Dulu Raja Industri Porno, Kini Guru Startup Jepang, Keishi Kameyama Jadi Miliarder

Keishi Kameyama membuktikan bahwa citra seorang pebisnis bisa berubah total. Sosok yang dulu identik dengan industri hiburan dewasa di Jepang kini justru dipandang sebagai salah satu figur penting di ekosistem startup dan teknologi Negeri Sakura.

Perubahan itu tidak datang dalam semalam. Kameyama, pendiri DMM.com, dulu harus menghadapi penolakan, kesulitan mendapat pinjaman bank, dan jarak dalam berbagai kesepakatan bisnis karena stigma yang melekat pada usaha awalnya.

DMM.com sendiri bermula sebagai perusahaan internet raksasa yang dikenal luas lewat distribusi konten dewasa. Namun, bisnis itu kemudian melebar jauh ke berbagai sektor digital lain yang lebih luas dan lebih beragam.

Kini, lini usaha DMM mencakup platform trading valuta asing, video game, sekolah bahasa Inggris online, hingga proyek energi surya. Di tengah ekspansi itu, bisnis konten dewasa yang dulu menjadi identitas utama grup kini menyumbang kurang dari sepertiga total pendapatan.

Menurut Bloomberg, DMM mencatat penjualan sekitar US$1,7 miliar. Perkembangan ini ikut mengangkat posisi Kameyama, yang berdasarkan perhitungan Bloomberg Billionaires Index memiliki kekayaan sekitar US$3,5 miliar.

Dari sosok kontroversial menjadi panutan startup

Di mata publik, perubahan terbesar Kameyama justru muncul dari penerimaan sosial yang makin luas. Sosok yang dulu dianggap kontroversial kini mulai diterima sebagai pionir internet Jepang dan kerap disebut sebagai panutan bagi generasi muda yang ingin membangun perusahaan rintisan.

Salah satu titik balik reputasinya datang ketika Takeshi Kitano, entertainer sekaligus sutradara ternama Jepang yang dikenal sebagai Beat Takeshi, bersedia tampil dalam iklan inkubator startup milik Kameyama. Dukungan figur besar itu membantu membuka ruang baru bagi citra sang pengusaha.

Pengakuan terhadap peran Kameyama kemudian meluas ke lingkungan akademik dan media. Pada Desember 2016, mahasiswa Keio University mengundangnya berbicara tentang investasi di Afrika dan dukungannya terhadap wirausahawan muda.

Sebulan setelah itu, majalah mingguan populer Jepang memberinya kolom khusus di platform digital Bunshun Online. Di sana, ia menulis tentang pola asuh anak dan hubungan keluarga, tema yang memperlihatkan sisi personal di luar dunia bisnis.

Daya tarik DMM di mata talenta muda

Popularitas Kameyama ikut menular pada DMM sebagai tempat kerja. Dalam survei mahasiswa yang dilakukan surat kabar ekonomi Jepang, Nikkei, nama DMM masuk daftar 100 perusahaan terbaik untuk bekerja di Jepang.

Posisi DMM bahkan disebut berada di atas perusahaan teknologi global seperti IBM dan Google. Bagi Kameyama, daya tarik itu datang dari budaya inovasi yang terus dijaga di dalam perusahaan.

Ia menilai orang tertarik karena DMM selalu mencoba hal baru dan tidak takut bereksperimen. Sikap itu menjadi fondasi ekspansi yang membuat grupnya tidak lagi bergantung pada satu lini bisnis saja.

Di luar pencapaian bisnis dan kekayaan, Kameyama juga dikenal menjalani hidup yang sederhana. Pria yang telah menikah dan memiliki dua anak itu disebut masih sering bersepeda ke kantor.

Ia kerap tampil dengan kaus monokrom dan janggut tipis, jauh dari gambaran klasik seorang miliarder. Kontras antara gaya hidupnya dan ukuran bisnis yang ia bangun membuat transformasi Kameyama terasa semakin mencolok.

Perjalanan Kameyama menunjukkan bagaimana reputasi, bisnis, dan penerimaan publik bisa berubah seiring waktu. Dari figur yang sempat dijauhi karena industri yang digelutinya, ia kini berdiri sebagai simbol adaptasi dan keberanian mengambil risiko di ekonomi digital Jepang.

Source: id.mashable.com
Terkait