Bitcoin Tergelincir di Tengah Lonjakan Minyak dan Anjloknya Saham AS, Konflik Iran Picu Volatilitas Pasar Global

Author: Qoo Media

Bitcoin terus mengalami tekanan di pasar pada akhir pekan lalu, setelah mengalami penurunan selama beberapa hari terakhir. Harga bitcoin berada di kisaran $66.456, turun sekitar 1,7% dalam 24 jam terakhir berdasarkan data CoinGecko.

Namun, jika dilihat dalam jangka waktu mingguan, nilai bitcoin justru menguat sekitar 1,4%. Meski demikian, secara bulanan aset kripto terbesar ini masih tercatat merosot sekitar 7,3%, mencerminkan ketidakpastian pasar yang disebabkan oleh ketegangan geopolitik dan kondisi makroekonomi global.

Pengaruh Kenaikan Harga Minyak dan Pasar Saham AS

Kondisi pasar saham Amerika Serikat juga menunjukkan pelemahan signifikan. Kontrak berjangka Dow Jones jatuh lebih dari 800 poin atau sekitar 1,7%. Sementara itu, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq-100 masing-masing turun sekitar 1,5% menjelang pembukaan sesi perdagangan AS. Penurunan ini dipicu oleh lonjakan harga minyak mentah akibat konflik yang semakin meningkat di Timur Tengah.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) melonjak sekitar 18% ke atas $107 per barel. Brent crude juga naik sekitar 16% ke level $108 per barel. Ini menandai pertama kalinya sejak tahun lalu benchmark minyak dunia menembus ambang psikologis $100 per barel.

Kekhawatiran akan terganggunya pasokan minyak global melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran penting yang mengangkut sekitar 20% dari total pengiriman minyak dunia, menjadi faktor sentral dalam tekanan pasar energi saat ini.

Dampak Konflik Iran terhadap Bitcoin

Serangan terhadap fasilitas bahan bakar dan kilang minyak di Tehran oleh pesawat tempur Israel serta serangan drone Iran terhadap kapal tanker minyak dan instalasi energi di Teluk semakin memperberat ketegangan. Situasi ini menimbulkan ketidakpastian yang memengaruhi aset berisiko seperti bitcoin.

Secara historis, bitcoin dan aset kripto lainnya cenderung bergerak sejalan dengan pasar saham selama masa-masa krisis makroekonomi. Lonjakan harga minyak yang berkelanjutan dapat meningkatkan tekanan inflasi dan menunda kemungkinan penurunan suku bunga acuan, yang pada akhirnya memperketat kondisi keuangan bagi aset spekulatif.

Menurut Pratik Kala, kepala riset di Apollo Crypto, kenaikan harga minyak langsung berdampak pada peningkatan biaya produk sehari-hari, termasuk bahan pangan. Oleh karena itu, tekanan harga minyak dapat meluas ke berbagai sektor ekonomi, memperburuk sentimen pasar terhadap aset berisiko.

Perubahan Kepemimpinan Iran dan Risiko Keamanan

Ketegangan geopolitik juga memanas dengan penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran menggantikan Ayatollah Ali Khamenei yang wafat akibat serangan Israel. Mojtaba, yang belum pernah memegang jabatan politik publik, kini mengendalikan keputusan militer dan strategis, termasuk pengawasan terhadap Korps Pengawal Revolusi Islam, unit militer elite Iran.

Kala menilai bahwa penunjukan tokoh yang kehilangan keluarga akibat serangan ini kemungkinan akan memicu keputusan yang emosional dan sulit diprediksi. Risiko eskalasi konflik lebih lanjut menjadi perhatian utama yang dapat mempengaruhi stabilitas pasar global.

Kemungkinan Tren Selanjutnya untuk Bitcoin

Meski bitcoin sempat turun di bawah level $66.000 dalam perdagangan akhir pekan, mata uang kripto ini menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, yang mengindikasikan bahwa pelaku pasar mulai menyerap dampak awal dari gejolak geopolitik saat ini. Namun, ketidakpastian yang berlarut-larut bisa membuat volatilitas kembali meningkat.

Investor dan trader kini menanti apakah gejolak harga minyak akan memicu pelemahan lebih lanjut pada aset berisiko lain atau terbatas hanya pada komoditas energi. Kejadian di Timur Tengah tetap menjadi variabel utama yang harus diwaspadai dalam menjaga keseimbangan pasar keuangan dan cryptocurrency.

Terbaru