan kenaikan, yang secara historis merupakan pertanda pasar bearish yang lebih dalam.

Selain indikator di atas, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh penurunan permintaan on-chain, menurunnya partisipasi investor ritel, serta ketidakpastian makroekonomi, terutama terkait kondisi likuiditas di Amerika Serikat. Faktor-faktor ini masih menjadi beban terhadap optimisme pasar Bitcoin.

Analisis dari berbagai sumber ini menunjukkan bahwa meskipun ada kenaikan harga Bitcoin saat ini, keputusan akhir mengenai apakah pasar bullish akan kembali perlu dipantau melalui tiga metrik kunci tersebut. Indikator teknis jangka panjang, perilaku institusional, dan kondisi pemegang jangka pendek akan menentukan arah pergerakan berikutnya dalam waktu dekat.

Exit mobile version