Flipkart mulai menempatkan AI di jantung operasinya, bukan hanya sebagai alat bantu tambahan. Perusahaan e-commerce ini menyebut sekitar 35-40 persen kode internalnya kini sudah dihasilkan oleh alat AI.
Angka itu menunjukkan perubahan besar dalam cara Flipkart membangun produk dan sistem. Di saat banyak perusahaan masih menguji manfaat AI, Flipkart justru mendorong pemakaian yang lebih dalam dengan mengembangkan model bahasa besar atau LLM khusus untuk kebutuhan e-commerce.
Balaji Thiagarajan, chief product and technology officer Flipkart, mengatakan perusahaan sedang membangun “agentic e-commerce platform”. Platform itu disebut ditenagai kombinasi model AI frontier dan model milik sendiri.
Pendekatan ini menandai strategi yang berbeda dari sekadar mengandalkan model umum. Flipkart menilai model general-purpose saja tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan yang sangat spesifik di bisnis e-commerce.
Menurut Thiagarajan, perusahaan perlu membangun model sendiri agar AI bisa benar-benar efektif di tugas tertentu. Ia menilai spesialisasi model untuk tugas-tugas khusus menjadi pembeda utama dalam pemanfaatan AI.
Flipkart menyatakan telah menerapkan lebih dari 250 model di seluruh ekosistemnya. Model-model itu dipakai di berbagai area, mulai dari pencarian produk hingga produktivitas internal.
AI dipakai dari belanja sampai penulisan kode
Pemanfaatan AI di Flipkart tidak terbatas pada satu fungsi teknis. Teknologi ini dipakai untuk product discovery, conversational shopping, operasi penjual, dan pekerjaan internal perusahaan.
Salah satu penggunaan yang paling menonjol adalah pada penulisan kode. Thiagarajan mengatakan sekitar 35-40 persen kode perusahaan kini sudah dihasilkan oleh alat AI.
Tren itu sejalan dengan perubahan yang lebih luas di industri teknologi. Sejumlah perusahaan mulai memindahkan porsi kerja rekayasa perangkat lunak ke sistem AI, terutama untuk mempercepat pengembangan.
Dalam konteks yang sama, Meesho dilaporkan sudah menghasilkan lebih dari 70 persen kodenya dengan AI. Sebelumnya, Presiden OpenAI Greg Brockman juga pernah menyebut AI menulis sekitar 80 persen dari seluruh kode di startup tersebut.
Meski demikian, Flipkart tampaknya tidak melihat masa depan AI sebagai dominasi satu model tunggal. Perusahaan justru menyiapkan arsitektur yang menggabungkan berbagai model untuk berbagai jenis pekerjaan.
Strategi “mixture of experts”
Thiagarajan menilai perusahaan pada akhirnya akan memakai model AI yang berbeda untuk aktivitas yang berbeda pula. Karena itu, Flipkart kemungkinan memadukan alat eksternal seperti Claude Code dengan model buatannya sendiri.
Ia menggambarkan arah ini sebagai “mixture of experts”. Dalam skema itu, sebagian “ahli” berasal dari model eksternal, sementara sebagian lain merupakan model yang dibangun Flipkart sendiri.
Menurutnya, diferensiasi akan datang dari data, kemampuan engineering, dan kemampuan mengembangkan LLM e-commerce yang sangat spesifik. Dengan kata lain, nilai utama bukan hanya pada akses ke AI, tetapi pada bagaimana AI itu dilatih dan diterapkan untuk masalah bisnis yang khas.
Pandangan ini juga menjelaskan mengapa Flipkart berinvestasi pada model yang lebih sempit dan terarah. Untuk tugas seperti pencarian produk, bantuan percakapan saat belanja, atau alur kerja penjual, perusahaan menilai akurasi dan konteks domain jauh lebih penting daripada kemampuan umum.
Masih fase investasi, fokus ke tata kelola
Di tengah meningkatnya biaya AI di industri, Flipkart mengatakan belum terlalu fokus pada hitung-hitungan ROI untuk saat ini. Thiagarajan menyebut perusahaan masih berada dalam mode investasi.
Ia mengatakan perhatian yang lebih besar saat ini justru tertuju pada AI governance. Area yang menjadi fokus mencakup moderasi konten, fidelity respons, sistem human-in-the-loop, dan reinforcement learning.
Penekanan pada tata kelola itu penting karena AI dipakai di fungsi yang langsung bersentuhan dengan pelanggan dan penjual. Risiko jawaban yang keliru, konten yang tidak tepat, atau keputusan otomatis yang lepas dari pengawasan menjadi perhatian utama ketika skala pemakaian AI terus membesar.
Perubahan arah ini juga diikuti penyesuaian organisasi. Flipkart baru-baru ini menunjuk Vinay Vaidya sebagai SVP, Technology for Supply Chain.
Langkah tersebut muncul saat persaingan investasi AI di India juga makin intens. Amazon, salah satu rival utama Flipkart, telah mengumumkan investasi $13 billion di India hingga 2030 untuk memperluas infrastruktur cloud dan AI, sehingga total rencana investasinya di negara itu mencapai $48 billion.
Pada saat perusahaan seperti Uber dan Walmart mulai mengurangi penggunaan AI untuk karyawan karena biaya yang naik, Flipkart justru tetap memperbesar taruhannya. Fokus perusahaan saat ini bukan sekadar menekan ongkos, melainkan membangun fondasi AI yang cukup kuat untuk menopang operasional e-commerce secara lebih luas.
Source: www.indiatoday.in






