AJB Bumiputera 1912 membukukan pembalikan kinerja pada semester I/2026 dengan laba setelah pajak Rp360,34 miliar. Angka itu kontras dengan rugi setelah pajak Rp406,84 miliar yang tercatat pada periode sama tahun sebelumnya.
Perbaikan laba tersebut terjadi ketika pendapatan perusahaan turun tajam dan aset terus menyusut. Kondisi neraca juga masih menjadi perhatian karena liabilitas AJB Bumiputera 1912 melampaui total asetnya.
Laba Berbalik Positif di Tengah Pendapatan Merosot
Berdasarkan publikasi laporan keuangan semester I/2026 yang dikutip finansial.bisnis.com, pendapatan perusahaan hingga 30 Juni 2026 hanya mencapai Rp53,72 miliar. Nilai ini turun 86,07% dibandingkan pendapatan Rp385,64 miliar pada semester I/2025.
Total laba komprehensif juga berubah menjadi positif sebesar Rp321,52 miliar. Pada periode yang sama setahun sebelumnya, perusahaan membukukan rugi komprehensif Rp419,26 miliar.
Hasil investasi menjadi salah satu pos yang tetap tumbuh pada enam bulan pertama 2026. Nilainya mencapai Rp67,24 miliar, meningkat 1,32% dari Rp66,36 miliar pada semester I/2025.
| Pos Keuangan | Semester I/2026 | Semester I/2025 |
|---|---|---|
| Pendapatan | Rp53,72 miliar | Rp385,64 miliar |
| Laba setelah pajak | Rp360,34 miliar | Rugi Rp406,84 miliar |
| Total laba komprehensif | Rp321,52 miliar | Rugi Rp419,26 miliar |
| Hasil investasi | Rp67,24 miliar | Rp66,36 miliar |
Aset dan Investasi Turun
Total aset AJB Bumiputera 1912 pada akhir Juni 2026 tercatat Rp8,89 triliun, turun 10,08% secara tahunan dari Rp9,89 triliun. Nilai investasi juga menyusut 6,98% menjadi Rp5,09 triliun.
Liabilitas perusahaan turun 6,80% menjadi Rp11,56 triliun. Namun, jumlah kewajiban itu masih lebih tinggi daripada aset, sehingga ekuitas perusahaan tetap berada di zona negatif.
Ekuitas pada akhir semester I/2026 tercatat minus Rp2,67 triliun. Posisi tersebut lebih dalam dibandingkan ekuitas minus Rp2,52 triliun pada periode yang sama tahun lalu.
Bangunan dan Tanah Mendominasi Portofolio
Portofolio investasi perusahaan masih didominasi bangunan dan tanah untuk investasi senilai Rp3,55 triliun. Komponen ini menjadi bagian terbesar dari investasi yang dilaporkan hingga akhir Juni 2026.
Selain properti investasi, perusahaan memiliki penyertaan langsung Rp540,61 miliar dan Surat Berharga Negara atau SBN Rp503,10 miliar. Dana juga ditempatkan dalam deposito berjangka Rp137,23 miliar serta reksa dana Rp120,10 miliar.
| Instrumen Investasi | Nilai per Juni 2026 |
|---|---|
| Bangunan dan tanah untuk investasi | Rp3,55 triliun |
| Penyertaan langsung | Rp540,61 miliar |
| Surat Berharga Negara | Rp503,10 miliar |
| Deposito berjangka | Rp137,23 miliar |
| Reksa dana | Rp120,10 miliar |
Rasio Solvabilitas Masih Negatif
Dari sisi Solvabilitas Asuransi Jiwa, rasio pencapaian solvabilitas tercatat negatif 721,31%. Meski demikian, angkanya sedikit membaik dibandingkan posisi negatif 741,84% pada semester I/2025.
Rasio kecukupan investasi meningkat menjadi 22,51% dari 21,76% setahun sebelumnya. Rasio hasil investasi terhadap premi neto juga melonjak menjadi 229,41% dari 67,40%.
Di sisi lain, rasio likuiditas turun menjadi 15,39% dari 16,40%. Rasio beban klaim, beban usaha, dan komisi tercatat 1.383,30%, membaik dari 1.488,33% pada periode yang sama tahun lalu.
Data tersebut memperlihatkan pembalikan laba belum diikuti pemulihan menyeluruh pada struktur keuangan perusahaan. Penurunan aset, ekuitas negatif, serta rasio solvabilitas yang masih minus tetap menjadi bagian penting dalam membaca Kinerja Keuangan Asuransi AJB Bumiputera 1912.
