Bitcoin Bertahan Kuat, Saham Asia Terjun Bebas Saat Ketegangan Iran Memanas dan Harga Minyak Melonjak Tajam

Ketegangan akibat serangan militer AS dan Israel terhadap Iran memicu gejolak besar di pasar Asia saat Senin. Harga minyak melonjak tajam hingga 13% pada Brent crude, sementara indeks saham utama Asia mengalami penurunan signifikan. Namun, dalam kondisi pasar yang bergejolak, Bitcoin menunjukkan performa yang lebih tangguh dibandingkan saham.

Pasar saham Jepang, Hong Kong, dan Singapura mengalami tekanan berat dengan penurunan masing-masing 1,66%, 2,54%, dan 2,13%. Penutupan Selat Hormuz yang kritis bagi jalur minyak dunia menjadi faktor utama di balik lonjakan harga minyak dan kejatuhan saham. Saham maskapai penerbangan regional merosot lebih dari 5% karena biaya bahan bakar membengkak dan gangguan penerbangan akibat konflik regional.

Dampak Konflik terhadap Pasar dan Minyak

Sekitar 20% dari minyak yang diangkut melalui jalur laut global melewati Selat Hormuz. Informasi digital menunjukkan hampir tidak ada lalu lintas tanker di wilayah tersebut, dengan beberapa kapal mengalami serangan. Ekonom memperingatkan bahwa penutupan panjang selat ini dapat mendorong harga minyak mencapai 108 dolar AS per barel. OPEC+ mengumumkan peningkatan produksi 206 ribu barel per hari mulai April yang dipimpin oleh Arab Saudi, Rusia, dan Uni Emirat Arab. Namun, langkah ini kemungkinan memberikan bantuan terbatas jika pasokan melalui Selat Hormuz tetap terganggu.

Respon Bitcoin dalam Kondisi Krisis

Bitcoin sempat turun 2,2% di tengah tekanan pasar global. Namun, penurunannya lebih ringan dibandingkan saham dan kontrak berjangka AS yang anjlok di atas 1%. Setelah kabar kematian Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei, harga Bitcoin sempat turun di bawah 64.000 dolar AS dan pasar kripto kehilangan sekitar 128 miliar dolar dari nilai kapitalisasi. Pemulihan cepat terjadi ketika pasar berharap kekosongan kekuasaan dapat menurunkan eskalasi konflik dan mendorong harga Bitcoin naik melewati 68.000 dolar AS pada hari Minggu.

Namun, serangan balasan Iran dengan misil dan drone menurunkan kembali harga Bitcoin ke bawah 66.000 dolar AS. Senin pagi di Asia, Bitcoin diperdagangkan sekitar 66.543 dolar AS dengan volume transaksi 24 jam mencapai 43,6 miliar dolar. Tingginya aktivitas ini mencerminkan strategi trader yang bersiap memasuki pembukaan pasar AS.

Bitcoin dan Dinamika ETF serta Pasar 24 Jam

Krisis ini menyoroti karakter unik Bitcoin sebagai aset likuid yang diperdagangkan 24 jam penuh. Saat pasar tradisional tutup di akhir pekan, Bitcoin menyerap tekanan jual dan berfungsi sebagai “katup tekanan” bagi investor yang mencari likuiditas instan. Dana Exchange-Traded Fund (ETF) Bitcoin juga mencatat aliran masuk bersih hampir 254 juta dolar AS dalam tiga hari terakhir. Ini menjadi ujian bagi ketahanan posisi institusional pada saat ketegangan geopolitik meningkat.

Funding rate pada kontrak berjangka Bitcoin melonjak negatif tajam, menandakan sentimen pasar sedang di wilayah “Ketakutan Ekstrem”. Beberapa analis menganggap situasi ini sebagai sinyal kontras bahwa pasar secara mekanis memberikan insentif untuk posisi beli jangka panjang.

Ancaman Inflasi dan Tantangan Kebijakan Moneter

Lonjakan harga energi berpotensi memperparah tekanan inflasi global. Kenaikan biaya minyak dan energi bisa menunda penurunan suku bunga oleh bank sentral seperti Federal Reserve AS, yang selama ini diantisipasi pasar. Ketidakpastian konflik memperbesar risiko bagi aset berisiko, termasuk Bitcoin dan saham. Kebijakan produksi tambahan dari OPEC+ mungkin tidak cukup meredam jika gangguan pasokan melalui Selat Hormuz berkepanjangan.

Prospek Bitcoin dalam Kondisi Geopolitik

Support kuat Bitcoin berada pada level 60.000 dolar, yang menjadi batas bawah penting. Jika tembus, bisa membuka ruang penurunan ke kisaran tengah 50.000-an dolar. Sebaliknya, kenaikan di atas 70.000 dolar berpotensi memicu short squeeze mengingat posisi bearish di pasar derivatif cukup besar. Pengumuman data inflasi CPI dan keputusan suku bunga Fed bulan depan menjadi katalis penting yang menambah kompleksitas navigasi pasar kripto di tengah ketegangan Iran.

Perkembangan selanjutnya terkait konflik Iran dan respons pasar global akan memberikan gambaran hubungan dinamis antara aset tradisional dan aset digital seperti Bitcoin dalam kondisi krisis geopolitik. Bitcoin terus menjadi aset yang menarik untuk diamati dalam konteks volatilitas tinggi dan kebutuhan likuiditas investor internasional.

Terkait