Kecerdasan buatan kini menjadi salah satu tujuan utama modal orang kaya Asia dan family office di kawasan tersebut. Sepanjang tahun ini, mereka menyalurkan US$24,3 miliar atau sekitar Rp416,55 triliun ke sektor AI global, dan jumlah itu hampir tiga kali lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.
Aliran dana itu juga belum menunjukkan tanda melambat. Hingga awal April, PitchBook mencatat tambahan komitmen investasi senilai US$950 juta, sementara lebih dari 90 persen modal dari investor kaya Asia mengarah ke perusahaan teknologi di Amerika Serikat.
Dorongan besar di tengah valuasi yang mahal
Minat investor Asia tetap kuat meski valuasi perusahaan AI terkemuka terus menanjak tinggi. OpenAI, SpaceX, dan Anthropic PBC menjadi contoh perusahaan yang menarik modal besar karena dianggap berpotensi menguasai gelombang teknologi berikutnya.
Bagi banyak investor, peluang pertumbuhan jangka panjang tampak lebih menarik dibanding kekhawatiran soal gelembung aset. Mereka menempatkan AI sebagai tema investasi strategis yang bisa memberi imbal hasil besar jika adopsi teknologi ini terus meluas.
Nick Xiao, Kepala Eksekutif Annum Capital, mengatakan minat dari individu kaya meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Perusahaan berbasis di Hong Kong itu mengelola sekitar US$1,5 miliar dan membantu penempatan modal ke perusahaan teknologi swasta di Amerika Serikat dan China.
Mengapa investor Asia memburu AI
Gelombang investasi ini tidak hanya datang dari lembaga besar, tetapi juga dari individu dengan kekayaan tinggi. Family office berukuran kecil kini ikut berlomba masuk ke aset prestisius, terutama saham privat di perusahaan unicorn yang dianggap punya daya ungkit tinggi.
Sebagian besar investor ini menempatkan modal di kisaran US$5 juta hingga US$10 juta dari portofolio mereka. Porsi itu dipilih untuk memperoleh akses lebih awal ke pertumbuhan AI, meski risikonya jauh lebih tinggi daripada investasi publik.
Ada beberapa alasan utama yang mendorong langkah tersebut:
- Ekspektasi pertumbuhan jangka panjang dari pasar AI global yang masih berkembang cepat.
- Akses ke perusahaan privat unggulan yang belum tersedia di bursa publik.
- Diversifikasi portofolio ke aset teknologi yang berpotensi memberi imbal hasil besar.
- Persaingan global untuk masuk ke perusahaan AI paling menjanjikan sejak tahap awal.
Risiko yang ikut membesar
Di balik besarnya minat, investor juga menghadapi tantangan yang tidak kecil. Banyak transaksi dilakukan melalui special purpose vehicle atau SPV, sehingga struktur kepemilikannya kurang transparan dan sulit ditelusuri secara terbuka.
Risiko lain datang dari down rounds, yakni kondisi saat startup harus mencari pendanaan baru dengan valuasi lebih rendah dari putaran sebelumnya. Biaya pengelolaan yang tinggi juga membuat sebagian investor menimbang ulang strategi mereka, terutama bila dana ditempatkan lewat jalur perantara.
Meski begitu, derasnya modal dari Asia menunjukkan bahwa selera risiko para investor kaya belum surut. Mereka tampak rela menahan volatilitas demi peluang masuk ke industri yang dinilai akan membentuk ekonomi digital generasi berikutnya.
Modal mulai mengalir ke pasar Asia
Kenaikan valuasi perusahaan AI di Amerika Serikat turut membuat sebagian investor melirik pasar Asia yang dinilai lebih murah. Sejumlah perusahaan regional mulai memperoleh dana dari investor kaya, termasuk DeepRoute.Ai di China dan Advance.AI yang berbasis di Singapura.
Pergeseran ini menunjukkan bahwa strategi investasi AI tidak lagi terfokus pada pasar Barat. Dengan biaya masuk yang relatif lebih terjangkau, Asia menjadi alternatif menarik bagi investor yang ingin tetap berada di jalur pertumbuhan AI tanpa membayar valuasi setinggi perusahaan di Amerika Serikat.
Perubahan arah modal tersebut juga menandakan kompetisi baru di kawasan. Perusahaan AI Asia kini punya peluang lebih besar untuk menarik minat family office dan individu kaya yang ingin masuk lebih awal sebelum valuasi naik lebih jauh.
Dalam konteks yang lebih luas, arus dana Rp416,55 triliun ini menegaskan bahwa AI telah berubah dari sekadar tema teknologi menjadi arena perebutan modal global. Investor Asia kini tampil sebagai salah satu kekuatan penting yang ikut menentukan ke mana arah pertumbuhan industri AI bergerak selanjutnya.
