Cerutu Jember Menembus 14 Negara, Tanda Indonesia Tak Lagi Sekadar Penyuplai Bahan Mentah

Produk cerutu asal Jember kini tidak lagi hanya dikenal di pasar domestik. Produk BIN Cigar Jember telah menembus 14 negara di Eropa, Amerika, Asia Timur, hingga Timur Tengah, dan pencapaian itu menegaskan naiknya posisi tawar Indonesia di pasar cerutu dunia.

Perkembangan ini juga menandai perubahan penting dalam industri tembakau nasional. Indonesia tak lagi semata dipandang sebagai pemasok bahan mentah, tetapi mulai dilihat sebagai produsen cerutu berkualitas tinggi dengan identitas yang kuat.

Kualitas bahan baku menjadi fondasi utama di balik keberhasilan itu. Tembakau Besuki Na-Oogst dari Jember sudah lama dikenal sebagai salah satu material cerutu terbaik di dunia karena memiliki aroma dan rasa yang khas.

Anggota DPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum KADIN Indonesia, Bambang Soesatyo, menilai keunggulan Indonesia lahir dari kombinasi bahan baku dan keterampilan para perajin serta petani tembakau. Ia menyebut karakter cerutu yang dihasilkan sulit ditiru negara lain dan menjadi modal besar untuk bersaing dengan cerutu Kuba maupun Dominika.

Nilai tambah dari industri padat karya

Selain kualitas produk, industri cerutu Jember juga membawa dampak ekonomi yang luas. Proses produksinya menyerap banyak tenaga kerja, mulai dari petani tembakau di lahan hingga para pengrajin linting di pabrik.

Bamsoet menilai sektor ini harus dipahami sebagai bagian dari strategi hilirisasi nasional. Menurut dia, cerutu bukan sekadar industri tembakau biasa karena memberi nilai tambah tinggi bagi daerah dan perekonomian nasional.

Daya saing produk lokal juga muncul dari cara produksi yang masih mengandalkan tangan manusia. Proses manual itu dinilai ikut menjaga konsistensi rasa dan karakter cerutu yang ditawarkan kepada konsumen.

Kontribusi ekonomi Jember sendiri terlihat dari angka ekspor tembakau daerah tersebut. Pada 2023, volume ekspornya melampaui 3 juta kilogram dengan nilai sekitar 31,9 juta dolar AS.

Dukungan kebijakan dan arah pasar berikutnya

Di sisi lain, perkembangan industri ini mendapat ruang dari kebijakan pemerintah yang menjaga stabilitas usaha. Salah satunya adalah keputusan untuk tidak menaikkan tarif cukai pada 2026 agar ketersediaan lapangan kerja tetap terjaga.

Bagi pelaku industri, tantangan berikutnya bukan hanya menjaga produksi, tetapi juga memperkuat posisi merek di pasar global. Penguatan branding, standardisasi kualitas yang ketat, dan perluasan akses pasar disebut sebagai langkah penting agar cerutu Indonesia bisa menembus lebih banyak wilayah.

Bamsoet menyampaikan pandangan itu saat menerima kunjungan Pemilik BIN Cigar, Febrian Ananta Kahar, serta Presiden Perikhsa Cigar Brotherhood, Charles Wicaksana, di Jakarta pada Jumat (1/5/2026). Ia optimistis konsistensi kualitas dapat membuat dunia tak hanya mengenal Havana atau Dominika, tetapi juga Jember sebagai pusat cerutu premium.

Exit mobile version