IHSG Berbalik Kuat, Sinyal BI Rate Dan Buyback BUMN Mengubah Arah Pasar

IHSG bergerak menguat pada perdagangan Rabu pagi setelah sempat dibuka tipis melemah, lalu berbalik naik tajam di awal sesi. Penguatan ini terjadi di tengah respons pasar terhadap kenaikan BI Rate dan rencana buyback saham oleh BUMN yang dinilai memberi sentimen positif bagi investor.

Pada pukul 09.35 WIB, IHSG tercatat menguat 132,84 poin atau 2,31% ke level 5.879,49. Sebelumnya, indeks dibuka melemah 2,59 poin atau 0,05% ke posisi 5.744,06, sebelum rebound dan melanjutkan penguatan dari reli kuat pada perdagangan hari sebelumnya.

Dorongan dari kebijakan moneter

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, menilai pasar merespons cepat langkah Bank Indonesia yang menaikkan BI Rate sebesar 25 bps menjadi 5,50% di luar jadwal reguler. Menurut dia, keputusan itu mencerminkan langkah antisipatif otoritas moneter menghadapi tekanan pada rupiah yang melemah lebih dalam dan lebih cepat dari perkiraan.

Sentimen pasar juga terbantu oleh rencana pemerintah mendorong aksi buyback saham oleh perusahaan BUMN. Kebijakan itu dinilai menambah kepercayaan investor karena memberi sinyal dukungan terhadap stabilitas pasar modal di tengah gejolak eksternal.

Reli lanjutan setelah kenaikan besar sebelumnya

Penguatan IHSG pada hari ini bukan pergerakan yang berdiri sendiri. Sebelumnya, indeks sempat mencatat relief rally besar dengan lonjakan 7,57% dari titik terendah tahunannya di 5.317 hingga ke 5.722.

Pergerakan itu membuat pelaku pasar melihat adanya pemulihan sentimen yang cukup cepat. Meski begitu, pelaku pasar masih mencermati apakah penguatan ini mampu bertahan di tengah dinamika global dan tekanan pada mata uang domestik.

Level teknikal yang jadi perhatian

Secara teknikal, Kiwoom Research memperkirakan IHSG menghadapi hambatan terdekat di area 5.900 atau MA10. Di sisi lain, area support kuat disebut berada di level 5.550.

Proyeksi ini menunjukkan pasar masih bergerak dalam rentang yang perlu dipantau ketat. Investor cenderung menunggu konfirmasi lanjutan apakah sentimen kebijakan mampu menjaga momentum penguatan dalam beberapa sesi perdagangan berikutnya.

Risiko dari luar pasar saham

Di tengah penguatan indeks, Presiden Prabowo Subianto juga menerima laporan rutin dari Dewan Ekonomi Nasional yang dipimpin Luhut Binsar Pandjaitan. Laporan itu menyinggung evaluasi Program Makan Bergizi Gratis, percepatan integrasi GovTech berbasis AI yang telah menghubungkan 80% sistem pemerintah, serta risiko geopolitik global yang masih perlu diwaspadai.

Sorotan terbesar datang dari eskalasi di Selat Hormuz yang berpotensi mengganggu rantai pasok energi. Kondisi ini ikut menjaga kewaspadaan pasar karena dapat memengaruhi harga komoditas dan sentimen investasi secara lebih luas.

Harga BBM non-subsidi ikut naik

Di sisi lain, sektor riil menghadapi tekanan baru setelah harga BBM non-subsidi naik mengikuti lonjakan harga minyak dunia. Pertamax (RON 92) naik 32% menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300, sedangkan Pertamax Green 95 naik 31,7% menjadi Rp17.000 per liter dari Rp12.900.

Pemerintah memastikan harga Pertalite dan Biosolar tetap stabil untuk menjaga daya beli masyarakat. Namun, Liza Camelia mengingatkan bahwa reli pasar saat ini belum sepenuhnya menghapus risiko arus keluar dana asing dan kenaikan sovereign risk premium yang masih membayangi kondisi fiskal dalam negeri.

Source: mediaindonesia.com

Berita Terkait

Back to top button