
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengonfirmasi adanya kenaikan harga minyak goreng di pasar domestik yang dipicu oleh lonjakan biaya kemasan plastik. Ia juga menyebut penguatan harga minyak sawit mentah dunia ikut memberi tekanan tambahan pada harga jual di dalam negeri.
Pernyataan itu disampaikan di tengah situasi pasar yang masih bergejolak akibat naiknya biaya produksi dan distribusi. Pemerintah tetap mempertahankan Harga Eceran Tertinggi MinyaKita di level Rp 15.700 per liter.
Kemasan plastik jadi faktor penekan baru
Budi menjelaskan bahwa sebagian produsen mulai merasakan dampak kenaikan bahan baku kemasan. Menurutnya, seluruh produk minyak goreng sangat bergantung pada kemasan plastik sehingga biaya produksi mudah terdorong naik ketika harga bahan penolong itu ikut terkerek.
“Ya ada sedikit juga yang naik karena kan imbas dari, kan mereka kemasannya plastik semua,” kata Budi Santoso saat ditemui di JIExpo, Kemayoran. Pernyataan itu menegaskan bahwa beban biaya tidak hanya datang dari bahan baku utama, tetapi juga dari komponen pendukung yang bersifat wajib dalam distribusi produk.
HET MinyaKita tetap dijaga
Di tengah tekanan harga tersebut, pemerintah memilih mempertahankan harga acuan MinyaKita agar tetap terjangkau. Kebijakan ini penting karena MinyaKita masih menjadi produk rujukan bagi banyak rumah tangga saat harga kebutuhan pokok mulai bergerak naik.
Berikut beberapa poin utama yang menjadi sorotan pemerintah dalam menjaga pasar minyak goreng:
- HET MinyaKita tetap di level Rp 15.700 per liter.
- Pasokan minyak goreng dinyatakan cukup di pasar tradisional dan ritel modern.
- Pemerintah meminta konsumen tidak hanya bergantung pada MinyaKita.
- Produsen didorong memperbanyak merek lapis kedua agar pilihan pasar lebih beragam.
Harga CPO ikut memberi tekanan
Selain kemasan, harga minyak goreng juga ikut terpengaruh oleh pergerakan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar global. Data Indonesia Palm Oil Strategic Studies atau IPOSS menunjukkan harga CPO diperkirakan naik dari 1.165 dollar AS menjadi 1.440 dollar AS per ton pada April ini.
Tekanan itu belum berhenti di sana karena IPOSS juga memproyeksikan harga CPO bisa terus menguat hingga 1.783 dollar AS per ton pada Juni. Bila proyeksi ini terjadi, produsen minyak goreng berpotensi menghadapi biaya bahan baku yang lebih tinggi dalam beberapa bulan ke depan.
Dampak konflik geopolitik ikut terasa
Kenaikan harga bahan baku dan energi juga tidak lepas dari gejolak geopolitik di Asia Barat yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Konflik tersebut mendorong kenaikan harga energi global, lalu berimbas pada ongkos produksi dan logistik komoditas pangan di Indonesia.
Kondisi ini membuat rantai pasok minyak goreng menghadapi tekanan berlapis, mulai dari bahan baku utama, bahan kemasan, hingga biaya pengiriman. Dalam situasi seperti ini, stabilitas harga di tingkat ritel sangat bergantung pada daya tahan produsen dan efektivitas kebijakan pemerintah.
Pasokan disebut aman, persepsi kelangkaan perlu diluruskan
Budi memastikan stok minyak goreng masih tersedia di pasar tradisional maupun ritel modern. Ia menilai kekhawatiran masyarakat sering muncul karena MinyaKita dianggap sebagai satu-satunya indikator ketersediaan minyak goreng di pasar.
Kemendag menilai persepsi seperti itu bisa memicu kesan kelangkaan meski pasokan sebenarnya masih ada. Karena itu, pemerintah mendorong produsen untuk lebih aktif memproduksi merek lain agar pasar tidak bertumpu pada satu produk DMO saja.
Harga minyak goreng ke depan akan sangat ditentukan oleh arah harga CPO, biaya kemasan plastik, dan situasi energi global. Selama faktor-faktor itu belum stabil, tekanan harga di pasar domestik masih berpotensi berlanjut meski pasokan disebut tetap aman.









