168 Korban PHK Naik Kelas Jadi Wirausahawan, Pertamina UMiMAX Buktikan Krisis Bisa Dibalik

Sebanyak 168 peserta Program Ultra Mikro Pertamina Aksi (UMiMAX) resmi diwisuda menjadi wirausahawan mandiri. Mayoritas penerima manfaat berasal dari korban pemutusan hubungan kerja dan masyarakat berpenghasilan rendah yang membutuhkan jalan baru untuk bertahan secara ekonomi.

Program ini menjadi salah satu langkah Pertamina dalam mendorong usaha ultra mikro agar bisa tumbuh lebih stabil dan berkelanjutan. Seremoni kelulusan berlangsung di Auditorium Universitas Pertamina, Jakarta, dan menegaskan bahwa pemberdayaan ekonomi kini tidak hanya berhenti pada bantuan modal, tetapi juga pada pelatihan, pendampingan, dan akses usaha yang lebih terarah.

Fokus ke kelompok rentan ekonomi

Vice President CSR & SMEPP Management Pertamina, Rudi Arifianto, menyampaikan bahwa program UMiMAX berjalan sejak Desember lalu sebagai bagian dari rangkaian HUT Pertamina. Ia menegaskan bahwa inisiatif tersebut dirancang untuk membantu masyarakat yang paling rentan agar bisa mandiri melalui usaha kecil yang punya peluang berkembang.

Rudi menyebut sekitar 75 persen peserta UMiMAX merupakan korban PHK. Sisanya berasal dari kelompok masyarakat berpenghasilan rendah yang juga menghadapi tekanan ekonomi serupa dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Menurut dia, Pertamina tidak hanya memberi dukungan berupa hibah sarana usaha. Perusahaan juga menyiapkan pelatihan dan pendampingan agar para peserta memiliki bekal menjalankan bisnis secara lebih terukur.

Jenis usaha yang difasilitasi

Dalam pelaksanaannya, UMiMAX telah menjangkau enam wilayah, termasuk Jabodetabek, Karawang, Subang, dan Bandung. Program ini menyasar model usaha yang relatif mudah dijalankan dan dekat dengan kebutuhan harian masyarakat.

Berikut jenis usaha yang paling banyak berkembang dalam program tersebut:

  1. 65 warmindo atau warung makan Indomie.
  2. 63 usaha kopi keliling atau koling.
  3. 40 usaha mini ATM.

Model usaha itu dipilih karena dinilai sesuai untuk pelaku ultra mikro yang baru memulai langkah usaha. Dengan pola bisnis yang sederhana, peserta dapat lebih cepat beradaptasi sekaligus membangun pendapatan rutin.

Omzet dan laba peserta mulai terlihat

Pertamina mencatat dampak ekonomi yang cukup nyata dari program ini. Rata-rata omzet bulanan para peserta disebut mencapai sekitar Rp 30 juta, sementara sebagian lainnya mampu meraih laba lebih dari Rp 10 juta per bulan.

Rudi menyampaikan bahwa total pendapatan seluruh peserta dari Januari hingga April lalu mencapai Rp 2,75 miliar. Dari jumlah itu, laba bersih yang tercatat mencapai Rp 858 juta, angka yang menunjukkan potensi usaha ultra mikro bila didukung pendampingan yang tepat.

Capaian tersebut membuat Pertamina membuka peluang perluasan program ke wilayah lain. Perusahaan melihat UMiMAX bukan sekadar program sosial, melainkan model pemberdayaan yang bisa membantu masyarakat keluar dari tekanan ekonomi secara lebih mandiri.

Dampak yang dirasakan peserta

Vice Corporate Communication Pertamina, Muhammad Baron, menegaskan bahwa UMiMAX dirancang agar pelaku usaha ultra mikro bisa naik kelas. Ia menyebut keberhasilan peserta menjadi bukti bahwa dukungan yang tepat mampu mengubah situasi ekonomi keluarga.

Salah satu peserta, Ristianti, mengalami perubahan besar setelah kehilangan pekerjaan sebagai guru dan menghadapi PHK yang juga menimpa suaminya. Melalui UMiMAX, ia menerima gerobak warkop dan pelatihan usaha, lalu mampu menjalankan bisnis dengan omzet jutaan rupiah.

Kisah serupa datang dari Tasya Putri Nabilah. Ia mengaku program ini membantunya menyelesaikan kuliah dan membiayai kebutuhan keluarga, termasuk menyekolahkan adiknya yang baru masuk perguruan tinggi.

Rencana perluasan untuk wilayah yang lebih rentan

Pertamina menargetkan penambahan hingga 1.000 peserta baru pada program serupa di berbagai daerah. Pemetaan wilayah akan mengacu pada data tunggal sosial dan ekonomi nasional atau DTSEN agar bantuan lebih tepat sasaran.

Fokus utama diarahkan ke daerah dengan tingkat kerentanan ekonomi tinggi dan masyarakat berpenghasilan rendah. Strategi ini penting agar dukungan usaha ultra mikro tidak hanya bersifat sementara, tetapi benar-benar menciptakan ekosistem usaha yang bisa bertahan dan berkembang di tengah tekanan ekonomi yang masih dirasakan banyak keluarga.

Berita Terkait

Back to top button