Bloodlines 2 Akhirnya Memberi Senjata Benar-Benar Bisa Dipakai, DLC Pertama Hadir Besok

Author: Qoo Media

Bloodlines 2 akan mendapatkan DLC pertama yang menghadirkan pendekatan pertarungan yang jauh berbeda dari game dasarnya. Konten tambahan berjudul Loose Cannon ini dijadwalkan hadir di Steam dan langsung memberi pemain kesempatan menggunakan senjata api serta senjata jarak dekat secara layak, bukan sekadar item sekali pakai yang digerakkan lewat telekinesis.

Perubahan ini menjadi sorotan karena permainan utama Vampire: The Masquerade—Bloodlines 2 dinilai punya cerita yang menarik, tetapi sistem pertarungannya terasa kurang bertenaga. Dalam game dasar, pertarungan lebih banyak bertumpu pada tinju berbasis kekuatan vampir, sementara senjata seperti pistol, senjata tajam, dan senjata tumpul tidak diperlakukan sebagai alat utama bertarung.

Fokus Baru di DLC Pertama

Loose Cannon mengambil sudut pandang berbeda dengan tidak lagi menempatkan Phyre sebagai tokoh utama. Pemain akan berperan sebagai Benny, karakter sampingan yang sudah muncul di sekuel tersebut dan digambarkan jauh lebih suka turun langsung ke pertempuran.

Benny dikenal sebagai sheriff vampir di Seattle yang kemudian membelot di awal cerita Bloodlines 2. DLC ini akan mengulas peristiwa yang membuatnya menghilang dari posisinya, sekaligus menjelaskan mengapa sosok dengan sifat impulsif seperti dia bisa dipilih sebagai sheriff sejak awal.

Kelas Brujah Jadi Alasan Utama

Benny berasal dari klan Brujah, yang dalam dunia Vampire: The Masquerade dikenal sebagai pejuang garis depan. The Chinese Room memanfaatkan latar belakang itu untuk mengembalikan gaya bertarung yang lebih bebas, lengkap dengan penggunaan senjata api dan senjata melee seperti pada Bloodlines versi Troika.

Tidak hanya itu, Benny juga dibekali finisher pertarungan sendiri. Dengan tambahan ini, Loose Cannon tampak berusaha menjawab kritik lama terhadap combat Bloodlines 2 yang selama ini terasa monoton dan terlalu mengandalkan satu pola serangan.

Kembali ke Senjata, Bukan Sekadar Tangan Kosong

Langkah ini juga memunculkan ironi kecil bagi penggemar lama seri tersebut. Dalam Bloodlines orisinal, Brujah justru dikenal punya bonus untuk pertarungan tangan kosong, sehingga menjadikan Benny sebagai karakter yang mengandalkan senjata terasa agak berlawanan dengan kebiasaan lama klan itu.

Meski begitu, The Chinese Room menyebut pendekatan ini sebagai “new take” atas gaya bermain Brujah. Perubahan tersebut tampaknya ditujukan untuk memberi variasi yang lebih jelas bagi pemain yang merasa pertarungan di game dasar terlalu berulang.

Konten Baru di Lokasi Lama

Selain sistem pertarungan, Loose Cannon juga membawa misi baru yang berlangsung di lokasi-lokasi familiar yang dirombak ulang. Detail ini menjadi penting karena Bloodlines 2 sejak awal memang tidak memiliki banyak area eksplorasi, sehingga pengulangan tempat bisa cepat terasa jenuh bagi sebagian pemain.

Kekhawatiran terhadap pengulangan lokasi juga menjadi catatan tersendiri bagi DLC ini. Meski misi baru memberi alasan untuk kembali menjelajah, game ini tetap harus membuktikan bahwa konten tambahan mampu menghadirkan pengalaman yang terasa segar, bukan sekadar membawa pemain memutari area yang sama.

Respons atas Nasib Sequel yang Kurang Mulus

Kehadiran Loose Cannon juga menandai bahwa Bloodlines 2 masih mendapat dukungan meski performa komersialnya tidak sesuai harapan Paradox. Publisher tersebut sebelumnya mengakui proyek ini melalui perjalanan yang panjang dan penuh masalah, namun menegaskan tidak akan meninggalkan game ini begitu saja.

DLC pertama ini memperlihatkan bahwa komitmen itu masih berjalan. Loose Cannon akan menjadi ujian awal apakah pendekatan baru pada pertarungan, karakter, dan misi bisa membantu Bloodlines 2 menemukan ritme yang lebih kuat di mata pemain.

Terbaru