Lonjakan kebutuhan komputasi membuat pasar GPU semakin ketat. Dalam situasi ini, Ocean Network mencoba menawarkan pendekatan baru lewat model yang disebut seperti “Airbnb untuk compute”, yaitu jaringan yang memungkinkan kapasitas GPU menganggur dipakai bersama secara lebih efisien.
Gagasannya sederhana, tetapi dampaknya bisa besar bagi pengguna yang butuh komputasi dan pemilik perangkat yang sering tidak terpakai. Ocean Network membangun jaringan komputasi peer-to-peer terdesentralisasi yang mengubah GPU idle atau kurang termanfaatkan menjadi marketplace komputasi terdistribusi.
Menjual kapasitas GPU yang menganggur
Ocean Network menargetkan kondisi pasar yang semakin sulit diakses karena permintaan dari hyperscaler, perusahaan AI, hingga gamer terus naik. Di tengah kelangkaan GPU, permintaan juga berubah-ubah secara tajam dari waktu ke waktu, sehingga kapasitas yang kosong di satu sisi bisa menjadi peluang di sisi lain.
Lewat jaringan ini, pengguna bisa mengirim pekerjaan komputasi ke Ocean Node yang dipilih tanpa harus mengurus infrastruktur sendiri. Hasil pekerjaan kemudian dikirim kembali setelah proses selesai, sementara sistem Ocean memantau kualitas node lewat benchmark berulang agar performanya sesuai harapan pengguna akhir.
Bogdan Fazakas, lead engineer Ocean Network, menggambarkan skenario ini seperti gamer yang memakai PC selama 10 jam sehari lalu ingin memonetisasi daya proses saat perangkatnya tak digunakan. Model ini membuka peluang bagi pemilik perangkat rumahan maupun perusahaan untuk memperoleh nilai dari sumber daya yang sebelumnya menganggur.
Pilih hardware sesuai kebutuhan
Ocean Network memberi fleksibilitas bagi pengguna untuk memilih model GPU tertentu dan menetapkan kebutuhan minimum CPU serta RAM. Beberapa opsi hardware yang disebutkan termasuk Nvidia H200, A100, dan Tesla T4.
Setelah lingkungan kerja dipetakan, pengguna bisa menjalankan tugas terkontainerisasi dalam bahasa seperti Python atau JavaScript hanya dengan satu klik. Mereka juga bisa memantau proses secara langsung dan menarik hasilnya kembali ke lingkungan lokal secara otomatis.
Untuk pengembang, Ocean Orchestrator menjadi penghubung yang memungkinkan pekerjaan dijalankan dari platform yang sudah akrab digunakan. Integrasinya tersedia secara native dengan VS Code, Cursor, Windsurf, dan Antigravity, sehingga pengguna tidak perlu berpindah ke sistem terpisah hanya untuk menjalankan komputasi.
Pembayaran berbasis penggunaan
Ocean memakai mekanisme escrow pay-per-use, sehingga pengguna membayar hanya untuk pekerjaan yang selesai. Biaya dihitung berdasarkan sumber daya yang benar-benar dikonsumsi, yaitu waktu, hardware, dan environment, bukan untuk menyewa mesin dalam keadaan menganggur.
Fazakas menjelaskan bahwa sistem juga bisa membatasi pemakaian berdasarkan anggaran. “You can set a node to use only, for example, 10 USDC. After you reach 10 USDC, the job will be stopped,” ujarnya.
Untuk transaksi, Ocean menggunakan USDC milik Circle di blockchain Base dari Coinbase, yang merupakan jaringan layer-2 Ethereum. Dana ditempatkan dalam escrow dan hanya dilepas setelah node berhasil menyelesaikan tugas dan mengembalikan output.
Fokus pada privasi data
Ocean Network juga menempatkan privasi sebagai bagian penting dari arsitektur layanannya. Perusahaan menggunakan pendekatan Compute-to-Data, yaitu metode komputasi yang menjalankan algoritma di dalam container terisolasi di tempat data berada.
Dengan cara ini, data tidak perlu dipindahkan ke luar sumbernya, sementara yang dikirim kembali hanya hasil komputasi. Pendekatan ini ditujukan untuk menjaga kerahasiaan data sekaligus memungkinkan proses komputasi berjalan di atas infrastruktur terdistribusi.
Meski memakai kripto untuk penyelesaian pembayaran, pengguna tidak wajib membuat wallet sendiri seperti MetaMask. Ocean memanfaatkan smart wallet dari Alchemy untuk autentikasi lewat akun Google, email, dan passkeys, sehingga akses terasa lebih sederhana bagi pengguna Web2 maupun Web3.
Menuju pembayaran kartu dan uji coba beta
Ocean Network juga sedang menyiapkan fitur “card-to-compute” agar pengguna bisa membayar langsung dengan kartu kredit per pekerjaan. Sistem tersebut akan secara otomatis mengonversi USDC ke mata uang lokal dan mengisi detail pembayaran melalui widget on-ramp, tanpa perlu menukar aset di bursa atau melakukan bridge token.
Saat ini, Ocean mengundang data scientist Web2, data analyst, dan builder Web3 untuk mencoba jaringan beta. Pengguna baru mendapat kredit gratis senilai $100, sementara peluncuran awalnya didukung kerja sama dengan Aethir untuk memastikan pasokan GPU berkinerja tinggi tersedia sejak awal.
Pada fase beta awal, Ocean masih memusatkan layanan pada sisi permintaan, yaitu menjalankan job di jaringan. Mulai pertengahan April, pengguna juga bisa menjalankan node sendiri untuk memonetisasi kapasitas GPU dan CPU yang tidak terpakai, sehingga model compute sharing ini bergerak ke arah pasar yang lebih terbuka dan lebih mudah diakses.
