Galaxy Digital melalui Kepala Risetnya, Alex Thorn, memperingatkan bahwa harga Bitcoin berpotensi turun hingga 19% mencapai level $63.000. Peringatan ini muncul karena terdapat celah kepemilikan onchain yang signifikan antara rentang harga $82.000 hingga $70.000, yang memengaruhi struktur pasar Bitcoin saat ini.
Bitcoin sendiri sudah mengalami penurunan sekitar 38% dari harga tertingginya yang mencapai $126.298 pada awal Oktober. Thorn menyoroti bahwa permintaan yang berarti hampir tidak ada di kisaran harga antara $70.000 dan $80.000, menciptakan ruang kosong yang berpotensi mempercepat tekanan jual dalam waktu dekat.
Analisis Kepemilikan dan Dampaknya pada Harga Bitcoin
Menurut data Galaxy Research, terdapat celah besar dalam kepemilikan Bitcoin antara harga $70.000 hingga $80.000 berdasarkan pergerakan terakhir koin yang tercatat onchain. Sekitar 194.000 BTC sempat diperdagangkan dalam kisaran $77.000 hingga $79.500 dalam dua hari terakhir, yang menunjukkan posisi beli ini relatif dangkal dan rentan terhadap tekanan jual.
Selama empat bulan terakhir, pembelian signifikan terjadi di rentang $80.000 hingga $92.000, sementara kelompok harga lainnya berkontribusi pada tekanan jual. Kondisi ini menunjukkan pasar sedang dalam kelemahan struktural meski sentimen positif masih ada.
Alex Thorn menjelaskan kemungkinan pergerakan harga Bitcoin: "Meskipun pergerakan harga bisa terombang-ambing sekitar diskon historis maksimum terhadap basis biaya ETF sebesar -10% (sekitar $76.000), ada kemungkinan besar harga Bitcoin akan terdorong turun hingga ke batas bawah celah pasokan di $70.000 dan berpotensi menguji harga realisasi sekitar $56.000 serta rata-rata pergerakan 200-minggu di $58.000 dalam beberapa pekan atau bulan ke depan."
Riwayat Penurunan Harga Bitcoin dan Level Support Kunci
Data historis menunjukkan bahwa, kecuali pada tahun 2017, Bitcoin tidak mengalami penurunan harga sebesar 40% dari titik tertinggi tanpa kemudian meluas hingga 50% atau lebih dalam kurun waktu tiga bulan. Penurunan 50% dari harga tertinggi saat ini akan menempatkan Bitcoin tepat di level $63.000, yang dianggap sebagai titik kritis berikutnya oleh Thorn.
Dalam tiga siklus bull market terakhir (2013/14, 2017/18, 2019, dan 2021), rata-rata pergerakan 50-minggu berperan sebagai support utama. Namun ketika support ini gagal mempertahankan harga, Bitcoin cenderung kembali ke rata-rata pergerakan 200-minggu, yang kini berada pada level $58.000. Harga realisasi, yaitu rata-rata biaya dasar koin berdasarkan pergerakan terakhirnya, juga berada di kisaran kritis $56.000.
Perbandingan Bitcoin dengan Aset Safe Haven Tradisional
Sejak awal kuartal keempat tahun ini, Bitcoin gagal menunjukkan performa yang sebanding dengan aset safe haven tradisional seperti emas dan perak. Hal ini mendapat perhatian dari para analis keuangan karena biasanya Bitcoin diharapkan dapat berfungsi sebagai pelindung nilai dalam kondisi ketidakpastian global.
Investor kini lebih memilih komoditas di tengah ketegangan perdagangan yang meningkat dan kekhawatiran terhadap keberlanjutan utang negara-negara besar. Meski memiliki sifat desentralisasi dan utilitas lintas batas, Bitcoin justru kehilangan posisi sebagai aset perlindungan bagi investor dalam kondisi makroekonomi yang bergejolak.
Peluang Investasi pada Level Harga yang Lebih Rendah
Galaxy Research sebelumnya telah memperingatkan bahwa tahun ini akan sangat sulit memprediksi target harga akhir tahun untuk Bitcoin. Kondisi pasar yang tidak menentu semakin mengukuhkan pendapat tersebut setelah 45 hari pertama tahun ini berlalu.
Meski prospek jangka pendek terlihat suram, terdapat peluang strategis jika harga Bitcoin mencapai level support yang kuat. Thorn menilai bahwa secara historis Bitcoin menemukan dukungan di sekitar atau sedikit di bawah harga realisasi sebelum kemudian bergerak naik pada titik terendah siklus bearish.
Galaxy Research menyatakan bahwa jika harga Bitcoin mendekati rata-rata pergerakan 200-minggu di $58.000 atau harga realisasi di $56.000, maka level tersebut dapat menjadi titik masuk yang menarik bagi investor jangka panjang sesuai pola yang pernah terjadi di siklus sebelumnya.
Informasi ini menunjukkan pentingnya memperhatikan data onchain dan pola historis harga untuk memahami dinamika pasar Bitcoin, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global saat ini. Perubahan harga yang signifikan bisa menjadi momentum baru bagi investor yang siap memanfaatkan peluang nilai jual dan beli secara strategis.
