Pasar keuangan mengalami guncangan tajam dalam waktu singkat, dengan harga emas memantul kembali secara dramatis sementara Bitcoin justru gagal menunjukan pemulihan serupa. Penurunan Bitcoin lebih dari 5% dari level $89,000 ke $83,400, terjadi bersamaan dengan ketegangan geopolitik antara AS dan Iran yang meningkat.
Ketegangan tersebut dipicu oleh ancaman Presiden AS yang memperingatkan kemungkinan serangan militer jika Iran tidak menyetujui kesepakatan nuklir. Kondisi ini memperburuk sentimen pasar, terutama menjelang potensi penutupan pemerintahan AS. Namun, respons pasar aset menunjukkan perbedaan besar antara emas dan Bitcoin.
Respons Emas dan Pasar Saham
Harga emas sempat anjlok 7% ke level $5,250 dalam satu jam, sebelum kembali bangkit dengan cepat ke atas $5,400, mencatatkan kenaikan sekitar 1% pada sesi perdagangan Asia berikutnya. Pergerakan tersebut mencatatkan fluktuasi pasar emas terbesar dalam sejarah, dengan kapitalisasi pasar bergeser hingga $5,5 triliun dalam satu hari.
Sementara itu, pasar saham AS menunjukkan ketahanan relatif. Nasdaq hanya turun 0,7%, terdampak oleh anjloknya harga saham Microsoft sebesar 10% akibat kekhawatiran terkait pengeluaran AI. Sedangkan saham Meta melonjak 10% setelah melaporkan pendapatan yang kuat, dan Dow Jones ditutup dengan kenaikan ringan.
Performa Bitcoin Berbeda
Sebaliknya, Bitcoin gagal mengimbangi pemulihan tersebut. Setelah turun ke level terendah $83,400, Bitcoin hanya mampu naik sedikit ke $84,200, tidak mampu menyaingi pemulihan tajam emas maupun reli selektif saham teknologi. Kondisi ini menggarisbawahi tantangan yang sedang dihadapi Bitcoin untuk membuktikan dirinya sebagai aset pelindung nilai atau “digital gold”.
Lonjakan Harga Logam Mulia
Emas telah mengalami kenaikan lebih dari 25% hanya dalam bulan ini dan hampir dua kali lipat sejak awal masa jabatan kedua Presiden Trump. Perak bahkan melonjak hampir empat kali lipat dari bawah $30 menjadi lebih dari $118 per ons sejak diberlakukannya tarif impor pada bulan April. Banyak analis menggambarkan lonjakan ini sebagai gejala mania spekulatif.
Tingginya permintaan logam mulia ini mencerminkan keresahan yang lebih dalam terhadap mata uang fiat dan stabilitas institusi keuangan global. Bank sentral juga tengah menambah cadangan emas sebagai upaya diversifikasi dari surat utang AS, sementara investor ritel tertarik oleh narasi safe-haven dan momentum harga yang kuat.
Krisis Kepercayaan pada Cryptocurrency
Namun, Bitcoin yang teorinya dapat menjadi lindung nilai terhadap pelemahan mata uang, justru tidak mengalami lonjakan permintaan yang sama. Dana ETF Bitcoin menunjukkan arus keluar yang terus berlanjut, dengan aset yang menurun dari puncak $169 miliar menjadi sekitar $114 miliar, turun sekitar 32% sejak Oktober.
Indeks Premium Coinbase, yang mengukur minat institusional di AS dengan membandingkan harga di Coinbase dan bursa global, bahkan menunjukkan angka negatif. Hal ini menandakan menurunnya ketertarikan investor institusional yang sebelumnya menjadi pendorong utama reli Bitcoin.
Turunnya Permintaan Ritel
Data on-chain dari CryptoQuant mengindikasikan bahwa transaksi kecil di antara $0 hingga $10,000 juga menurun secara signifikan. Pertumbuhan permintaan dalam 30 hari telah turun dari lebih dari 10% pada Oktober menjadi sekitar -6% saat ini. Kombinasi melemahnya minat dari institusi dan ritel menciptakan kondisi di mana kenaikan harga sulit berkelanjutan dan penurunan harga menjadi lebih tajam.
Ujian Ketahanan Aset di Masa Krisis
Sesi perdagangan hari Rabu memberikan gambaran nyata mengenai perilaku aset di saat krisis. Emas terbukti tetap menjadi pilihan utama sebagai lindung nilai, sementara saham teknologi menunjukkan bahwa fundamental kuat mampu mengatasi ketakutan ekonomi makro. Bitcoin, di sisi lain, menyerap penurunan pasar berisiko tetapi gagal memberikan perlindungan sebagai safe haven.
Agar narasi Bitcoin sebagai “emas digital” dapat diterima kembali, kripto ini harus mampu menunjukkan perilaku lindung nilai yang solid saat kondisi pasar paling genting. Hingga saat itu, label tersebut masih lebih merupakan harapan daripada kenyataan di mata para investor global.
