Sejumlah emiten tambang Indonesia mulai mempercepat akuisisi aset mineral di luar negeri ketika tekanan regulasi domestik makin terasa. Langkah ini juga dipandang sebagai cara menjaga nilai aset di tengah pelemahan rupiah terhadap dolar AS.
Arah ekspansi itu terlihat dari pergeseran minat ke Australia, Papua Nugini, Kanada, hingga Arab Saudi. Mineral kritis menjadi incaran utama karena permintaan global terus terkait dengan transisi energi.
Tekanan domestik memicu perburuan aset luar negeri
Achmad Yaki, Head Online Trading BCA Sekuritas, menilai kombinasi faktor strategis mendorong emiten tambang Indonesia bergerak agresif ke luar negeri. Ia menyebut tekanan regulasi domestik dan upaya lindung nilai sebagai pendorong utama di balik langkah tersebut.
Hambatan administratif di tingkat kementerian ikut menambah ketidakpastian bagi pelaku usaha. Salah satunya adalah perubahan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya atau RKAB dari tiga tahunan menjadi tahunan pada tahun ini.
Perubahan itu dinilai berpotensi mengganggu proyeksi operasional emiten tambang. Ketidakjelasan persetujuan volume produksi tahunan juga disinyalir membuat perusahaan lebih berhati-hati mengatur ekspansi di dalam negeri.
Diversifikasi dan lindung nilai jadi alasan tambahan
Di luar faktor birokrasi, banyak emiten besar mulai menekan ketergantungan pada batu bara. PT Bumi Resources Tbk (BUMI) disebut termasuk yang mendorong diversifikasi ke emas, tembaga, dan bauksit untuk menjaga stabilitas bisnis jangka panjang.
Achmad juga menyoroti alasan lindung nilai ketika aset dalam valuta asing menjadi pilihan investasi. Aset berdenominasi dolar dianggap lebih aman untuk menjaga nilai aset dan pendapatan perusahaan saat rupiah melemah.
Investasi luar negeri juga menawarkan kecepatan eksekusi yang lebih baik. Perusahaan cenderung memilih tambang yang sudah beroperasi dibanding membangun proyek baru dari nol atau greenfield.
Regulasi stabil dan cadangan domestik yang menipis
Abida Massi Armand, Fundamental Analyst BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), menilai kepastian regulasi di luar negeri menjadi daya tarik tersendiri. Ia menyebut kompleksitas perizinan domestik serta kebutuhan diversifikasi ke mineral kritis membuat ekspansi lintas negara semakin relevan.
Abida juga menilai pelemahan rupiah bukan pendorong utama, tetapi memberi insentif tambahan. Aset berdenominasi dolar relatif menguat sehingga memperkuat daya tarik akuisisi internasional.
BRIDS memproyeksikan aktivitas akuisisi ini akan terus meningkat hingga akhir tahun 2026. Emiten dengan kondisi keuangan sehat diperkirakan menjadi pemain paling aktif dalam perburuan aset di pasar internasional.
BUMI, UNTR, hingga ANTM ikut bergerak
Abida menyebut BUMI paling agresif dengan pipeline Loyal Metals, Wolfram, Jubilee, dan Laman Mining. Sementara itu, UNTR masih memantau aset di Australia Barat dan Queensland.
Data transaksi sepanjang tahun berjalan menunjukkan skala ekspansi yang tidak kecil. BUMI tercatat membidik Loyal Metals Ltd di Australia dengan nilai sekitar US$79 juta, sementara PT Petrosea Tbk (PTRO) mengakuisisi HBS (PNG) Limited di Papua Nugini senilai US$25,76 juta.
PT Delta Dunia Makmur Tbk (DOID) juga masuk daftar dengan target Dawson Complex di Australia senilai US$455 juta. Adapun PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tengah mengevaluasi potensi lokasi di Arab Saudi.
ANTM fokus selektif dan tetap hati-hati
Untuk rencana di Timur Tengah, ANTAM menegaskan strategi pertumbuhan yang selektif. Perseroan menyatakan akan terus memantau perkembangan situasi sebelum mengambil langkah lanjutan.
Sekretaris Perusahaan ANTAM menyampaikan bahwa perusahaan tetap mengedepankan kehati-hatian, tata kelola yang baik, serta penilaian atas risiko dan nilai tambah. Fokus utamanya tetap memperkuat basis sumber daya emas melalui optimalisasi aset eksisting, penjajakan sumber daya baru, dan penguatan rantai pasok.
Di tengah persaingan mencari aset mineral berkualitas di luar negeri, emiten tambang Indonesia tampak makin aktif menata portofolio. Perburuan ini diperkirakan berlanjut selama harga mineral kritis tetap tinggi dan cadangan domestik terus menyusut.







