Wali Kota Cimahi Tegaskan Komitmen Zero to TPA untuk Cegah Tragedi Sampah Leuwigajah dan Wujudkan Kota Asri 2026

Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 di Kota Cimahi menjadi momen penting dalam menegaskan komitmen pemerintah daerah terhadap pengelolaan sampah berkelanjutan. Acara yang digelar di Kampung Adat Cireundeu, Kelurahan Leuwigajah, ini mengangkat tema "Kolaborasi untuk Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah," menegaskan langkah nyata menuju lingkungan yang bersih dan asri.

Wali Kota Cimahi, Ngatiyana, mengingatkan kembali tragedi longsor sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Leuwigajah pada 2005 yang mengakibatkan banyak korban jiwa. Ia menegaskan bahwa kejadian tersebut adalah pelajaran berharga untuk menerapkan pengelolaan sampah yang lebih baik. “Pengelolaan sampah yang buruk bisa berujung bencana. Ini tidak boleh terulang,” ucapnya di hadapan peserta peringatan.

Komitmen Zero to TPA

Ngatiyana mendorong paradigma baru dalam pengelolaan sampah dengan konsep ‘zero to TPA’. Artinya, sampah harus dipilah sejak dari rumah, diolah di wilayah masing-masing, dan tidak lagi dibuang ke TPA secara masif. Menurutnya, “Sampah bukan untuk dibuang, tapi dituntaskan.” Langkah ini diharapkan mampu mengurangi beban TPA serta meminimalisasi dampak lingkungan negatif.

Pengelolaan sampah yang lebih terdistribusi dan lokal menjadi fokus utama agar sampah dapat ditangani pada sumbernya dan menghindari penumpukan di lokasi pembuangan akhir. Komitmen ini sejalan dengan target nasional untuk mencapai 100 persen pengelolaan sampah pada 2029.

Inovasi Strategis di Cimahi

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cimahi, Chanifah Listyarini, memaparkan berbagai program inovatif sebagai respons terhadap tantangan pengelolaan sampah. Salah satunya adalah pembukaan Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) utama di Cimahi Selatan yang mulai beroperasi pada 10 Februari 2026. TPST ini mampu mengolah 10 hingga 15 ton sampah per hari dan berperan krusial dalam mengurangi beban TPA.

Selain itu, DLH juga melakukan kegiatan pengawasan kualitas lingkungan seperti pengambilan sampel air sumur di Seke Cilimus untuk analisis kualitas air. Dalam rangka edukasi, mereka meluncurkan kaleidoskop pengelolaan sampah selama 20 tahun serta animasi edukasi digital yang menyasar seluruh lapisan masyarakat.

DLH memperkenalkan Buku Pedoman Kewilayahan Pengelolaan Sampah Terpadu Tuntas di Tempat untuk membantu camat dan lurah mengelola sampah wilayahnya lebih efektif. Program pendidikan dan sedekah sampah berbasis sekolah juga menjadi bagian penting dalam membangun kesadaran generasi muda terhadap pengelolaan sampah.

Peran Masyarakat dan Kearifan Lokal

Ngatiyana menegaskan bahwa perubahan pola pikir masyarakat ialah kunci utama kesuksesan pengelolaan sampah. “Persoalan sampah adalah milik kita bersama,” ujarnya, mengajak semua pihak bertanggung jawab atas dampak sampah terhadap lingkungan dan sesama manusia. Pendidikan kepedulian lingkungan yang diajarkan sejak dini menjadi fondasi utama untuk perubahan tersebut.

Abah Widi, Ais Pangampih Kampung Adat Cireundeu, juga memberikan refleksi penting terkait tragedi Leuwigajah. Ia mengingatkan agar pemerintah selalu mengawasi dan menerapkan aturan yang benar agar kejadian serupa tidak terulang. Masyarakat Cireundeu sendiri dikenal dengan kearifan lokal dalam pengelolaan lingkungan dan makanan berbasis pangan non-beras, yang menjadi contoh harmonisasi antara manusia dan alam.

Tantangan dan Target Pengelolaan Sampah di Cimahi

Kota Cimahi menghadapi tantangan besar dengan timbulan sampah harian yang mencapai sekitar 234 hingga 260 ton. Data menunjukkan bahwa tingkat pengelolaan sampah saat ini baru mencapai 49,6 persen. Hal ini menunjukkan bahwa masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk memenuhi target nasional pengelolaan sampah sebesar 100 persen pada 2029.

Untuk itu, edukasi masyarakat tentang pemilahan sampah sejak dari rumah menjadi pilar utama dalam strategi pengurangan sampah. Dengan dukungan berbagai program dan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan, pengelolaan sampah yang efektif dan berkelanjutan dapat diwujudkan.

Peringatan Hari Peduli Sampah Nasional di Cimahi tidak hanya sebagai momentum refleksi, tetapi juga sebagai titik tolak kolaborasi yang lebih kuat antara pemerintah dan masyarakat. Harapannya, peringatan ini dapat memacu inisiatif dan tindakan nyata guna mewujudkan lingkungan hidup yang lebih sehat, aman, dan indah bagi generasi masa depan.

Berita Terkait

Back to top button