BI Rate Naik 5,50 Persen, Dana Asing Berpeluang Kembali Ke Obligasi Sebelum Saham

Kenaikan BI Rate ke 5,50 persen membuka dua dampak besar sekaligus bagi pasar keuangan. Di satu sisi, langkah Bank Indonesia itu ditujukan untuk menahan pelemahan rupiah, tetapi di sisi lain keputusan tersebut berpotensi menarik kembali arus modal asing ke aset domestik.

Investor global dinilai lebih dulu akan melirik pasar obligasi sebelum masuk bertahap ke pasar saham. Dengan imbal hasil yang lebih kompetitif, bond market menjadi respons paling cepat terhadap kenaikan suku bunga, lalu sentimen positif bisa merambat ke bursa efek jika likuiditas membaik.

Investment Specialist PT Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Ahmad Faris Mu’tashim, mengatakan peluang dana asing masuk masih cukup terbuka. Namun, aliran dana itu tidak akan bergerak instan ke saham karena pasar keuangan biasanya bereaksi melalui siklus likuiditas.

Menurut Faris, instrumen yang paling awal merespons adalah obligasi pemerintah. Saat BI menaikkan suku bunga, yield obligasi ikut naik dan membuat instrumen itu terlihat lebih menarik bagi investor asing.

Dampak ke valuasi saham

Kenaikan BI Rate sebesar 75 basis poin sepanjang 2026 juga memicu penyesuaian valuasi di Bursa Efek Indonesia. Faris menilai, secara teori dan perhitungan keuangan, suku bunga yang lebih tinggi akan memaksa investor menilai ulang harga wajar saham.

Hal itu terjadi karena tingkat diskonto dalam valuasi ikut naik. Ketika discount rate meningkat, nilai kini dari arus kas dan keuntungan masa depan perusahaan menjadi lebih rendah.

Akibatnya, saham yang sebelumnya tampak murah bisa terlihat lebih mahal. Pasar pun cenderung melakukan revaluasi, sehingga ruang kenaikan harga saham menjadi lebih terbatas dibandingkan saat suku bunga rendah.

Faris menyebut perubahan itu membuat investor jauh lebih selektif. Pasar akan lebih menyukai emiten dengan fundamental kuat, arus kas sehat, dan tingkat utang yang rendah.

Sektor yang diuntungkan dan tertekan

Di tengah upaya menjaga stabilitas rupiah dan menarik dana asing, sektor perbankan diperkirakan menjadi penerima manfaat utama. Kenaikan BI Rate berpeluang mendorong Net Interest Margin atau NIM bank, karena bunga kredit biasanya bisa disesuaikan lebih cepat dibanding bunga simpanan.

Perbankan besar yang menjadi tulang punggung pasar saham juga berpotensi mendapat dorongan kinerja. Kondisi ini membuat sektor banking dinilai lebih tahan menghadapi kenaikan suku bunga dibanding sektor lain.

Sebaliknya, properti justru diperkirakan berada di bawah tekanan. Sebagian besar pembelian rumah di Indonesia masih bergantung pada Kredit Pemilikan Rumah atau KPR, sehingga kenaikan bunga dapat mengangkat cicilan dan melemahkan minat beli masyarakat.

Faris menilai beban bunga yang membengkak bisa menahan permintaan properti. Selain properti, emiten dengan tingkat utang tinggi juga berisiko menghadapi tekanan lebih besar karena biaya modal ikut naik.

Kenaikan BI Rate otomatis menambah cost of capital dan beban bunga perusahaan. Dampaknya, profitabilitas bisa tergerus dan ruang ekspansi menjadi lebih sempit, terutama bagi emiten yang sangat bergantung pada pinjaman untuk operasional maupun proyek baru.

Respons pasar yang sudah terlihat

Keputusan BI menaikkan suku bunga acuan diumumkan setelah Rapat Dewan Gubernur. Pada hari yang sama, IHSG justru melonjak 404 poin atau 7,57 persen ke level 5.747 saat pasar ditutup.

Rupiah juga menguat di pasar spot pada penutupan perdagangan Selasa. Mata uang Garuda terapresiasi 0,71 persen ke level Rp 18.058 per dolar Amerika Serikat, menandakan pasar masih memantau arah kebijakan moneter dan aliran dana asing dengan sangat ketat.

Berita Terkait

Back to top button