Serangan Crypto Guncang Kepercayaan Wall Street, Risiko DeFi Membatasi Langkah Adopsi

Author: Qoo Media

Rentetan peretasan besar di dunia kripto kembali memicu kekhawatiran di kalangan pelaku pasar keuangan tradisional. Meski adopsi blockchain terus meluas, insiden terbaru membuat Wall Street menilai ulang risiko yang melekat pada keuangan terdesentralisasi atau DeFi.

Sorotan utama kini bukan hanya pada kerugian besar yang muncul dari eksploitasi protokol, tetapi juga pada infrastruktur lintas rantai yang menjadi bagian penting dari fase pertumbuhan berikutnya. Di saat yang sama, perdebatan menguat soal apakah masalah keamanan ini akan menghambat langkah institusi besar, atau justru hanya memperlambat ruang spekulatif di kripto.

Tekanan baru untuk narasi DeFi

Analis makro kripto Noelle Acheson menilai serangan-serangan terbaru memang merusak cerita besar tentang DeFi. Namun, ia menegaskan bahwa gangguan itu tidak otomatis melemahkan narasi tokenisasi aset yang sedang dibangun oleh institusi.

Dalam episode 22 April podcast The Wolf of All Streets yang dipandu Scott Melker, Acheson mengatakan, “Saya sepenuhnya setuju bahwa ini akan merugikan cerita DeFi. Ini tidak akan merugikan cerita tokenisasi sama sekali.”

Pernyataan itu muncul setelah laporan Jefferies pada 21 April memperingatkan bahwa peretasan besar seperti eksploitasi KelpDao senilai $293 juta dan serangan pada Drift Protocol senilai $280 juta bisa memperlambat ambisi blockchain milik Wall Street. Meski begitu, Acheson menilai dampaknya tidak merata ke seluruh ekosistem kripto.

Institusi dinilai masih bergerak di jalur tertutup

Menurut Acheson, banyak aktivitas institusional sebenarnya sudah berlangsung di jaringan blockchain berizin atau permissioned blockchain. Model ini membatasi eksposur langsung terhadap risiko DeFi yang lebih terbuka dan lebih berisiko.

“Sebagian besar itu terjadi di blockchain berizin… itu yang diizinkan oleh pengacara mereka dan disetujui oleh departemen kepatuhan,” ujarnya. Pendekatan ini menunjukkan bahwa institusi besar cenderung memilih jalur yang lebih terkontrol daripada langsung terjun ke protokol terbuka.

Meski demikian, Acheson juga mengingatkan bahwa tokenisasi tetap membutuhkan koneksi ke sistem terdesentralisasi jika ingin mempertahankan nilainya. Ia menegaskan pertanyaannya sederhana: “Apa gunanya tokenisasi jika tidak bisa berinteraksi dengan protokol DeFi?”

Risiko merembet ke stablecoin

Dampak dari eksploitasi ini kini tidak lagi berhenti di level protokol DeFi. Perhatian pasar juga mulai bergeser ke infrastruktur pendukung, termasuk stablecoin yang selama ini menjadi bagian penting dalam transaksi lintas rantai.

Sebuah gugatan class-action yang diajukan pada 14 April terhadap Circle Internet Group menuduh perusahaan gagal membekukan dana saat peretasan Drift Protocol berlangsung. Gugatan itu menyebut sekitar $230 juta berhasil dipindahkan lintas blockchain oleh para peretas.

Kasus tersebut memunculkan pertanyaan baru tentang peran penerbit stablecoin ketika insiden keamanan terjadi. Apakah mereka seharusnya tetap netral sebagai perantara, atau harus lebih aktif turun tangan untuk menghentikan pergerakan dana mencurigakan.

Acheson menyebut situasi ini berpotensi membuka “kotak masalah regulasi yang sama sekali baru”, terutama terkait ekspektasi terhadap intervensi saat serangan terjadi. Perdebatan itu kini ikut membentuk cara Wall Street menimbang peluang blockchain, karena risiko teknis, tanggung jawab hukum, dan tuntutan kepatuhan makin sulit dipisahkan dari rencana adopsi yang lebih luas.

Terbaru