PT Aneka Tambang Tbk atau Antam menargetkan produksi bijih nikel sebesar 18,1 juta ton dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB yang telah disetujui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral. Persetujuan itu menjadi dasar utama bagi perusahaan untuk menjalankan kegiatan operasional secara lebih pasti dan terukur.
Target tersebut naik 12,7 persen dibandingkan realisasi produksi nikel perseroan pada periode sebelumnya. Antam menyebut penyesuaian ini dibuat untuk menjaga stabilitas operasi sekaligus mendukung hilirisasi mineral nasional yang terus didorong pemerintah.
Fokus pada kesinambungan produksi
Direktur Utama Antam Untung Budiharto menyampaikan bahwa outlook produksi yang disusun untuk periode ini sudah diselaraskan dengan RKAB yang berlaku. Dalam rapat dengar pendapat di Komisi XII DPR RI, ia menegaskan bahwa target perusahaan bersifat prudent dan mengikuti kerangka kerja yang telah disetujui regulator.
Langkah ini penting karena sektor nikel masih memegang peran strategis dalam rantai pasok industri baterai dan kendaraan listrik. Di sisi lain, perusahaan tambang juga dituntut menjaga keseimbangan antara produksi, efisiensi, dan kepatuhan terhadap aturan pemerintah.
Sebaran target di sejumlah wilayah tambang
Target 18,1 juta ton tidak hanya bertumpu pada satu lokasi, tetapi tersebar di beberapa unit dan entitas Antam. Pola distribusi ini menunjukkan upaya perusahaan menjaga sebaran produksi agar tidak bergantung pada satu sumber pasokan saja.
- UBPN Konawe Utara: 3,4 juta wmt
- PT Nusa Karya Arindo (NKA): 4 juta wmt
- UBPN Kolaka: sekitar 3 juta wmt
- PT Gag Nikel: sekitar 3 juta wmt
Komposisi itu memperlihatkan bahwa Antam mengandalkan portofolio tambang yang beragam untuk menopang target produksi. Dengan distribusi seperti ini, perusahaan juga memiliki ruang untuk menyesuaikan operasi jika salah satu wilayah mengalami hambatan teknis atau administratif.
Kinerja komoditas lain ikut terdorong
Selain nikel, Antam juga menetapkan target produksi logam mulia emas sebesar 935 kilogram. Angka itu naik 25,8 persen dibandingkan realisasi tahun sebelumnya yang berada di level 743 kilogram.
Pada sektor bauksit, target produksi perusahaan dipatok 4,9 juta ton basah atau wmt. Volume tersebut melonjak 70 persen dari realisasi tahun sebelumnya yang mencapai 2,8 juta ton, meski RKAB untuk tambang bauksit PT Mega Citra Utama masih berada dalam tahap revisi studi kelayakan.
Peningkatan di dua komoditas ini menunjukkan bahwa Antam tidak hanya mengandalkan nikel sebagai motor pertumbuhan. Perusahaan juga berupaya menjaga kontribusi dari emas dan bauksit agar struktur bisnis tetap seimbang.
Persetujuan RKAB menjadi faktor penentu
Sekretaris Perusahaan Antam Wisnu Haryanto menilai persetujuan RKAB dari pemerintah memberi kepastian besar bagi kegiatan operasional perusahaan. Setelah izin dan rencana kerja disahkan, Antam dapat menyesuaikan langkah internal untuk mendukung produksi sesuai target yang telah ditetapkan.
Kepastian seperti ini penting bagi perusahaan tambang yang bekerja dengan jadwal produksi, izin lahan, dan rantai logistik yang kompleks. Tanpa kepastian RKAB, pelaksanaan operasi dapat tertahan dan berpengaruh pada realisasi produksi di lapangan.
Kuota nasional nikel ikut berubah
Di tingkat nasional, Kementerian ESDM sebelumnya menerbitkan total kuota produksi nikel untuk periode ini di kisaran 260 juta hingga 270 juta ton. Kuota tersebut lebih rendah dibandingkan target pada periode sebelumnya yang mencapai 379 juta ton.
Penurunan kuota nasional itu menunjukkan adanya penyesuaian dalam tata kelola produksi nikel di Indonesia. Dalam kondisi seperti ini, setiap produsen besar termasuk Antam perlu mengatur strategi produksi secara lebih disiplin agar tetap efisien dan sesuai dengan arah kebijakan pemerintah.
Dengan target 18,1 juta ton bijih nikel, Antam masuk ke periode operasional yang menuntut konsistensi produksi, kepastian regulasi, dan pengelolaan aset tambang yang lebih efektif. Fokus perseroan kini tertuju pada implementasi RKAB, penguatan kontribusi dari tiap unit tambang, dan kesiapan menghadapi dinamika pasar mineral yang masih bergerak ketat.
