Program B50 dipandang sebagai langkah penting untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan memangkas ketergantungan Indonesia pada impor BBM, terutama diesel. Pengamat energi sekaligus Sekretaris Jenderal Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI), Hadi Ismoyo, menilai kebijakan ini bukan sekadar pergantian bahan bakar, melainkan awal transisi menuju energi terbarukan berbasis sumber daya lokal.
Dengan posisi Indonesia sebagai produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia, peluang pengembangan biodiesel dinilai sangat besar. Hadi menyebut B50 penting untuk memutus mata rantai impor diesel sekaligus membuka jalan menuju energi yang lebih ramah lingkungan.
B50 dan dorongan kemandirian energi
Kepada mediaindonesia.com, Hadi mengatakan kehadiran B50 menjadi langkah strategis dalam upaya mengurangi impor BBM. Ia menekankan bahwa kebijakan ini relevan karena memanfaatkan potensi bahan baku domestik yang selama ini sudah kuat di sektor kelapa sawit.
Di sisi lain, B50 juga diposisikan sebagai bagian dari transisi energi yang lebih luas. Menurut Hadi, pemanfaatan biodiesel memberi peluang untuk menggeser penggunaan energi fosil secara bertahap tanpa meninggalkan basis sumber daya lokal.
| Indikator | Estimasi Pengurangan Emisi CO2 |
|---|---|
| Penggunaan Biodiesel Umum | 50% – 60% lebih rendah dari fosil |
| Kondisi Tertentu (Negara Maju) | Hingga 80% |
Jejak karbon lebih rendah, tetapi tata kelola tetap krusial
Dari sisi lingkungan, biodiesel dinilai memiliki jejak karbon yang lebih rendah dibanding bahan bakar fosil. Hadi menjelaskan bahwa emisi yang dihasilkan dari proses hulu kelapa sawit relatif lebih rendah dibanding kegiatan eksplorasi dan produksi minyak dan gas bumi.
Namun, manfaat itu hanya akan terasa optimal jika tata kelola dijaga dengan ketat. Hadi mengingatkan agar pengembangan sawit tidak mendorong deforestasi berlebihan, sementara efisiensi pengolahan juga perlu terus dibenahi.
Ia juga mendorong Pertamina dan industri pengolahan CPO untuk mengoptimalkan limbah pabrik sawit menjadi biogas. Energi itu, kata dia, bisa dikonversi menjadi listrik untuk mendukung kebutuhan operasional pabrik secara mandiri.
Distribusi jadi tantangan terbesar
Selain isu hulu, tantangan besar lain ada di sisi hilir. Luasnya wilayah Indonesia membuat biaya logistik distribusi biodiesel tetap tinggi, sehingga perlu pendekatan yang lebih efisien dan terintegrasi.
- Biaya logistik: komponen distribusi masih tinggi karena sebaran wilayah yang luas.
- Sistem klaster: distribusi perlu dikembangkan berbasis klaster yang terhubung ke pusat konsumsi utama.
- Inovasi teknologi: pengembangan zat aditif dibutuhkan agar performa mesin tetap optimal saat menggunakan B50.
- Edukasi: sosialisasi kepada masyarakat dan pelaku industri perlu diperluas agar biodiesel diterima lebih luas.
Hadi menilai keberhasilan program B50 tidak hanya bergantung pada ketersediaan bahan baku, tetapi juga pada sinergi teknologi, tata kelola yang transparan, dan inovasi yang berkelanjutan. Jika semua unsur itu berjalan, B50 berpotensi memberi manfaat ekonomi sekaligus lingkungan bagi Indonesia.
