Inovasi agrivoltaic mulai menarik perhatian karena menawarkan cara baru memanfaatkan lahan PLTS agar tidak hanya menghasilkan listrik, tetapi juga nilai ekonomi tambahan. Di Indonesia, konsep ini relevan karena proyek surya umumnya beroperasi puluhan tahun dan membutuhkan biaya perawatan vegetasi yang tidak kecil di iklim tropis yang membuat rumput tumbuh cepat.
Solar grazing menjadi salah satu bentuk agrivoltaic yang paling potensial untuk diterapkan. Skema ini memanfaatkan hewan ternak, terutama domba, untuk memangkas rumput di area pembangkit surya sehingga operator tidak perlu terlalu sering memakai mesin pemotong atau herbisida.
Efisiensi PLTS Melampaui Biaya Konstruksi
CEO PT Gema Aset Solusindo, Syam Basrijal, menilai efisiensi PLTS seharusnya tidak hanya dihitung dari biaya pembangunan dan tarif listrik. Ia menekankan bahwa fase operasional selama 25–30 tahun justru sering menyerap biaya besar, terutama untuk pengelolaan vegetasi di sekitar panel.
Menurut Syam, solar grazing mengubah cara industri membaca efisiensi proyek energi. “Solar grazing mengubah cara kita membaca efisiensi, bukan hanya pada bagaimana membangun pembangkit, tetapi bagaimana mengelola ruangnya secara berkelanjutan,” ujarnya dalam keterangan yang dikutip pada Senin, 13 April 2026.
Dalam konteks Indonesia, pendekatan ini penting karena banyak lokasi PLTS berada di area terbuka dengan pertumbuhan vegetasi yang cepat. Jika rumput dibiarkan terlalu tinggi, operator perlu memotongnya secara rutin agar tidak mengganggu akses, keamanan, dan performa operasional.
Bagaimana Solar Grazing Bekerja
Sistem ini memadukan produksi energi surya dengan peternakan di lahan yang sama. Ternak dilepas dengan pengawasan untuk menjaga tinggi rumput tetap terkendali tanpa merusak instalasi panel.
Syam menyebut metode biologis ini bisa memangkas biaya pengelolaan vegetasi secara signifikan. Ia merujuk pada praktik internasional yang menunjukkan pengurangan biaya sekitar 20–40 persen dibanding metode konvensional.
Berikut manfaat utama solar grazing yang paling sering dibahas dalam pengembangan agrivoltaic:
- Menekan biaya pemeliharaan vegetasi.
- Mengurangi penggunaan bahan bakar mesin pemotong dan herbisida.
- Menambah pendapatan dari sektor peternakan.
- Mengurangi emisi dari kegiatan operasional.
- Membuka peluang kemitraan dengan peternak lokal.
Peluang Ekonomi untuk Indonesia
Selain efisiensi biaya, solar grazing menciptakan sumber pendapatan baru dari lahan yang sebelumnya hanya menjadi zona penyangga. Syam menyebut lahan itu bisa berubah menjadi area produksi protein hewani, sehingga satu aset dapat memberi dua arus nilai sekaligus: listrik dan ternak.
Ia memperkirakan kepadatan ideal sekitar 5–10 ekor domba per hektare, tergantung desain lahan dan kapasitas pengelolaan. Dengan model ini, pemilik proyek tidak hanya mengandalkan skema tarif listrik, tetapi juga memperoleh diversifikasi pendapatan yang lebih tahan terhadap fluktuasi pasar.
Model ini juga cocok untuk memperluas partisipasi ekonomi masyarakat sekitar. Jika peternak lokal dilibatkan, proyek PLTS tidak lagi dipandang sebagai infrastruktur yang tertutup, melainkan sebagai ruang usaha bersama yang memberi manfaat langsung ke lingkungan sekitar.
Aspek Teknis yang Tidak Boleh Diabaikan
Meski menjanjikan, solar grazing tidak bisa diterapkan sembarangan. Desain panel harus disesuaikan agar aman bagi ternak dan tetap efektif untuk produksi listrik.
Tabel berikut menunjukkan faktor teknis yang perlu diperhatikan:
| Aspek | Kebutuhan Utama |
|---|---|
| Tinggi panel | Cukup aman untuk pergerakan ternak |
| Jarak antarbaris | Memudahkan akses dan sirkulasi hewan |
| Proteksi kabel | Mencegah kerusakan akibat kontak ternak |
| Jenis ternak | Domba lebih disukai karena lebih aman dibanding kambing |
| Pengawasan lahan | Menjaga ternak tidak merusak sistem instalasi |
Syam menjelaskan domba lebih cocok karena ukurannya relatif kecil dan tidak memiliki kebiasaan memanjat seperti kambing. Karena itu, desain fisik pembangkit harus benar-benar mempertimbangkan interaksi antara panel, ternak, dan aktivitas operasional harian.
Relevansi untuk Transisi Energi Nasional
Di tengah dorongan transisi energi, agrivoltaic memberi contoh bahwa inovasi tidak selalu harus dimulai dari teknologi baru yang mahal. Kadang, nilai tambahan justru muncul dari cara mengelola ruang yang sudah ada dengan lebih cerdas dan produktif.
Bagi Indonesia, solar grazing dapat membuka jalan bagi pengembangan PLTS yang lebih efisien, inklusif, dan berkelanjutan. Dengan pengelolaan yang tepat, lahan surya tidak lagi hanya menjadi tempat panel berdiri, tetapi juga ruang produksi yang menghubungkan energi bersih, peternakan, dan manfaat ekonomi lokal dalam satu sistem yang saling menguatkan.
