Banyak pengguna menyukai tablet E Ink karena layar terasa nyaman di mata, baterai tahan lama, dan pengalaman menulisnya mendekati kertas. Boox Go Max mencoba membawa semua kelebihan itu ke layar 13,3 inci, tetapi ukuran besar, bobot lebih dari 600 gram, dan harga $600 membuat perangkat ini tidak sesederhana kelihatannya.
Perangkat ini menarik perhatian karena hadir dengan build quality yang solid, panel Carta 1300 monokrom, serta resolusi 300 ppi yang membuat teks tampak tajam. Namun, pengalaman memakai Boox Go Max menunjukkan bahwa tablet E Ink besar tidak selalu lebih praktis daripada model yang lebih ringkas seperti Boox Go 10.3.
Ukuran besar mengubah cara pakai
Masalah utama muncul saat perangkat ini diperlakukan seperti tablet E Ink yang lebih kecil. Boox Go 10.3 bisa diletakkan di meja, dibawa dalam tas, lalu dipakai kapan saja tanpa banyak pertimbangan, sedangkan Go Max menuntut penggunaan yang lebih sengaja.
Bobotnya yang berat membuat perangkat ini tidak cocok untuk penggunaan spontan. Pengguna cenderung berpikir dua kali sebelum membawanya, karena tablet ini bukan lagi perangkat yang bisa “masuk tas dan dilupakan” seperti model 10,3 inci.
Layar sangat bagus, tetapi tetap punya batas
Daya tarik terbesar Boox Go Max ada pada layarnya. Panel Carta 1300 memberi kontras yang sangat baik, dan teks terlihat jelas saat membaca dokumen panjang atau memberi anotasi pada PDF.
Ada satu catatan penting, yaitu absennya front light. Kondisi ini tidak selalu menjadi masalah, tetapi ketika ruangan redup, pengguna tetap membutuhkan cahaya latar dari lingkungan sekitar agar panel tetap nyaman dibaca.
Spesifikasi dan sistem operasi masih kompetitif
Boox Go Max membawa RAM 6GB dan penyimpanan internal 128GB, lalu menjalankan Android 13 dengan tampilan antarmuka khas Onyx yang berat modifikasinya. Untuk kelas E Ink, performanya tergolong responsif dan tetap mampu menjalankan banyak aplikasi Android yang kompatibel dengan layar e-paper.
Keunggulan lain datang dari ekosistem perangkat lunak Onyx. Aplikasi catatan, alat baca dokumen, hingga NeoBrowser dirancang agar sesuai dengan karakter layar E Ink, sehingga pengalaman kerja terasa lebih mulus dibanding tablet biasa yang dipaksa memakai panel e-paper.
Bukan perangkat yang cocok untuk semua orang
Berikut gambaran singkat yang membedakan Boox Go Max dari Boox Go 10.3:
| Aspek | Boox Go 10.3 | Boox Go Max |
|---|---|---|
| Ukuran | Lebih ringkas | 13,3 inci, setara A4 |
| Bobot | Lebih ringan | Lebih dari 600 gram |
| Portabilitas | Tinggi | Rendah |
| Harga | Tidak murah | $600 |
| Kegunaan utama | Catatan harian dan mobilitas | Dokumen, PDF, dan kerja meja |
Perbedaan itu menjelaskan mengapa Go Max terasa seperti produk niche. Tablet ini lebih masuk akal untuk pengguna yang banyak membaca PDF, memeriksa email, atau menulis lama di meja kerja tanpa ingin menatap LCD atau OLED.
Keyboard case tidak menyelesaikan semua masalah
Onyx juga menyediakan keyboard case, tetapi aksesori itu justru memperburuk sisi praktisnya. Bobot perangkat menjadi makin berat, ruang mengetik terasa sempit, dan trackpad mudah tersentuh tanpa sengaja saat mengetik.
Dalam skenario itu, kombinasi tablet dan keyboard case malah mendekati bobot laptop atau Chromebook, tetapi tanpa fleksibilitas setara perangkat komputasi penuh. Karena itu, kombinasi terbaik justru muncul saat Go Max dipakai dengan keyboard wireless terpisah dan diletakkan seperti monitor E Ink di meja kerja.
Cocok untuk pembaca dokumen dan pekerja meja
Kekuatan Go Max terlihat jelas saat dipakai membaca dokumen utuh tanpa perlu banyak zoom. Ukurannya yang setara kertas A4 memberi ruang luas untuk anotasi PDF, mencatat poin penting, dan bekerja dalam sesi panjang yang lebih ramah mata.
Untuk pengguna yang menghabiskan banyak waktu di depan dokumen kerja, perangkat ini menawarkan alternatif yang menarik. Boox Go Max memang tidak sepenuhnya menggantikan tablet yang lebih kecil, tetapi ia memberi ruang kerja yang lebih lega bagi mereka yang mengutamakan kenyamanan visual dan produktivitas berbasis dokumen.
