Penerimaan Bea Cukai 2026 Terancam Tak Tembus Target, Purbaya Sudah Hitung Angkanya

Penerimaan negara dari Bea Cukai pada 2026 tampaknya tidak akan mencapai target yang dipasang dalam APBN. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyebut proyeksinya baru berada di level Rp320,6 triliun atau 95,4 persen dari target.

Angka itu menunjukkan ruang meleset yang sudah dihitung sejak awal, meski kinerjanya masih tumbuh dibanding tahun sebelumnya. Di tengah target Rp336 triliun, pemerintah tetap mencatat ada penopang yang membuat penerimaan tidak jatuh lebih dalam.

Outlook 2026 di bawah target APBN

Dalam Rapat Kerja dengan Badan Anggaran DPR RI, Purbaya memaparkan outlook penerimaan kepabeanan dan cukai hingga akhir tahun. www.suara.com mengutip pernyataannya bahwa penerimaan Bea Cukai diperkirakan mencapai Rp320,6 triliun dan tumbuh 6,8 persen year on year.

Dengan proyeksi itu, penerimaan Bea Cukai hanya akan memenuhi sebagian target APBN 2026. Selisih dari target menunjukkan bahwa kinerja sektor ini masih menghadapi tekanan, meski tren pertumbuhannya tetap positif.

Realisasi semester I masih tumbuh

Hingga semester I 2026, realisasi penerimaan Bea Cukai tercatat Rp152,0 triliun atau 45,2 persen dari target APBN 2026. Capaian tersebut tumbuh 3,4 persen year on year dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

KomponenRealisasi Semester I 2026Perubahan YoY
Total Bea CukaiRp152,0 triliun3,4 persen
CukaiRp109,4 triliun0,6 persen
Bea MasukRp26,3 triliun11,3 persen
Bea KeluarRp16,17 triliun11,7 persen

Kinerja itu ditopang oleh tiga sumber utama. Pertama, penerimaan cukai masih didukung produksi tembakau yang terjaga dan meningkatnya produksi minuman mengandung etil alkohol.

Produksi dan perdagangan global jadi penopang

Purbaya juga menjelaskan bahwa bea masuk ikut menguat karena kenaikan impor bahan baku dan bahan penolong untuk industri. Kondisi itu membantu menambah penerimaan sampai pertengahan tahun.

Di sisi lain, penerimaan bea keluar terdorong penguatan harga minyak kelapa sawit mentah atau crude palm oil di pasar global. Faktor harga komoditas tersebut memberi kontribusi pada kenaikan hingga 11,7 persen year on year.

Meski ada pertumbuhan di beberapa pos, outlook akhir tahun tetap berada di bawah target APBN. Gambaran ini menunjukkan bahwa Bea Cukai masih mengandalkan kombinasi produksi domestik, aktivitas impor industri, dan harga komoditas global untuk menjaga laju penerimaan.

Source: www.suara.com
Terkait