Linus Torvalds Geram Soal 99 Persen Kode Ditulis AI, Programmer Tetap Harus Paham Dasarnya

Linus Torvalds melontarkan kritik tajam terhadap klaim bahwa hampir seluruh kode kini bisa ditulis oleh kecerdasan buatan. Pencipta Linux itu mengatakan ia “benar-benar marah” saat mendengar ada pihak yang menyebut 99 persen kode mereka dibuat oleh AI.

Pernyataan itu muncul di tengah meluasnya penggunaan alat seperti Claude Code dari Anthropic dan Codex dari OpenAI. Tren ini ikut mendorong praktik yang dikenal sebagai vibe coding, yaitu penggunaan AI untuk menulis kode secara lebih otomatis.

Bagi Torvalds, AI memang membawa perubahan besar dalam dunia pemrograman, tetapi perannya tetap sebatas alat bantu. Ia menegaskan bahwa AI adalah alat yang hebat, namun tetap hanya alat.

Pandangan itu menjadi penting karena datang dari sosok yang sangat berpengaruh dalam dunia perangkat lunak. Torvalds menciptakan Linux pada 1991, sistem operasi open-source yang kemudian dipakai luas oleh para programmer dan mendominasi banyak web server serta superkomputer di dunia.

AI dinilai tidak mengubah dasar pemrograman

Torvalds tidak menolak dampak AI terhadap cara kerja programmer. Namun, ia menekankan bahwa fondasi pemrograman tetap tidak berubah meski teknologi berkembang sangat cepat.

Menurut dia, orang tetap harus memahami dasar-dasar pemrograman dengan baik. Ia menyebut dirinya “100 persen yakin” bahwa AI sedang mengubah pemrograman, tetapi tidak mengubah hal-hal fundamentalnya.

Ia membandingkan dampak AI dengan kehadiran compiler pada masa lalu. Dalam pandangannya, AI bisa meningkatkan produktivitas programmer hingga 10 kali lipat, seperti lompatan efisiensi yang pernah dibawa alat-alat pengembangan perangkat lunak sebelumnya.

Compiler sendiri merupakan alat yang mengubah kode yang bisa dibaca manusia menjadi kode biner yang bisa dipahami mesin. Karena itu, Torvalds melihat AI sebagai lapisan baru dalam rantai alat bantu pemrograman, bukan pengganti pemahaman teknis manusia.

Ia menggambarkan perubahan ini sebagai revolusi yang serupa dengan revolusi sebelumnya dalam sejarah pengembangan software. Maksudnya, programmer bisa memakai AI untuk menghasilkan kode yang kemudian diproses lagi oleh compiler, assembler, hingga menjadi instruksi mesin.

Bukan sekadar menulis prompt

Sorotan utama Torvalds tertuju pada kecenderungan sebagian orang yang menganggap AI bisa mengambil alih seluruh proses menulis kode. Ia menilai anggapan seperti itu berbahaya, terutama jika pengembang tidak benar-benar memahami hasil akhir yang dihasilkan model AI.

Menurut Torvalds, pemahaman terhadap output jauh lebih penting daripada sekadar kemampuan menyusun prompt. Ia menegaskan bahwa pengembang harus memahami bukan hanya perintah yang diberikan ke AI, tetapi juga hasil kode yang keluar, karena hanya dengan cara itu kode bisa dipelihara dalam jangka panjang.

Pernyataan tersebut menyentuh isu yang kini makin relevan di industri perangkat lunak. Banyak perusahaan teknologi terus mendorong pemakaian AI dalam proses coding, sambil menata ulang investasi mereka ke arah pengembangan AI.

Di saat yang sama, Torvalds mengakui bahwa AI memang menurunkan hambatan masuk bagi programmer baru. Ia melihat semakin banyak pengembang yang kini bisa ikut berkontribusi ke Linux, termasuk mereka yang memanfaatkan AI untuk membantu menulis kode.

Namun, kemudahan itu menurutnya tidak boleh disalahartikan sebagai izin untuk melepas tanggung jawab teknis. Kode yang dihasilkan AI tetap harus dipahami, diuji, dan dirawat oleh manusia yang menggunakannya.

Perdebatan makin tajam di industri

Komentar Torvalds hadir ketika sejumlah perusahaan besar berbicara terbuka tentang tingginya porsi kode yang dihasilkan AI. Anthropic termasuk perusahaan yang mengklaim AI kini menulis hampir seluruh kode mereka.

Isu ini juga muncul bersamaan dengan langkah perusahaan seperti Meta dan Amazon yang semakin agresif mendorong investasi ke AI. Dalam konteks itu, pernyataan Torvalds bisa dibaca sebagai pengingat bahwa efisiensi tidak otomatis menggantikan disiplin rekayasa perangkat lunak.

Pandangan serupa juga datang dari tokoh lain di dunia pemrograman. Pencipta bahasa C++, Bjarne Stroustrup, baru-baru ini mengatakan kualitas kode buatan AI sangat buruk sampai membuat banyak pengembang memilih pensiun daripada harus berurusan dengannya.

Perdebatan ini menunjukkan bahwa adopsi AI dalam coding tidak hanya soal kecepatan dan penghematan waktu. Di balik janji produktivitas, masih ada pertanyaan besar tentang kualitas, pemeliharaan jangka panjang, dan kemampuan pengembang memahami sistem yang mereka bangun.

Bagi Torvalds, titik itu tampaknya menjadi garis yang tidak bisa dilampaui. AI boleh mempercepat pekerjaan, membuka pintu bagi lebih banyak orang, dan mendorong revolusi baru dalam pemrograman, tetapi tanggung jawab atas kode tetap berada di tangan manusia yang memakainya.

Source: www.indiatoday.in

Berita Terkait

Back to top button