Harga Plastik Naik 50 Persen, DKI Dorong Daun Pisang Jadi Pengganti

Harga plastik di pasaran melonjak hingga 50 persen setelah pasokan bahan baku impor terganggu akibat konflik yang melibatkan AS dan Israel terhadap Iran. Kondisi ini memicu perhatian Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang mulai mendorong inovasi bahan pengganti agar masyarakat tidak terus terbebani kenaikan harga.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan, kewenangan penetapan harga plastik bukan berada di pemerintah daerah.

“Jadi harga plastik ini memang naik, dan harga plastik ini terus terang ketentuan ketentuannya bukan di Pemerintah DKI Jakarta. Tetapi tentunya kami harus melakukan inovasi karena sekarang ini kebutuhan plastik ini kan pelan-pelan harus dikurangi, harus ada substitusinya,” ujar Pramono di kantor Wali Kota Jakarta Timur, seperti dikutip dari Detikcom.

Dampak Langsung ke Pedagang dan Konsumen

Kenaikan harga plastik terasa cepat di pasar karena bahan ini digunakan luas dalam aktivitas perdagangan harian. Sekretaris Jenderal DPP Ikatan Pedagang Pasar Indonesia, Reynaldi Sarijowan, mengatakan lonjakan harga sudah terpantau sejak awal Ramadan.

Menurut Reynaldi, puncak kenaikan terjadi saat ini dengan besaran mencapai 50 persen. Ia menyebut harga plastik kresek yang sebelumnya Rp 10 ribu per pak kini naik menjadi Rp 15 ribu, sementara jenis plastik lain bergerak dari Rp 20 ribu menjadi Rp 25 ribu.

Mengapa Harga Plastik Bisa Naik Tajam

Indonesia masih bergantung pada bahan baku plastik impor untuk menjaga pasokan industri dan distribusi di pasar. Ketika rantai pasok terganggu, harga di tingkat pedagang ikut terdorong naik karena produsen dan distributor harus menyesuaikan biaya bahan baku.

Berikut faktor yang ikut mendorong kenaikan harga plastik:

  1. Pasokan bahan baku impor terganggu.
  2. Konflik geopolitik memengaruhi kelancaran distribusi.
  3. Ketergantungan pada bahan baku luar negeri masih tinggi.
  4. Permintaan plastik di pasar tetap berjalan normal.

DKI Dorong Substitusi dan Cara Pakai yang Lebih Hemat

Pramono menekankan perlunya inovasi agar kebutuhan plastik bisa dikurangi secara bertahap. Ia juga membuka ruang bagi penggunaan bahan pengganti yang lebih sederhana, termasuk kembali ke pembungkus tradisional.

“Kalau kondisinya tetap seperti ini, pasti akan menjadi beban. Maka untuk itu ya kita kadang-kadang harus kembali ke cara tradisional, pakai bungkus daun pisang dan sebagainya,” kata Pramono.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa solusi jangka pendek tidak hanya bertumpu pada pasokan, tetapi juga pada perubahan kebiasaan konsumsi. Di level pasar, langkah seperti ini bisa membantu pedagang menekan biaya operasional, terutama saat harga bahan kemasan naik cepat.

Bahan Pengganti yang Bisa Didorong

Sejumlah opsi substitusi dapat menjadi perhatian dalam situasi seperti ini, terutama untuk sektor makanan, pasar tradisional, dan usaha kecil.

Bahan Pengganti Kegunaan Umum Catatan
Daun pisang Pembungkus makanan Cocok untuk makanan basah dan produk tradisional
Daun jati Pembungkus tertentu Lebih kuat untuk beberapa jenis makanan
Kertas food grade Kemasan ringan Perlu standar kebersihan dan ketahanan
Wadah guna ulang Wadah makanan dan minuman Lebih hemat untuk penggunaan berulang

Tekanan Biaya di Pasar Masih Akan Terasa

Bagi pedagang, kenaikan Rp 5 ribu per pak pada plastik kresek terlihat kecil di atas kertas, tetapi dampaknya bisa membesar ketika dipakai terus-menerus dalam jumlah tinggi. Jika tren ini berlanjut, biaya kemasan berpotensi ikut memengaruhi harga jual barang di pasar, terutama pada usaha mikro yang margin keuntungannya tipis.

Dalam kondisi seperti ini, dorongan untuk mengurangi ketergantungan pada plastik menjadi semakin relevan. Pasar tradisional, pelaku usaha makanan, dan konsumen Jakarta kini dihadapkan pada kebutuhan menyesuaikan cara berbelanja dan membungkus barang, sembari menunggu langkah lanjutan dari pemerintah daerah dan rantai pasok industri plastik.

Exit mobile version