Persaingan dua nama besar di pasar kamera dan gimbal kini masuk ke babak yang lebih keras di pengadilan. Insta360 menggugat balik DJI setelah sebelumnya DJI lebih dulu melayangkan dua gugatan paten terhadap perusahaan tersebut.
Langkah balasan ini penting karena tidak lagi sekadar membantah tuduhan, melainkan menyerang balik dengan klaim pelanggaran paten milik sendiri. Dalam dua gugatan yang diajukan di pengadilan distrik Texas pada akhir pekan, Insta360 menuduh DJI melanggar lima paten utilitas.
Gugatan balasan itu muncul hanya sepekan setelah DJI menuding Insta360 melanggar total enam paten milik DJI. Dengan situasi ini, sengketa keduanya berkembang menjadi pertarungan hukum dua arah yang berpotensi memengaruhi bisnis kedua perusahaan di Amerika Serikat.
Insta360 menyebut sejumlah produk DJI masuk dalam cakupan tuduhannya. Produk yang disebut antara lain seri Osmo Pocket, seri Ronin/RS, Osmo Mobile, dan Osmo 360.
Fokus sengketa paten
Menurut Insta360, produk-produk tersebut melanggar paten yang berkaitan dengan stabilisasi gimbal, stabilisasi kamera, telemetry overlay, dan teknologi lain. Artinya, sengketa ini tidak menyentuh satu fitur kecil saja, tetapi menyasar teknologi inti yang menjadi fondasi banyak perangkat kamera modern.
Perusahaan itu juga menuduh pelanggaran dilakukan secara sengaja. Dalam dokumen gugatannya, Insta360 menyatakan DJI telah melakukan pelanggaran dengan sadar terhadap patennya, termasuk paten bernomor 8,938,161.
Insta360 menyebut DJI setidaknya sudah mengetahui dugaan pelanggaran tersebut sejak Agustus 2017. Alternatif lainnya, menurut klaim itu, DJI paling tidak telah mengetahuinya sejak 4 Juni 2026, saat Insta360 mengirim pemberitahuan tertulis yang mengidentifikasi paten yang dipersoalkan.
Tuduhan pelanggaran yang disengaja biasanya menjadi elemen penting dalam sengketa paten karena dapat memengaruhi tuntutan ganti rugi. Itu pula yang menjelaskan mengapa Insta360 tidak hanya meminta kompensasi dasar.
Tuntutan terhadap DJI
Dalam gugatannya, Insta360 meminta pengadilan memerintahkan DJI membayar ganti rugi. Tuntutan itu mencakup lost profits, royalti, serta supplemental damages.
Perusahaan tersebut juga meminta bunga sebelum putusan dan sesudah putusan. Ruang lingkup tuntutan ini menunjukkan Insta360 mengejar pemulihan finansial seluas mungkin jika pengadilan nantinya menerima argumentasinya.
Sengketa ini menjadi semakin menarik karena Insta360 secara terbuka mengaitkan gugatan DJI dengan peluncuran produk terbarunya. Perusahaan menyatakan gugatan dari DJI diajukan pada hari yang sama ketika Insta360 Luna Ultra diluncurkan.
Pendiri Insta360, JK Liu, mengatakan Luna Ultra merupakan hasil riset dan pengembangan independen selama bertahun-tahun. Ia juga menyebut pengajuan gugatan oleh DJI pada hari peluncuran itu memperlihatkan kekhawatiran terhadap persaingan dari produk yang sangat kompetitif.
Latar konflik yang memanas
Pernyataan tersebut memberi gambaran bahwa perselisihan ini tidak hanya soal paten, tetapi juga soal perebutan posisi di pasar. Di industri kamera aksi, kamera pintar, dan perangkat stabilisasi, fitur teknis kerap menjadi pembeda utama dan sekaligus sumber konflik hukum.
DJI sendiri lebih dulu membuka front hukum dengan dua gugatan terhadap Insta360. Dalam gugatan tersebut, DJI menuduh Insta360 melanggar enam paten miliknya, meski rincian paten itu tidak dijabarkan lebih jauh dalam informasi yang tersedia.
Dengan adanya gugatan dan gugatan balasan, kedua perusahaan kini saling menempatkan diri sebagai pihak yang dirugikan. Situasi seperti ini bisa memperpanjang proses hukum karena masing-masing pihak perlu membuktikan validitas paten, ruang lingkup klaim, serta apakah produk lawan benar-benar masuk dalam cakupan paten itu.
Pengadilan di Texas kini menjadi arena utama dari konflik ini. Hasil akhirnya dinilai berpotensi memberi dampak besar terhadap produk kedua perusahaan di pasar Amerika Serikat.
Dampak bagi pasar AS
Jika salah satu pihak menang atas klaim pelanggaran paten, dampaknya bisa meluas ke strategi produk dan penjualan. Perusahaan dapat menghadapi kewajiban finansial, pembayaran royalti, atau konsekuensi lain yang memengaruhi keberadaan perangkat tertentu di pasar.
Karena produk yang disebut mencakup lini populer seperti Osmo Pocket, Ronin/RS, dan Osmo Mobile, perkara ini berpotensi menarik perhatian luas dari pelaku industri dan konsumen. Sengketa juga menyentuh area teknologi yang sangat penting bagi pengalaman pengguna, terutama stabilisasi gambar dan integrasi data visual.
Sampai saat ini, belum ada tanggapan dari DJI dalam perkembangan terbaru tersebut. Android Authority menyatakan telah meminta komentar kepada DJI dan akan memperbarui laporannya jika sudah menerima respons.
Untuk saat ini, yang jelas adalah konflik antara DJI dan Insta360 telah berubah dari gugatan sepihak menjadi duel hukum terbuka. Kedua perusahaan kini sama-sama membawa klaim paten ke meja hijau, dengan taruhan yang bisa memengaruhi masa depan produk mereka di Amerika Serikat.
Source: www.androidauthority.com






