Netanyahu Jadi Prioritas Iran, Donald Trump Jadi Sasaran Berikutnya Menurut Analisis

Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menjadi target utama pengawasan intelijen Iran. Mayor Jenderal Yahya Rahim Safavi dari Iran menyatakan bahwa aparatnya mengetahui dengan detail lokasi pertemuan Netanyahu pada 3 Maret. Pernyataan ini menunjukkan tingginya intensitas spionase Iran terhadap pejabat Israel.

Safavi juga mengkritik mantan Presiden AS Donald Trump yang dianggapnya sebagai "pion di tangan Netanyahu". Ia menilai Trump telah mengorbankan kepentingan Amerika Serikat demi mendukung Israel secara berlebihan.

Pengawasan Iran dan Pengaruh pada Politik AS

Intelijen Iran tidak hanya fokus pada Israel, tetapi juga memantau kebijakan dan tokoh-tokoh Amerika Serikat yang terkait dengan Israel. Safavi menyebut banyak politisi AS mulai mempertanyakan penggunaan dana pajak dan pengorbanan nyawa tentara Amerika untuk mendukung kepentingan Israel. Hal ini mencerminkan ketegangan yang juga melanda hubungan bilateral Washington dan Teheran.

Iran memperkuat kemampuan tempur mereka, terutama di bidang rudal dan drone. Setelah perang selama 12 hari dengan Israel pada Juni 2025, Iran mengklaim meningkatkan kemampuan ofensif hingga sepuluh kali lipat. Meski begitu, mereka tetap membuka ruang untuk jalur diplomasi sebagai opsi politika utama.

Klaim Iran atas Serangan AS-Israel

Safavi menuding operasi gabungan Amerika Serikat dan Israel berdasarkan penilaian yang salah terhadap kekuatan Iran pasca-konflik. Menurutnya, serangan yang dilancarkan hanya menghancurkan bangunan yang sudah kosong dari personel dan peralatan. Ini menunjukkan bahwa Iran berusaha mengurangi dampak kerusakan militer secara langsung.

Selain itu, Iran yakin bahwa kampanye yang bertujuan mengganti rezim di Teheran tidak akan terlaksana. Safavi mengutarakan bahwa Majelis Pakar segera akan menetapkan pengganti Ayatollah Khamenei melalui Dewan Kepemimpinan sementara, sebagai bagian dari kelangsungan kepemimpinan negara.

Dinamika Hubungan Israel-AS-Iran

Berikut adalah poin penting terkait situasi saat ini:

  1. Iran memperkuat intelijen dan kemampuan militer pasca-konflik dengan Israel.
  2. Netanyahu menjadi fokus utama pengawasan Teheran.
  3. Trump dianggap memainkan peran penting yang menguntungkan Israel secara strategis.
  4. Politisi AS semakin mempertanyakan dukungan keuangan dan militer bagi Israel.
  5. Iran tetap membuka opsi diplomasi meskipun terus memperkuat pertahanan.

Situasi ini memperlihatkan kompleksitas hubungan ketiga negara dan bagaimana kepentingan politik serta militer saling bertautan. Fokus Iran terhadap Netanyahu dan kritiknya terhadap peran Donald Trump menandai bahwa konflik ini tidak hanya bersifat regional, tetapi juga berdampak pada dinamika politik global.

Baca selengkapnya di: www.medcom.id
Terkait