Produksi minyak mentah OPEC turun tajam pada Maret dan memicu kekhawatiran baru di pasar energi global. Berdasarkan data yang dirilis awal pekan ini, output negara-negara pengekspor utama itu anjlok 27% dari 28,7 juta barel per hari menjadi 20,8 juta barel per hari akibat meningkatnya konflik di Timur Tengah.
Penurunan ini datang saat jalur distribusi utama minyak menghadapi gangguan serius. Serangan terhadap infrastruktur energi, pembatasan pengiriman, dan ketegangan di Selat Hormuz membuat pasokan dari sejumlah produsen besar tersendat.
Negara Teluk terdampak paling besar
Irak menjadi negara dengan penurunan paling tajam. Produksinya merosot 61% dari 4,2 juta barel per hari menjadi 1,6 juta barel per hari, jauh di bawah level normal yang dibutuhkan untuk menjaga aliran ekspor.
Kuwait juga menghadapi tekanan besar dengan penurunan 53%, sedangkan Uni Emirat Arab turun 44% secara bulanan. Arab Saudi, produsen terbesar OPEC, mencatat penurunan 23% dari 10,1 juta barel per hari menjadi 7,8 juta barel per hari.
Berikut ringkasan perubahan produksi yang dilaporkan:
- OPEC secara keseluruhan: turun 27%
- Irak: turun 61%
- Kuwait: turun 53%
- Uni Emirat Arab: turun 44%
- Arab Saudi: turun 23%
- Iran: turun sekitar 5%
Gangguan di Arab Saudi turut dipicu serangan pada jalur pipa Timur-Barat yang penting untuk distribusi minyak. Jalur itu disebut mengurangi kapasitas hingga 700.000 barel per hari setelah insiden yang memukul operasi pengiriman.
Selat Hormuz jadi titik paling sensitif
Negara-negara Teluk Arab lain juga menahan laju produksi karena kesulitan mengekspor melalui Selat Hormuz. Jalur laut sempit itu merupakan salah satu rute energi terpenting di dunia karena menghubungkan Teluk dengan pasar minyak global.
Lalu lintas tanker di jalur tersebut turun signifikan setelah serangan meningkat. Dampaknya tidak hanya mengganggu ekspor harian, tetapi juga memperbesar risiko keterlambatan pengiriman dan ketidakpastian pasokan bagi pembeli utama di Asia, Eropa, dan Amerika Serikat.
Sheikh Nawaf al-Sabah, CEO Kuwait Petroleum Corp, mengatakan pemulihan penuh masih membutuhkan waktu berbulan-bulan. Ia juga menegaskan bahwa Kuwait masih memiliki cadangan yang cukup tangguh untuk menjaga sebagian produksi dalam jangka pendek, meski kondisi operasi tetap menantang.
Iran dan risiko eskalasi baru
Produksi Iran ikut turun sekitar 5% menjadi 3,06 juta barel per hari. Penurunan itu terjadi di tengah meningkatnya tekanan geopolitik setelah perundingan damai dengan AS gagal menghasilkan kesepakatan.
Situasi Iran semakin sensitif setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan Angkatan Laut AS memblokir semua lalu lintas maritim keluar masuk pelabuhan Iran mulai Senin pukul 10 pagi waktu setempat. Kebijakan ini menambah kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan ekspor yang lebih luas.
Tekanan pasokan yang terus membesar langsung tercermin di harga minyak. Kontrak berjangka minyak mentah AS kembali melonjak dan menembus lebih dari 100 dolar AS per barel, menandakan pasar merespons suplai yang semakin ketat.
Dampak ke pasar energi global
Lonjakan harga biasanya mencerminkan ekspektasi bahwa pasokan akan tetap tertekan dalam waktu dekat. Dalam kondisi seperti ini, pelaku pasar memantau tiga hal utama: keamanan jalur pelayaran, kemampuan produsen memulihkan output, dan peluang meredanya konflik.
Jika gangguan di Timur Tengah berlanjut, tekanan pada produksi OPEC bisa bertahan lebih lama dan mengubah keseimbangan pasar minyak dunia. Para pembeli energi kini menunggu perkembangan di lapangan, terutama pada jalur ekspor yang menjadi penentu stabilitas suplai global.
