Pasar saham Asia menunjukkan penguatan signifikan setelah mengalami dua hari penurunan terburuk sejak April. MSCI Asia Pacific Index naik sebesar 2,2%, menghapus sebagian besar kerugian dari hari sebelumnya. Kenaikan ini terutama dipimpin oleh pasar saham Korea Selatan, dengan indeks KOSPI melonjak lebih dari 5,63%.
Berbagai indeks utama lainnya juga mencatatkan pertumbuhan, seperti Jepang dengan Nikkei 225 yang naik 3,90% dan India melalui S&P BSE Sensex yang bertambah 2,70%. Bahkan, pasar saham Hong Kong dan China juga berhasil berbalik positif meski dengan kenaikan yang lebih kecil, masing-masing sebesar 0,21% dan 0,38%.
Kinerja Saham Regional dan Faktor Pendorong
Menurut pengamatan analis pasar, saham Korea Selatan menjadi indeks dengan performa terbaik secara global sepanjang tahun ini. Lonjakan tajam pada indeks tersebut terjadi setelah sebelumnya mengalami tekanan signifikan. Saham teknologi di wilayah Asia mengalami reli bersama dengan kenaikan kontrak berjangka Nasdaq 100 di AS, yang didorong oleh prospek penjualan perusahaan Palantir yang lebih baik dari perkiraan.
Masuknya investor ritel di Korea yang mulai beralih dari aset kripto ke saham turut memperkuat tren positif itu. Pada akhir 2025, volume perdagangan di lima bursa kripto utama Korea merosot lebih dari 80%, sementara pasar saham naik sebesar 71,8% sejak awal tahun.
Rebound Emas dan Logam Mulia
Harga emas melesat naik 3,25% menjadi $4.810 per ons, sedangkan harga perak melonjak 8% ke posisi di atas $83 per ons. Lonjakan ini terjadi setelah reli harga logam mulia pada bulan lalu yang sempat memuncak, kemudian terkoreksi secara mendadak. Faktor utama yang mendorong kenaikan harga emas adalah kekhawatiran geopolitik, pelemahan nilai mata uang, serta keraguan atas independensi the Federal Reserve AS.
Pembelian dari spekulan Tiongkok juga sangat berpengaruh dalam pemulihan harga emas. Selama akhir pekan, pembeli ramai mengunjungi pasar barang mulia terbesar di Shenzhen untuk menambah stok perhiasan dan batangan emas. Momentum ini diperkuat menjelang perayaan Tahun Baru Imlek yang dimulai pada pertengahan Februari.
Menurut Deutsche Bank, harga emas diperkirakan masih akan terus naik hingga mencapai target $6.000 per ons. Sementara itu, Pepperstone menilai bahwa fondasi fundamental yang menopang emas tetap kuat meskipun terjadi koreksi harga baru-baru ini.
Performa Bitcoin di Tengah Pemulihan Pasar
Bitcoin sempat naik 4% dalam 24 jam terakhir, mencapai harga $78.899, sejajar dengan kenaikan harian emas. Namun, tren mingguan menunjukkan hasil yang berbeda. Selama tujuh hari terakhir, nilai Bitcoin anjlok sebesar 12,1%, lebih dari dua kali lipat penurunan emas sebesar 5,06% pada periode yang sama.
Bitcoin mengalami penurunan harga dari level tertinggi di atas $92.000 ke titik terendah di bawah $75.000, sebelum memantul ke nilai saat ini. Kondisi ini mencerminkan pola ketertinggalan kripto dari aset tradisional yang sudah terlihat sejak akhir 2025.
Perbandingan Performa dan Implikasi Pasar
Data menunjukkan bahwa meski pasar kripto ikut serta dalam pemulihan aset berisiko secara luas, pergerakan Bitcoin jauh lebih lambat dan kurang tajam dibanding saham dan logam mulia. Investor dan analis tetap waspada terhadap potensi rintangan dalam melanjutkan pembalikan tren ini. Beberapa pihak mengingatkan risiko koreksi palsu atau dead-cat bounce, dan menilai pergerakan harga komoditas lebih sebagai penyesuaian posisi trading daripada perubahan fundamental yang berarti.
Fokus utama kini adalah apakah Bitcoin mampu menutup kesenjangan kinerja dengan aset tradisional, atau masih akan menghadapi tekanan berkelanjutan seperti yang terjadi sejak akhir 2024. Perkembangan selanjutnya akan menjadi indikator penting bagi investor global dalam menentukan arah pasar aset digital dan tradisional.
