AS Dan Uni Eropa Kompak Amankan Mineral Kritis, Upaya Lepas Dari Cengkeraman China

Amerika Serikat dan Uni Eropa tengah bergerak menuju kesepakatan penting untuk menyelaraskan produksi dan pengamanan mineral kritis. Langkah ini muncul ketika kedua pihak sama-sama berupaya mengurangi ketergantungan pada pasokan dari China yang selama ini mendominasi rantai pasok global.

Draf rencana aksi yang dilihat Bloomberg menunjukkan kesepakatan itu tidak hanya berfokus pada pasokan bahan mentah, tetapi juga pada pembentukan insentif baru bagi pemasok non-China. Salah satu opsi yang dibahas adalah penetapan harga minimum, yang dirancang untuk membuat rantai pasokan mineral lebih stabil dan menarik bagi investasi baru.

Dorongan untuk mengurangi risiko pasokan

Mineral kritis memegang peran besar dalam industri modern. Bahan-bahan ini dipakai dalam sistem panduan rudal, jet tempur, kendaraan listrik, hingga berbagai perangkat elektronik yang menjadi tulang punggung ekonomi digital.

Ketergantungan yang terlalu besar pada satu negara membuat banyak pemerintah mencari jalur pasokan alternatif. Situasi itu makin mendesak setelah China memberlakukan kontrol ekspor luas pada logam tanah jarang, langkah yang memicu kekhawatiran di banyak negara industri.

Kontrol ekspor tersebut lahir sebagai respons atas tarif yang sebelumnya diberlakukan mantan Presiden AS Donald Trump. Dampaknya terasa ke rantai pasok global, termasuk di Eropa, ketika sejumlah perusahaan sempat menghadapi ancaman gangguan produksi.

Isi koordinasi AS dan Uni Eropa

Menurut dokumen yang dikutip Bloomberg, kerja sama itu akan mencakup beberapa bidang utama. Kedua pihak tidak hanya ingin mengamankan bahan baku, tetapi juga membangun sistem yang membuat suplai mineral lebih tahan terhadap tekanan geopolitik.

Berikut ruang lingkup koordinasi yang dibahas:

  1. Penetapan standar bersama untuk produksi dan perdagangan mineral kritis.
  2. Investasi serta proyek bersama di sektor hulu dan hilir.
  3. Koordinasi saat terjadi gangguan pasokan dari negara tertentu.
  4. Pengembangan mekanisme insentif bagi pemasok non-China.
  5. Upaya mencari mitra lain yang sejalan untuk memperluas perjanjian multinasional.

Pendekatan ini memperlihatkan bahwa AS dan Uni Eropa tidak hanya ingin bereaksi terhadap krisis, tetapi juga membangun sistem jangka panjang yang lebih aman.

Cakupan dari eksplorasi hingga daur ulang

Nota kesepahaman yang sedang dibahas disebut tidak mengikat, tetapi cakupannya cukup luas. Kerja sama itu akan meliputi eksplorasi, ekstraksi, pengolahan, pemurnian, daur ulang, hingga pemulihan mineral kritis.

Selain itu, ada pula pembahasan mengenai pengadaan publik bersama, pembatasan ekspor, penimbunan, dan pemetaan sumber daya mineral. Dengan cakupan seperti ini, kerja sama dinilai tidak hanya menyasar ketersediaan pasokan saat ini, tetapi juga kontrol atas fase-fase penting dalam siklus hidup mineral.

Data yang banyak dikutip dalam diskusi ini adalah dominasi China dalam pengolahan tanah jarang. Saat ini, China memproses lebih dari 80% total tanah jarang dunia, angka yang menunjukkan betapa terpusatnya rantai pasok bahan strategis tersebut.

Tekanan geopolitik dan upaya mencari mitra baru

AS dan Uni Eropa juga sedang mencari “mitra yang sependapat” untuk bergabung dalam kerangka kerja multinasional ini. Tujuannya adalah membentuk rantai pasok mineral kritis yang lebih beragam dan tidak mudah terguncang oleh kebijakan ekspor dari satu negara.

Dalam beberapa bulan terakhir, diskusi soal mineral kritis semakin intens di antara AS dan para mitra dagangnya. Fokusnya berada pada pengembangan industri yang bisa bersaing tanpa harus bergantung pada pasokan murah dari China.

Pernyataan bersama Uni Eropa, AS, dan Jepang pada Februari lalu juga memberi sinyal bahwa arah kebijakan ini sudah mendapat dukungan lintas kawasan. Bulan sebelumnya, Bloomberg melaporkan bahwa ketiga pihak akan mengumumkan dasar dari perjanjian perdagangan mineral kritis.

Tantangan politik masih cukup besar

Meski arah kerja samanya terlihat jelas, implementasi masih menghadapi hambatan. Uni Eropa masih menunda persetujuan perjanjian dagang yang sebelumnya dicapai dengan pemerintahan Trump, sementara AS juga menunggu penghapusan tarif pada banyak barang industri dari pihak Eropa.

Seorang juru bicara Perwakilan Dagang AS dan Komisi Eropa belum memberi tanggapan atas perkembangan ini. Namun, jika kesepakatan mineral itu terwujud, langkah tersebut akan menjadi sinyal positif di tengah hubungan transatlantik yang belakangan memanas.

Draf yang sedang ditinjau negara-negara anggota Uni Eropa itu masih bisa berubah. Meski begitu, arah kebijakannya sudah jelas, yakni memperkuat keamanan pasokan mineral kritis agar industri pertahanan, energi, dan kendaraan listrik di Barat tidak terlalu rentan terhadap guncangan dari pasar global.

Berita Terkait

Back to top button