Panin Sekuritas menilai saham PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) secara netral di tengah sorotan atas valuasi yang mahal dan porsi saham publik yang masih sangat terbatas. Kondisi ini membuat ruang kenaikan saham dinilai belum sepenuhnya leluasa, meski perseroan tetap punya cerita pertumbuhan jangka panjang.
Sorotan utama ada pada free float CDIA yang masih di bawah 10 persen. Di saat yang sama, rasio enterprise value terhadap EBITDA atau EV/EBITDA emiten itu mencapai 132 kali, jauh di atas rata-rata industri sejenis yang berada di kisaran 5 kali.
Potensi tumbuh, tetapi tekanan jangka pendek masih besar
Analis Panin Sekuritas Sarkia Adelia melihat strategi ekspansi CDIA tetap bisa menjadi pendorong utama pertumbuhan ke depan. Menurut dia, ekspansi yang terdiversifikasi di tiap segmen bisnis serta dukungan ekosistem grup holding yang kuat memberi fondasi untuk pertumbuhan jangka panjang.
Namun, Sarkia juga mengingatkan bahwa sejumlah risiko jangka pendek masih membatasi apresiasi saham. Tekanan itu datang dari ramp-up aset, arus kas operasional atau OCF yang negatif, valuasi premium, serta free float yang masih berada di sekitar 10 persen.
Penilaian netral tersebut muncul pada Selasa (7/7/2026) dan menempatkan CDIA sebagai saham yang masih perlu dicermati ketat oleh investor. Bagi pasar, kombinasi valuasi tinggi dan likuiditas saham publik yang rendah kerap menjadi sinyal bahwa ekspektasi sudah lebih dulu tercermin di harga.
Ekosistem bisnis jadi penopang cerita ekspansi
CDIA merupakan lengan investasi infrastruktur Grup Chandra Asri dengan portofolio yang mencakup energi, logistik, pelabuhan, dan pengelolaan air. Posisi ini membuat perseroan berada di sektor yang membutuhkan modal besar, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan dari proyek-proyek jangka panjang.
Sarkia menilai strategi ekspansif yang dijalankan CDIA, jika terus berlanjut, dapat menjadi katalis penting bagi perusahaan. Ia menekankan bahwa diversifikasi bisnis dan dukungan grup holding memberi ruang bagi pertumbuhan di masa mendatang.
Di sisi lain, pasar masih menimbang seberapa cepat ekspansi itu bisa menghasilkan perbaikan kinerja yang berkelanjutan. Selama fase awal pengembangan aset masih berlangsung, investor cenderung memantau ketat beban operasional dan kemampuan perusahaan menjaga arus kas.
Kinerja logistik maritim naik, dana IPO masih tersedia
Salah satu penopang kinerja CDIA datang dari bisnis logistik maritim pasca-IPO. Pada kuartal I-2026, EBITDA segmen ini naik 67,6 persen secara tahunan menjadi US$9 juta, ditopang oleh tambahan lima kapal baru.
Perusahaan juga masih menyimpan sisa dana IPO sekitar Rp1,1 triliun. Dana itu disiapkan untuk pengadaan tiga kapal baru sepanjang 2026 serta proyek ethylene pipeline yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2027.
Kombinasi antara ekspansi aset, pertumbuhan EBITDA di lini logistik maritim, dan rencana penggunaan dana IPO menunjukkan bahwa CDIA masih berada dalam fase investasi agresif. Namun, selama valuasi tetap premium dan free float belum membesar, Panin Sekuritas menilai pasar akan tetap berhati-hati dalam memberi penilaian pada saham ini.







