Kalangan analis menilai tekanan paling berat di pasar saham Indonesia kemungkinan sudah lewat. Pandangan itu muncul seiring penguatan rupiah, masuknya kembali dana asing, dan valuasi saham yang masih tergolong murah sehingga membuka ruang akumulasi bagi investor.
Head of Equity Research Samuel Sekuritas Indonesia Prasetya Gunadi dan tim menyebut sejumlah indikator mulai bergerak ke arah yang lebih sehat. Dalam riset yang dikutip Minggu (14/6/2026), mereka menilai kondisi IHSG sudah tidak seburuk fase penurunan sebelumnya.
Rupiah jadi sinyal penting
Penguatan rupiah menjadi salah satu tanda yang paling diperhatikan pelaku pasar. Secara historis, rupiah yang menguat kerap muncul saat IHSG sudah mendekati atau melewati titik terendah.
Prasetya menulis bahwa penguatan rupiah didorong oleh respons kebijakan Bank Indonesia yang makin tegas. Dalam satu bulan terakhir, BI telah menaikkan suku bunga acuan secara kumulatif 75 basis poin, termasuk kenaikan 25 bps pada 9 Juni 2026 sehingga BI-Rate berada di level 5,5%.
Arus dana asing mulai kembali
Sentimen positif juga datang dari aliran dana asing ke pasar saham domestik. Pada 12 Juni 2026, pasar saham Indonesia membukukan net foreign inflow sebesar Rp 287 miliar atau sekitar US$ 16 juta.
Itu menjadi aliran dana asing bersih pertama sejak 20 Mei 2026. Samuel Sekuritas menilai masuknya dana asing berpotensi memberi dukungan tambahan bagi rupiah dan membantu memperbaiki suasana pasar.
Valuasi IHSG masih murah
Selain faktor makro, valuasi saham Indonesia juga dinilai sudah sangat menarik. Pada 9 Juni, IHSG sempat naik 7,6% saat pasar diperdagangkan di rasio price to earnings atau P/E satu tahun ke depan sebesar 8,8 kali.
Posisi itu berada sekitar 11% di bawah batas minus dua standar deviasi historis dan 36% lebih rendah dari rata-rata lima tahun terakhir. Kondisi tersebut membuat investor mulai melihat peluang untuk melakukan akumulasi saham, terutama ketika harga dianggap sudah terlalu murah dibandingkan historisnya.
Tekanan sempat dalam, bahkan melampaui beberapa krisis
Sebelum tanda perbaikan muncul, IHSG sempat terkoreksi hingga 41% dari puncak ke titik terendah dalam sekitar 4,6 bulan. Penurunan itu lebih dalam dibanding sejumlah periode pelemahan besar sebelumnya.
Sebagai pembanding, IHSG turun 23,9% pada 2013, melemah 25,4% pada 2015, dan terkoreksi 37,7% saat pandemi Covid-19. Penurunan terdalam tetap terjadi pada krisis keuangan global 2008 dengan pelemahan 60,7%.
Menurut Samuel Sekuritas, pasar seolah sudah memberi harga pada skenario yang setara dengan krisis besar. Namun, mereka menilai kondisi fundamental saat ini tidak separah asumsi yang tercermin di pasar.
Kebijakan lain ikut menopang rupiah
Selain kebijakan moneter, beberapa langkah fiskal dan tata kelola juga dipandang dapat membantu stabilitas pasar. Pengeluaran pemerintah yang lebih rendah untuk program makan bergizi gratis serta rasionalisasi anggaran koperasi desa dinilai bisa ikut menjaga rupiah.
Di sisi lain, kebijakan tata kelola ekspor komoditas seperti batu bara, crude palm oil (CPO), dan ferro alloy juga berpotensi menekan praktik under-invoicing. Jika praktik itu berkurang, arus masuk devisa dolar AS ke Indonesia bisa membaik dan memberi dukungan tambahan bagi mata uang domestik.
Dengan kombinasi rupiah yang menguat, dana asing yang kembali masuk, dan valuasi IHSG yang masih murah, analis melihat pasar punya ruang untuk bergerak lebih stabil. Meski begitu, arah IHSG tetap akan sangat dipengaruhi oleh konsistensi kebijakan dan kemampuan menjaga kepercayaan investor dalam beberapa waktu ke depan.
Source: www.beritasatu.com






