
Microsoft resmi memperlihatkan Project Solara, sebuah platform chip-to-cloud yang dirancang untuk memindahkan pengalaman komputasi dari aplikasi ke interaksi AI yang bekerja secara agen. Langkah ini menempatkan Microsoft langsung di jalur persaingan baru untuk perangkat AI yang disebut-sebut bisa menantang iPhone dan ponsel Android premium.
Yang paling menarik dari pengumuman ini adalah perangkat wearable berbentuk badge yang tidak disebut sebagai ponsel, tetapi membawa banyak elemen hardware dan software seperti smartphone. Microsoft ingin mendorong model baru, yakni perangkat yang selalu terhubung dan berfungsi sebagai antarmuka AI untuk menyelesaikan tugas tanpa harus bergantung pada grid aplikasi tradisional.
Perangkat kecil, kamera di atas, dan konektivitas lengkap
Badge Project Solara ditujukan terutama untuk pekerja lini depan dan pekerja informasi. Microsoft menggambarkannya sebagai antarmuka khusus untuk AI agent, dengan UI yang lebih sederhana dan berpusat pada perintah, bukan susunan aplikasi yang biasa ditemukan di ponsel.
Perangkat konsep ini memakai layar sentuh kecil untuk berinteraksi dengan AI agent. Kamera yang dipasang di bagian atas juga disiapkan untuk membantu kesadaran lingkungan, sementara ada kamera sisi yang terlihat pada konsep saat ini.
Microsoft juga menyematkan pemindai sidik jari di sisi perangkat untuk keamanan biometrik. Di sisi lain, tersedia privacy switch, tombol volume, mikrofon array far-field dengan rasio signal-to-noise tinggi, serta speaker untuk mendukung interaksi suara.
Berbasis Android dan didorong silikon Qualcomm
Microsoft menyebut perangkat ini berjalan di atas sistem operasi berbasis Android yang mereka sebut Microsoft Device Ecosystem Platform. Perusahaan menilai paradigma smartphone dengan app-launcher terlalu rumit untuk era AI agent yang aktif.
Dari sisi konektivitas, badge ini mendukung WiFi, Bluetooth, GNSS, dan 5G. Microsoft juga menempatkan Qualcomm wearable silicon sebagai otak utama perangkat, meski chip yang dipakai disebut kemungkinan masih belum diumumkan.
Kombinasi itu menunjukkan arah desain yang jelas: perangkat ini bukan sekadar aksesori, tetapi komputer wearable yang dibuat untuk selalu online. Microsoft ingin perangkat seperti ini terasa lebih ringan, lebih spesifik, dan lebih siap untuk tugas berbasis AI daripada ponsel umum.
Uji internal dan target pasar enterprise
Meski masih berstatus konsep, Microsoft sudah menguji badge dan smart display secara internal di antara ratusan karyawan. Perusahaan ingin membawa perangkat wearable ini dari tahap konsep ke adopsi yang lebih luas secepat mungkin.
Setelah pengujian internal dimulai, Microsoft juga bersiap menjalankan pilot enterprise di sektor kesehatan, ritel, hospitality, jasa keuangan, hukum, industri, dan field services. Ini memperlihatkan bahwa target awalnya bukan pasar konsumen massal, melainkan lingkungan kerja yang menuntut perangkat cepat, praktis, dan sadar konteks.
Selain badge, Microsoft juga menampilkan konsep smart display yang tampak seperti gabungan smart speaker dan layar. Perangkat ini berada dalam keluarga Project Solara dan memperlihatkan bahwa strategi Microsoft tidak hanya bertumpu pada wearable, tetapi juga pada perangkat desktop yang dihubungkan ke AI agent.
Persaingan dengan arah baru perangkat AI
Kehadiran Project Solara muncul di tengah rumor bahwa OpenAI sedang mempercepat smartphone AI sendiri untuk potensi peluncuran awal 2027. Microsoft tampak ingin mengambil posisi sebagai penyedia platform penting untuk gelombang perangkat berikutnya.
Qualcomm juga memberi sinyal kuat bahwa pasar ini sedang bergerak cepat. CEO Qualcomm mengatakan bahwa resistensi terhadap perangkat dan sistem operasi berbasis agentic AI pada dasarnya tidak ada gunanya.
Microsoft menilai kunci persaingan bukan hanya pada bentuk fisik perangkat, tetapi pada “stack” yang mendasarinya. Menurut perusahaan, perangkat yang benar-benar agent-first harus purpose-built, ringan, dan spesialis untuk AI, bukan sekadar ponsel biasa yang dipasangi fungsi tambahan.
Dengan pendekatan seperti itu, Microsoft ingin memindahkan beban pembuatan antarmuka dari developer aplikasi native ke sistem AI yang dapat membentuk UI sesuai kebutuhan. Jika strategi ini berhasil, persaingan dengan ekosistem iPhone dan Android tidak lagi hanya soal aplikasi, melainkan soal siapa yang paling cepat mendefinisikan ulang perangkat pribadi untuk era AI.
Source: www.notebookcheck.net








