Dewan Energi Nasional menilai cadangan daya atau reserve margin 30% yang selama ini kerap dijadikan ukuran keandalan listrik sudah tidak cukup untuk menjamin sistem kelistrikan nasional aman dari pemadaman. Penegasan itu muncul setelah DEN menemukan adanya selisih antara kapasitas terpasang dan daya mampu riil sejumlah pembangkit di lapangan.
Anggota DEN Satya Widya Yudha mengatakan ukuran di atas kertas tidak selalu mencerminkan kondisi sesungguhnya di sistem kelistrikan. “Kalau sekarang orang selalu melihat keandalan dari reserve margin yang 30%, temuan kami di lapangan itu tidak cukup,” ujarnya saat dihubungi Beritasatu.com.
Perbedaan kapasitas dan kemampuan nyata pembangkit
Satya menjelaskan, persoalan utama ada pada performa fisik pembangkit yang menurun seiring usia operasional. Salah satu contoh yang disorot DEN adalah PLTU Suralaya yang telah berusia 40 tahun.
Pembangkit itu memiliki kapasitas terpasang 3.600 megawatt, tetapi daya mampu riilnya kini terdeteksi sekitar 3.400 MW. Selisih 200 MW tersebut, menurut DEN, menjadi sinyal bahwa angka cadangan daya tidak boleh dibaca secara sederhana tanpa melihat kondisi aset pembangkit secara langsung.
DEN menilai temuan seperti ini penting karena dapat memengaruhi penilaian keandalan sistem secara keseluruhan. Jika evaluasi hanya bertumpu pada persentase cadangan di atas kertas, risiko gangguan pasokan tetap terbuka, terutama pada jaringan interkoneksi Jawa, Madura, dan Bali.
Risiko gangguan masih mengintai jaringan utama
Satya menilai deviasi antara kapasitas terpasang dan daya mampu riil bisa menjadi alarm bagi pengelolaan sistem kelistrikan nasional. Kondisi itu membuat potensi blackout atau pemadaman massal tetap perlu diwaspadai, khususnya di wilayah strategis yang bergantung pada pasokan dari sistem interkoneksi.
Dalam konteks itu, pemadaman yang terjadi di sejumlah titik juga menunjukkan bahwa sistem tidak hanya membutuhkan kapasitas besar, tetapi juga pembangkit yang benar-benar siap beroperasi sesuai kebutuhan. Sejumlah ruas jalan protokol di Surabaya bahkan sempat mengalami pemadaman hingga malam hari, dengan durasi yang berbeda-beda antara dua hingga lima jam per hari.
PLN lakukan pemulihan dan pengaturan operasi
Di sisi lain, PT PLN (Persero) menyebut terus mempercepat pemulihan sejumlah pembangkit yang mengalami gangguan untuk menjaga keandalan pasokan listrik di sistem Jawa. Perusahaan juga mengoptimalkan suplai dari pembangkit lain agar keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan listrik tetap terjaga.
Executive Vice President Komunikasi Korporat dan TJSL PLN Gregorius Adi Trianto mengatakan pihaknya masih fokus pada upaya pemulihan agar kondisi sistem kembali normal. “PLN terus bekerja sama melakukan percepatan pemulihan,” ujarnya.
PLN juga menyampaikan bahwa sistem kelistrikan Jawa saat ini masih beroperasi dalam kondisi terkendali. Meski begitu, perusahaan tetap menerapkan manajemen beban secara terbatas dan terukur di sejumlah wilayah untuk menjaga keandalan pasokan kepada pelanggan.
Sorotan pada cara membaca keandalan listrik
Temuan DEN dan langkah PLN memperlihatkan bahwa keandalan listrik tidak cukup diukur dari cadangan daya nominal. Kondisi teknis pembangkit, usia infrastruktur, dan kemampuan riil pasokan tetap menjadi faktor yang menentukan apakah sistem benar-benar aman dari gangguan.
