Dari Lahan Terdegradasi ke AI, Inovasi Pertanian Indonesia Menarik Perhatian PepsiCo Dan National Geographic

PepsiCo dan National Geographic Society meluncurkan pendanaan baru untuk riset pertanian global yang menyoroti praktik pertanian regeneratif, termasuk inovasi berbasis kecerdasan buatan atau AI dari Indonesia. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya memperkuat sistem pangan di tengah tekanan perubahan iklim, degradasi lahan, dan kebutuhan produktivitas yang terus meningkat.

Program yang diumumkan melalui kolaborasi Food for Tomorrow ini menempatkan riset ilmiah sebagai fondasi utama untuk mencari solusi pertanian yang lebih tangguh. Sejumlah peneliti dari berbagai negara terpilih dari ratusan proposal, lalu bergabung dalam jejaring National Geographic Explorers yang terdiri dari ilmuwan, pendidik, hingga pelaku konservasi.

Fokus pada pertanian regeneratif

Pertanian regeneratif menjadi pusat perhatian karena pendekatan ini tidak hanya mengejar hasil panen, tetapi juga memulihkan kesehatan tanah dan ekosistem. Dalam konteks global, metode ini dinilai penting untuk mengurangi dampak krisis iklim sekaligus menjaga produktivitas lahan dalam jangka panjang.

Chief Science and Innovation Officer National Geographic Society, Ian Miller, menyebut pertanian regeneratif sebagai fokus baru yang strategis. Ia menekankan bahwa pendekatan ini terkait langsung dengan perlindungan ekosistem dan upaya menekan emisi karbon.

PepsiCo juga menempatkan praktik berbasis sains sebagai bagian penting dari masa depan pertanian. Executive Vice President dan Chief Sustainability Officer PepsiCo, Jim Andrew, mengatakan petani menghadapi risiko besar karena hanya memiliki satu kesempatan di setiap musim tanam.

“Petani hanya memiliki satu kesempatan setiap musim tanam. Karena itu, pendekatan berbasis data dan sains menjadi sangat penting untuk memastikan keberhasilan,” ujarnya.

Inovasi dari Indonesia lewat proyek LIFE

Salah satu proyek yang mencuri perhatian datang dari Indonesia, yaitu LIFE atau Land Innovation for Food and Empowerment. Program ini menggabungkan sistem tumpang sari jagung dan sacha inchi, tanaman bernilai gizi tinggi yang dikenal sebagai superfood karena kandungan Omega 3, 6, dan 9.

Peneliti Indonesia, Al Greeny S. Dewayanti, mengembangkan pendekatan yang memadukan analisis DNA tanah dengan aplikasi berbasis AI. Tujuannya adalah memulihkan lahan yang terdegradasi, meningkatkan ketahanan pangan, dan memperbaiki kesejahteraan petani.

Melalui teknologi metabarcoding DNA, mikroorganisme di dalam tanah dianalisis untuk membaca kondisi lahan secara lebih akurat. Hasilnya kemudian diterjemahkan sistem AI menjadi rekomendasi yang mudah dipahami petani, mulai dari kebutuhan kompos hingga pertanyaan apakah lahan sudah siap ditanami.

Bagaimana AI membantu petani

Model ini membuat informasi yang sebelumnya hanya tersedia di laboratorium menjadi lebih dekat ke petani. Dengan bantuan aplikasi, petani dapat menerima panduan praktis tanpa harus menunggu proses analisis yang rumit dan memakan waktu.

Pendekatan seperti ini penting karena banyak petani kecil menghadapi keterbatasan akses terhadap data ilmiah. AI berperan sebagai jembatan antara hasil riset dan keputusan lapangan yang harus diambil cepat dan tepat.

  1. Analisis DNA tanah untuk membaca kondisi mikroorganisme.
  2. AI mengolah data menjadi rekomendasi yang sederhana.
  3. Petani mendapat panduan soal kompos, kesuburan, dan kesiapan tanam.
  4. Keputusan budidaya bisa lebih efisien dan terukur.

Dampak sosial dan peran perempuan

Proyek LIFE juga menonjol karena melibatkan kelompok perempuan sebagai penggerak utama. Mereka berperan dalam pengelolaan koperasi dan pengolahan sacha inchi menjadi produk bernilai tambah, seperti minyak.

Model ini dirancang untuk meningkatkan pendapatan sekaligus memperkuat posisi perempuan dalam rantai nilai pertanian. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa inovasi pertanian tidak hanya berkaitan dengan teknologi, tetapi juga dengan pemberdayaan sosial dan ekonomi di tingkat komunitas.

Di banyak daerah, akses perempuan terhadap sumber daya pertanian masih terbatas. Karena itu, pelibatan mereka dalam model koperasi dan pengolahan hasil panen dapat membuka peluang ekonomi baru yang lebih berkelanjutan.

Bagian dari program global Food for Tomorrow

Pendanaan riset ini merupakan bagian dari inisiatif Food for Tomorrow yang diluncurkan pada 2025. Program tersebut bertujuan mendorong transformasi sistem pangan melalui ilmu pengetahuan, edukasi, dan komunikasi publik.

PepsiCo menargetkan penerapan praktik pertanian regeneratif di lahan seluas 10 juta hektare secara global hingga 2030. Target itu menunjukkan skala ambisi korporasi makanan dan minuman besar dalam mendorong perubahan model produksi pangan.

Selain Indonesia, proyek lain juga berjalan di Spanyol, Ethiopia, dan Amerika Serikat. Komoditas yang menjadi fokus mencakup gandum, kopi, kedelai, hingga kentang, sehingga cakupan riset ini cukup luas dan relevan bagi rantai pasok pangan dunia.

Riset yang diarahkan ke lapangan

Dalam dua tahun ke depan, para peneliti akan menjalankan uji lapangan sekaligus mengembangkan solusi yang bisa diterapkan lebih luas. Hasilnya tidak hanya berupa temuan ilmiah, tetapi juga akan disebarkan melalui laporan, kampanye digital, dan pameran multimedia.

Pendekatan ini penting agar riset tidak berhenti di ruang akademik. Informasi yang dihasilkan dapat menjangkau publik, pembuat kebijakan, dan pelaku industri yang berkepentingan terhadap masa depan pangan berkelanjutan.

Dengan menggabungkan AI, ilmu tanah, dan pemberdayaan petani, proyek dari Indonesia ini memperlihatkan bahwa solusi untuk krisis pangan bisa lahir dari tingkat lokal. Inovasi semacam ini memberi contoh bagaimana teknologi dapat dipakai untuk memulihkan lahan, memperkuat komunitas tani, dan mendukung target global pertanian yang lebih tahan terhadap perubahan iklim.

Baca selengkapnya di: www.medcom.id
Terkait