Bitcoin miners di Amerika Serikat baru saja mengalami lonjakan keuntungan hingga 150% meskipun mereka tidak melakukan aktivitas menambang Bitcoin secara penuh selama badai musim dingin yang melanda negara tersebut. Alih-alih menggunakan listrik untuk menambang, para penambang ini menjual listrik cadangan mereka ke jaringan listrik yang sedang mengalami tekanan berat akibat cuaca ekstrem.
Situasi ini menciptakan peluang baru yang menguntungkan bagi para miner. Scott Norris, Chief Mining Officer di Omnes, menjelaskan bahwa saat jaringan listrik meminta suplai tambahan dan mematikan operasi menambang, pembayaran untuk listrik oleh jaringan bisa jauh lebih besar dibandingkan pendapatan dari menambang Bitcoin. Norris memberi contoh, jika penambang mendapat penghasilan 8 sen per kilowatt-jam dari menambang, saat permintaan puncak listrik bisa dibayar 20 sen per kilowatt-jam oleh jaringan listrik. Jika harga listrik yang mereka bayar hanya 4 sen, margin keuntungan dari hanya mematikan alat menambang menjadi sangat besar.
Peran Bitcoin Mining dalam Stabilitas Jaringan Listrik
Fenomena ini menunjukkan bahwa Bitcoin mining bukan hanya menjadi beban pada jaringan listrik, melainkan justru bisa menjadi penyangga yang fleksibel. Operasi tambang besar bisa langsung mematikan aktivitasnya saat jaringan listrik penuh beban, sehingga membantu stabilitas pasokan listrik nasional. Miner berperan sebagai beban yang dapat dikendalikan dengan cepat ketika dibutuhkan oleh utilitas listrik.
Selama badai musim dingin, hashrate Bitcoin turun drastis mencapai 663 exahashes per detik, level terendah selama tujuh bulan terakhir dan mengalami penurunan 40% hanya dalam dua hari. Miner besar seperti CleanSpark, Riot Platforms, Marathon Digital, dan Iren harus mengurangi output Bitcoin mereka secara signifikan. Misalnya, Marathon Digital turun dari menghasilkan 45 BTC per hari menjadi hanya 7 BTC.
Keuntungan Lebih Tinggi bagi Miner yang Tetap Beroperasi
Miner yang tetap menjalankan mesin mereka selama badai justru mendapatkan keuntungan yang meningkat. Penurunan hashrate berarti persaingan untuk menambang blok baru menjadi lebih sedikit. Indeks hashprice Bitcoin naik menjadi $0,04 per terahash per hari dari sebelumnya $0,038, meningkatkan profitabilitas aktivitas menambang tersebut.
Menurut Norris, miner yang mampu memanfaatkan peluang ini biasanya memiliki ciri khusus. Mereka yang memiliki fasilitas pembangkit listrik sendiri dan memiliki kontrak dengan penyedia listrik untuk mematikan operasi saat jaringan membutuhkan daya, berada pada posisi terbaik. Selain itu, mereka juga mengunci harga output menambang terlebih dahulu sehingga terlindungi dari penurunan profit saat harga Bitcoin melemah.
Diversifikasi Pendapatan di Sektor Teknologi Tinggi
Selain mengelola fleksibilitas daya listrik, para miner terbaik juga melakukan diversifikasi usaha. Mereka mulai merambah ke bidang kecerdasan buatan (AI) dan komputasi kinerja tinggi lainnya. Hal ini memberi beberapa sumber pendapatan tambahan yang lebih stabil dan berkelanjutan di luar bisnis penambangan Bitcoin.
Respons Pasar Terhadap Situasi Ini
Saham perusahaan mining seperti TeraWulf dan Iren melonjak masing-masing 15% dan 18% dalam lima hari terakhir, menunjukkan respon positif investor terhadap model bisnis yang adaptif terhadap situasi pasar energi dan permintaan listrik.
Dengan memanfaatkan kemampuan menyesuaikan konsumsi listrik dan menjual kapasitas cadangan mereka saat terjadi krisis energi, para penambang Bitcoin ini justru mendapat keuntungan jauh melebihi aktivitas menambang biasa. Model ini bisa menjadi arah baru bagi industri mining yang selama ini sering dikritik karena konsumsi listriknya yang besar.







