Komite Perbankan Senat Amerika Serikat pada Senin malam merilis teks rancangan undang-undang besar yang telah lama dinanti untuk membangun kerangka regulasi крипto. Pembahasan ini menjadi penting karena rancangan tersebut berupaya memperjelas kewenangan regulator keuangan atas sektor aset digital yang terus tumbuh.
Dijuluki Clarity Act, rancangan itu bisa menjadi salah satu langkah paling menentukan bagi industri kripto di Washington. Jika lolos, aturan ini berpotensi membuka jalan bagi adopsi aset digital yang lebih luas, sambil menetapkan batas yang lebih tegas bagi bursa, broker, dan platform kripto.
Sengketa terbesar: imbal hasil stablecoin
Bagian paling diperdebatkan dari rancangan ini menyangkut cara bursa kripto dan pelaku lain boleh memberi imbal hasil atas stablecoin, yaitu token kripto yang dipatok ke dolar. Rancangan itu melarang imbal hasil atas saldo menganggur pada stablecoin yang sangat mirip deposito bank, tetapi masih memperbolehkan imbal hasil untuk aktivitas berbasis transaksi, seperti pembayaran menggunakan stablecoin.
Untuk menjalankan aturan itu, Securities and Exchange Commission, Commodity Futures Trading Commission, dan Treasury Department harus menyusun aturan bersama. Bank menolak ketentuan ini karena khawatir dana simpanan bisa bergeser keluar dari sistem perbankan yang diatur, sedangkan perusahaan kripto menilai larangan bagi pihak ketiga seperti bursa untuk membayar bunga atas stablecoin bersifat anti-kompetitif.
Aturan anti-pencucian uang akan diperketat
Rancangan ini juga memperluas perlakuan terhadap pelaku pasar kripto dalam kerangka Bank Secrecy Act. Semua bursa, broker, dan dealer komoditas digital akan diperlakukan sebagai lembaga keuangan, sehingga wajib mematuhi aturan anti-pencucian uang, identifikasi nasabah, dan uji tuntas.
Langkah ini akan menempatkan perusahaan kripto pada rezim anti-pencucian uang yang sebagian besar setara dengan bank. Sejumlah perusahaan kripto sebelumnya berargumen bahwa mereka tidak tunduk pada aturan yang sama.
Pengecualian penggalangan dana untuk perusahaan kripto
Clarity Act juga memberi kelonggaran besar dalam penggalangan dana. Perusahaan kripto akan diizinkan menghimpun hingga $50 juta per tahun dan sampai $200 juta secara total tanpa harus mendaftar ke SEC seperti perusahaan lain saat mencari pendanaan.
Token kripto yang terkait dengan kontrak investasi masih bisa dijual di bawah rezim ini, tetapi dengan beban regulasi yang lebih ringan dibandingkan perlakuan terhadap sekuritas. Ketentuan ini juga akan membatasi kemampuan SEC untuk berargumen bahwa sebagian besar penjualan token merupakan penawaran sekuritas ilegal.
Definisi baru untuk platform terdesentralisasi
Banyak platform kripto populer beroperasi secara terdesentralisasi, artinya pengguna bertransaksi langsung satu sama lain. Model ini berbeda dari bursa tradisional yang berada di tengah transaksi dan memegang dana pelanggan.
Rancangan undang-undang ini akan menentukan kapan sebuah platform dianggap cukup terdesentralisasi. Jika tidak memenuhi ambang itu, platform akan diperlakukan sebagai lembaga keuangan dan wajib melaporkan aktivitas mencurigakan serta memantau transaksi, mirip dengan bank.
Platform juga tidak akan dianggap terdesentralisasi jika mereka bisa memblokir pengguna, atau jika mereka memiliki izin privat atau hak istimewa khusus yang tidak dimiliki pengguna lain.
Aturan tokenisasi tetap menempel pada hukum sekuritas
Bagian lain dari rancangan ini menyoroti tokenisasi, yaitu proses mengubah aset keuangan seperti saham, obligasi, bahkan real estat menjadi aset kripto. Perusahaan kripto telah berinvestasi dalam perdagangan saham bertoken sambil menunggu langkah SEC yang diharapkan membuka ruang eksperimen bagi perdagangan saham berbasis blockchain.
Rancangan itu menegaskan bahwa menempatkan sekuritas di blockchain tidak membebaskannya dari hukum sekuritas. Selain itu, SEC diminta untuk mempelajari lebih lanjut perlakuan regulasi atas sekuritas bertoken, dan secara umum aset seperti itu akan diperlakukan sama dengan sekuritas yang mendasarinya.







