Prancis membatalkan banyak pertunjukan kembang api Hari Bastille pada 14 Juli karena gelombang panas ekstrem meningkatkan risiko kebakaran hutan. Di sejumlah departemen, larangan penggunaan kembang api bahkan diberlakukan total.
Keputusan itu diambil di tengah kondisi cuaca yang terus menekan banyak wilayah. Menurut laporan www.medcom.id, sebagian pemerintah kotamadya di daerah lain juga memilih membatalkan acara tersebut secara mandiri.
Ancaman kebakaran hutan meluas
Kepala Direktorat Keamanan Sipil Prancis, Julien Marion, menyebut lebih dari 25.000 hektare lahan telah hangus terbakar akibat kebakaran hutan di seluruh negeri sejak awal 2026. Kebakaran itu berkobar di berbagai wilayah saat gelombang panas ekstrem melanda Prancis.
| Informasi | Rincian | Keterangan |
|---|---|---|
| Hari Bastille | 14 Juli | Banyak pertunjukan kembang api dibatalkan |
| Lahan terbakar | Lebih dari 25.000 hektare | Terjadi sejak awal 2026 |
| Status cuaca tertinggi | 72 dari 96 departemen | Dikeluarkan pada akhir Juni |
Status waspada cuaca tertinggi
Pada akhir Juni, badan meteorologi nasional Prancis mengeluarkan status waspada cuaca tingkat tertinggi di 72 dari 96 departemen. Langkah itu memecahkan rekor baru sepanjang sejarah pemantauan cuaca di negara tersebut.
Suhu udara di beberapa kawasan dilaporkan mendekati 40°C dan bahkan melampaui angka itu di sejumlah titik. Kondisi tersebut membuat perayaan musim panas yang biasanya meriah berubah menjadi situasi siaga di banyak daerah.
Dengan risiko kebakaran yang masih tinggi, pembatasan terhadap kembang api menjadi salah satu langkah pencegahan utama. Otoritas daerah kini menyesuaikan perayaan Hari Bastille dengan ancaman cuaca ekstrem yang belum mereda.
