PT Astra Agro Lestari Tbk mengalokasikan belanja modal atau capex sebesar Rp1,4 triliun untuk tahun buku 2026. Angka itu naik 79 persen dibanding realisasi tahun 2025 yang tercatat Rp782 miliar, dan menjadi sinyal bahwa perusahaan sawit ini menyiapkan dana lebih besar untuk menjaga performa usaha dalam jangka panjang.
Keputusan tersebut disampaikan dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan di Jakarta. Dalam agenda yang sama, Astra Agro juga merombak susunan direksi melalui penunjukan Muhammad Guruh sebagai direktur baru.
Fokus utama dana capex
Presiden Direktur Astra Agro Lestari, Djap Tet Fa, menyebut kenaikan anggaran ini sebagai langkah strategis untuk memperkuat operasional perseroan di masa mendatang. Dana tersebut tidak dibagi merata, tetapi diarahkan ke beberapa pos yang dianggap paling penting bagi bisnis inti perusahaan.
Sebesar 63,8 persen dari total capex, atau sekitar Rp893 miliar, dialokasikan untuk program peremajaan tanaman. Perusahaan menargetkan replanting minimal 6.000 hektare dan mengejar hingga 8.000 hektare pada akhir tahun ini.
Rencana peremajaan kebun
Program peremajaan menjadi perhatian utama karena berkaitan langsung dengan produktivitas kebun dalam beberapa tahun ke depan. Astra Agro menjalankan replanting di sejumlah wilayah utama, yaitu Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi.
Langkah ini penting karena tanaman yang lebih tua biasanya menghasilkan tandan buah segar dengan efisiensi yang menurun. Dengan peremajaan, perusahaan berharap dapat menjaga pasokan bahan baku dan memperkuat hasil produksi jangka panjang.
Berikut pembagian capex Astra Agro Lestari untuk tahun buku ini:
- Replanting: 63,8 persen atau Rp893 miliar
- Pemeliharaan pabrik dan fasilitas pelabuhan: 19,8 persen
- Sektor non-perkebunan seperti kendaraan angkut dan aset pendukung operasional: 16,4 persen
Dukungan untuk pabrik dan aset operasional
Selain kebun, Astra Agro juga menyiapkan dana untuk menjaga kelancaran proses hilir di pabrik dan pelabuhan. Sebesar 19,8 persen capex diarahkan ke pemeliharaan fasilitas tersebut agar rantai produksi tetap berjalan efisien.
Sisa dana sebesar 16,4 persen dipakai untuk kebutuhan non-perkebunan. Pos ini mencakup pengadaan kendaraan angkut dan aset pendukung lain yang dibutuhkan untuk menunjang operasional harian perusahaan.
Pergantian direksi dalam RUPST
Di luar keputusan investasi, RUPST juga menyetujui perubahan manajemen. Pemegang saham mengangkat Muhammad Guruh sebagai direktur baru untuk menggantikan Eko Prasetyo yang memasuki masa pensiun.
Eko sebelumnya menjabat sebagai Senior Vice President Innovation & Agritech sejak 2021. Pergantian ini menunjukkan penyesuaian di level kepemimpinan saat perusahaan menyiapkan ekspansi operasional dan pembaruan aset.
Kinerja keuangan menguat
Langkah belanja modal besar itu datang setelah Astra Agro mencatat kinerja yang lebih baik. Pada tahun 2025, pendapatan bersih perusahaan naik 31 persen menjadi Rp28,7 triliun.
Kenaikan tersebut ditopang oleh produksi crude palm oil atau CPO yang tumbuh 6 persen menjadi 1,2 juta ton. Di saat yang sama, harga jual rata-rata juga naik 11 persen menjadi Rp14.316 per kilogram.
Tekanan biaya dan strategi efisiensi
Direktur Astra Agro Lestari, Tingning Sukowignjo, menekankan pentingnya disiplin biaya di tengah volatilitas harga CPO global. Perusahaan memilih mengandalkan praktik agronomi presisi untuk menjaga efisiensi sekaligus mempertahankan daya saing.
Pendekatan itu relevan bagi emiten perkebunan yang bergantung pada produktivitas kebun, biaya logistik, dan stabilitas harga jual. Dengan kombinasi capex yang lebih besar, replanting yang agresif, dan pembaruan struktur direksi, Astra Agro menempatkan tahun ini sebagai fase penting untuk mempertahankan momentum usaha.
